Sep 10, 2026
Hukum

JAKARTA — Edukasi Safety Riding Sasar Generasi Muda Demi Tekan Kecelakaan

Deru mesin sepeda motor saling bersahutan memecah kepadatan jalan raya saban pagi. Di antara ribuan kendaraan roda dua yang memadati jalur utama kota, tamp

JAKARTA — Edukasi Safety Riding Sasar Generasi Muda Demi Tekan Kecelakaan

Deru mesin sepeda motor saling bersahutan memecah kepadatan jalan raya saban pagi. Di antara ribuan kendaraan roda dua yang memadati jalur utama kota, tampak sejumlah remaja menyalip di celah sempit tanpa memperhitungkan jarak aman. Fenomena ini bukan sekadar pemandangan biasa, melainkan cerminan dari persoalan krusial yang kerap dianggap sepele: rendahnya kesadaran keselamatan berkendara di kalangan generasi muda. Sepeda motor telah menjadi moda transportasi utama harian, namun prinsip keselamatan berkendara atau safety riding kerap terhempas oleh budaya terburu-buru dan kepedulian yang minim terhadap risiko jalanan.

Penelusuran mendalam terhadap data keselamatan lalu lintas menunjukkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Generasi muda yang berada pada rentang usia produktif justru menjadi kelompok paling dominan dalam catatan fatalitas jalan raya. Kebiasaan memacu kendaraan melampaui batas kecepatan, tidak menggunakan helm sesuai standar, hingga mengabaikan rambu lalu lintas menjadi kombinasi mematikan yang terus berulang setiap hari.

Potret Kelam Jalan Raya: Angka Kecelakaan Usia Muda

Berdasarkan data Kepolisian Negara Republik Indonesia, moda transportasi roda dua berkontribusi terhadap lebih dari 74 persen dari total kejadian kecelakaan lalu lintas secara nasional. Dari angka kecelakaan yang fantastis tersebut, kelompok usia 15 hingga 24 tahun menduduki porsi tertinggi sebagai korban meninggal dunia maupun luka berat.

Faktor Perilaku Risikonya Dampak Fatalitas Utama Kelompok Usia Dominan
Tanpa Helm Berstandar SNI Risiko cedera kepala berat naik 85% 15 - 19 Tahun
Kecepatan Berlebih (Over-speeding) Menurunkan drastis waktu reaksi pengereman 18 - 24 Tahun
Penggunaan Gawai Saat Berkendara Distraksi kognitif & visual hingga 40% 15 - 24 Tahun

Kondisi ini menegaskan bahwa kepemilikan Surat Izin Mengemudi (SIM) atau kelancaran mengendarai motor belum menjamin pemahaman pengendara terhadap keselamatan. Banyak pengendara pemula menganggap jalan raya sebagai ruang tanpa aturan di mana keberanian palsu lebih diutamakan ketimbang kewaspadaan.

Menembus Benteng Perilaku: Mengapa Anak Muda Rentan?

Secara psikologis, kelompok usia remaja dan dewasa muda memiliki kecenderungan alami untuk mencari sensasi serta mendapatkan pengakuan sosial. Rasa percaya diri yang berlebihan melahirkan imajinasi bahaya yang rendah, di mana mereka merasa kecelakaan hanya akan terjadi pada orang lain.

"Mayoritas pengendara muda memandang keselamatan berkendara sebagai beban, bukan kebutuhan primer. Perilaku ugal-ugalan kerap dianggap sebagai bentuk keberanian, padahal jalan raya adalah ruang publik yang penuh dengan variabel risiko yang tidak bisa diprediksi," ujar Dr. Bambang Setiadi, pakar psikologi transportasi.

Selain faktor psikologis, minimnya pelatihan berkendara yang terstruktur dan komprehensif menjadi celah besar. Sebagian besar pengendara muda memperoleh keterampilan mengemudi secara otodidak dari lingkungan keluarga atau teman sebaya tanpa pernah dibekali pengetahuan teknik pengereman darurat, antisipasi bahaya, maupun etika berlalu lintas.

Membangun Budaya Baru: Dari Edukasi ke Tindakan Nyata

Menanggapi krisis yang berkepanjangan ini, gerakan edukasi safety riding mulai digencarkan secara progresif dengan langsung menyasar sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi. Langkah intervensi ini krusial untuk memutus mata rantai budaya berkendara yang buruk sebelum mengakar menjadi kebiasaan permanen.

Program edukasi tidak lagi hanya berisi ceramah teori yang membosankan. Berbagai pelatihan kini mengusung pendekatan praktis interaktif, mulai dari simulasi berkendara berbasis teknologi, uji waktu reaksi pengereman, hingga pelatihan memprediksi bahaya di jalan raya. Kampanye ini menggandeng korps lalu lintas, akademisi, hingga praktisi otomotif demi membangun persepsi baru bahwa tertib berlalu lintas adalah bagian dari gaya hidup modern.

"Keselamatan berkendara bukan tentang mengurangi kenikmatan di jalan, melainkan memastikan bahwa kita tiba di tempat tujuan dengan selamat untuk bisa berkendara kembali besok," ungkap salah satu instruktur keselamatan berkendara nasional dalam sebuah sesi edukasi.

Upaya mentransformasi mentalitas berkendara membutuhkan konsistensi dan sinergi jangka panjang. Penegakan hukum yang tegas berbasis teknologi penindakan otomatis seperti ETLE harus berjalan selaras dengan pembentukan karakter di ranah pendidikan formal dan keluarga. Tanpa kesadaran kolektif untuk menempatkan keselamatan di atas segalanya, jalan raya akan terus menjadi tempat yang ramah bagi tragedi kemanusiaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User