Oct 13, 2026
Bisnis

IVES 2026 Luncurkan Alat Ukur Dampak Ekonomi Event Nasional

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per awal 2026, sektor event dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) menyumbang sekitar 4,2 persen terhadap Produk Domestik Bru...

IVES 2026 Luncurkan Alat Ukur Dampak Ekonomi Event Nasional

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per awal 2026, sektor event dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) menyumbang sekitar 4,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional, atau setara Rp 780 triliun pada 2025. Angka ini naik dari 3,7 persen pada 2023, menandakan tren pertumbuhan yang konsisten year-on-year. Namun, selama ini para pelaku industri mengeluhkan absennya metodologi baku untuk mengukur dampak ekonomi sebuah acara secara transparan dan terstandar.

Menjawab kebutuhan itu, Indonesia Event Management Summit (IVES) 2026 memperkenalkan sebuah kalkulator pengukur dampak ekonomi event. Alat ini dirancang untuk menghitung efek langsung, tidak langsung, dan terinduksi dari sebuah penyelenggaraan acara terhadap perekonomian daerah maupun nasional. Pendekatan yang digunakan mengacu pada model input-output dan multiplier effect yang biasa dipakai dalam analisis ekonomi pariwisata.

Mengapa Pengukuran Dampak Ekonomi Event Penting?

Selama ini, nilai ekonomi sebuah event sering kali hanya diukur dari jumlah pengunjung atau pendapatan tiket. Padahal, dampak sesungguhnya jauh lebih luas: mulai dari belanja akomodasi, transportasi, konsumsi kuliner, hingga efek berantai terhadap UMKM lokal. Dengan kalkulator ini, penyelenggara dapat memproyeksikan kontribusi ekonomi secara lebih akurat, termasuk menghitung rasio pengganda (multiplier ratio) dari setiap rupiah yang dibelanjakan.

Dalam konteks makro, alat ini berpotensi memperkuat fundamental industri event sebagai sektor yang terukur dan bankable. Selama ini, banyak event berskala nasional yang kesulitan mengakses pembiayaan karena tidak mampu menyajikan data dampak ekonomi yang kredibel. Dengan adanya standarisasi pengukuran, valuasi sebuah event dapat lebih objektif, sehingga menarik minat investor dan sponsor.

"Tanpa data yang valid, industri event selalu dianggap sekadar kegiatan seremonial. Padahal, kontribusinya terhadap perekonomian daerah bisa sangat signifikan, terutama untuk kota-kota yang menjadikan event sebagai motor penggerak pariwisata," ujar seorang pelaku industri dalam forum tersebut.

Di Satu Sisi: Mendorong Transparansi dan Investasi

Kehadiran kalkulator ini dipandang positif oleh sebagian analis. Dengan metodologi yang terstandar, pemerintah daerah dapat menjadikan hasil pengukuran sebagai dasar penyusunan anggaran, insentif fiskal, hingga kebijakan promosi. Ini juga mempermudah perbandingan antar-event, sehingga alokasi sumber daya menjadi lebih efisien. Bagi penyelenggara, angka dampak ekonomi yang terukur dapat menjadi alat negosiasi dengan sponsor dan mitra strategis.

Selain itu, transparansi data berpotensi menurunkan risiko sentimen pasar negatif terhadap industri event yang selama ini dianggap volatile. Dengan proyeksi yang lebih baik, likuiditas penyelenggara event bisa meningkat karena lembaga keuangan lebih percaya pada kelayakan bisnisnya.

Di Sisi Lain: Tantangan Akurasi dan Kesiapan Data

Namun, tidak semua pihak optimistis. Beberapa ekonom mengingatkan bahwa akurasi kalkulator sangat bergantung pada kualitas data masukan. Jika data belanja pengunjung, okupansi hotel, atau arus transportasi tidak valid, maka hasil perhitungan bisa menyesatkan. Ada pula kekhawatiran bahwa alat ini justru mendorong praktik "pembengkakan" angka dampak ekonomi untuk kepentingan politik anggaran.

Selain itu, kesenjangan kapasitas antar-daerah menjadi tantangan tersendiri. Kota besar seperti Jakarta, Bali, atau Surabaya mungkin siap secara data, tetapi daerah dengan sumber daya terbatas bisa kesulitan mengoperasikan kalkulator ini secara optimal. Tanpa pendampingan dan pelatihan, alat ini berisiko menjadi sekadar formalitas tanpa dampak nyata.

Dari kacamata investasi, kehadiran kalkulator ini belum tentu langsung mengubah capital outflow atau inflow di sektor event. Pasar tetap membutuhkan bukti empiris bahwa pengukuran ini benar-benar menghasilkan keputusan bisnis yang lebih baik. Diperlukan waktu untuk melihat apakah tren adopsi alat ini berjalan sesuai harapan.

Proyeksi ke Depan

Jika diimplementasikan secara konsisten, kalkulator dampak ekonomi event dapat menjadi fondasi penting bagi industrialisasi sektor event di Indonesia. Pemerintah dapat menjadikannya instrumen kebijakan berbasis data, sementara pelaku usaha memperoleh kejelasan dalam menyusun portofolio kegiatan. Namun, kunci keberhasilannya ada pada kualitas data, kapasitas SDM, dan integritas dalam pelaporan.

Dalam jangka menengah, standarisasi ini berpotensi meningkatkan indeks kepercayaan investor terhadap sektor ekonomi kreatif. Dengan begitu, event tidak lagi dipandang sebagai biaya, melainkan sebagai investasi ekonomi yang terukur. Yang jelas, langkah IVES 2026 ini menandai babak baru: dari sekadar merayakan acara, menuju menghitung dampaknya secara rasional dan akuntabel.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User