ISSI Turun, Reksadana dan Sukuk Jadi Alternatif

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir Oktober 2024, kinerja Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) sepanjang tahun berjalan (year-to-date) masih mencatatkan penurunan. Hingga 31 Oktob...

Aug 07, 2026 - 07:42
0 0
ISSI Turun, Reksadana dan Sukuk Jadi Alternatif

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per akhir Oktober 2024, kinerja Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) sepanjang tahun berjalan (year-to-date) masih mencatatkan penurunan. Hingga 31 Oktober 2024, ISSI berada di level 218,45, turun sekitar 2,3% dibandingkan posisi akhir Desember 2023 yang sebesar 223,60. Penurunan ini terjadi di tengah volatilitas pasar keuangan global yang dipicu oleh ketidakpastian suku bunga The Fed dan eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

Di sisi lain, instrumen syariah berbasis pendapatan tetap seperti reksadana syariah dan sukuk negara justru menunjukkan kinerja positif. Data OJK mencatat, rata-rata imbal hasil reksadana syariah jenis pendapatan tetap mencapai 6,8% year-to-date, sementara sukuk ritel seri SR019 menawarkan kupon 6,35% per tahun. Hal ini menunjukkan pergeseran preferensi investor dari aset berisiko ke instrumen yang lebih stabil.

Faktor Pendorong Pelemahan ISSI

Pelemahan ISSI tidak terlepas dari sentimen eksternal dan internal. Secara eksternal, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed yang semula diharapkan terjadi pada September 2024 tertunda karena data inflasi AS yang masih di atas target 2%. Akibatnya, dolar AS menguat dan terjadi capital outflow dari pasar emerging market, termasuk Indonesia. Bank Indonesia mencatat, arus keluar modal asing dari pasar saham syariah mencapai Rp 4,2 triliun pada kuartal III 2024.

Secara internal, fundamental emiten syariah juga menghadapi tekanan. Margin laba bersih rata-rata emiten ISSI turun dari 8,5% pada 2023 menjadi 7,9% pada 2024, terutama disebabkan oleh kenaikan biaya bahan baku dan pelemahan nilai tukar rupiah yang berada di level Rp 15.800 per dolar AS. Sektor energi dan batu bara yang memiliki bobot besar di ISSI (sekitar 18%) juga mengalami penurunan harga komoditas global, sehingga menekan pendapatan emiten di sektor tersebut.

Pro: Penurunan ISSI masih tergolong moderat jika dibandingkan indeks saham konvensional seperti IHSG yang turun 1,8% pada periode yang sama. Likuiditas pasar saham syariah tetap terjaga dengan rata-rata nilai transaksi harian Rp 8,9 triliun, menunjukkan bahwa investor belum sepenuhnya meninggalkan pasar ini. Kontra: Namun, valuasi ISSI yang masih di atas rata-rata historis (price-to-earnings ratio 14,2x vs rata-rata 13,5x) membuat investor asing cenderung menunggu hingga harga lebih murah.

Reksadana Syariah dan Sukuk Menjadi Pilihan

Di tengah tekanan pasar saham, reksadana syariah dan sukuk justru menarik minat investor. Data OJK menunjukkan, dana kelolaan reksadana syariah naik 5,4% year-to-date menjadi Rp 61,2 triliun, dengan aliran dana masuk bersih (net subscription) sebesar Rp 3,1 triliun pada Oktober 2024. Produk yang paling diminati adalah reksadana pasar uang syariah dan reksadana pendapatan tetap, yang menawarkan imbal hasil lebih stabil dengan risiko rendah.

Sukuk negara juga mencatatkan kinerja positif. Harga sukuk negara seri FR (Surat Berharga Syariah Negara) mengalami kenaikan, sehingga imbal hasil (yield) turun dari 6,9% pada awal tahun menjadi 6,5% pada akhir Oktober. Hal ini mencerminkan permintaan yang kuat dari investor domestik dan asing yang mencari alternatif aman di tengah ketidakpastian pasar saham. Pemerintah juga telah menerbitkan sukuk ritel SR019 dengan oversubscription 2,1 kali, menunjukkan tingginya minat investor ritel.

Pro: Instrumen syariah berbasis pendapatan tetap memberikan kepastian kupon dan memiliki risiko gagal bayar yang rendah karena didukung oleh underlying asset (aset dasar) yang jelas. Kontra: Namun, imbal hasil reksadana syariah masih lebih rendah dibandingkan inflasi yang mencapai 2,8% year-on-year, sehingga daya beli investor belum sepenuhnya terlindungi. Selain itu, sukuk ritel memiliki masa tenor yang panjang (3 tahun) dan kurang likuid di pasar sekunder.

Proyeksi dan Strategi Investor

Ke depan, prospek ISSI masih bergantung pada kebijakan moneter global dan domestik. Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 6,0% hingga akhir tahun, namun peluang penurunan pada kuartal I 2025 terbuka jika inflasi tetap rendah. Jika The Fed mulai memangkas suku bunga pada Desember 2024, capital inflow ke pasar saham syariah dapat kembali terjadi, mendorong ISSI menguat. Namun, risiko geopolitik dan perlambatan ekonomi China tetap menjadi faktor yang membatasi kenaikan indeks.

Berdasarkan data historis, ISSI cenderung menguat pada kuartal IV karena faktor window dressing oleh manajer investasi. Rata-rata kenaikan ISSI pada kuartal IV selama lima tahun terakhir adalah 2,1%. Namun, investor perlu mencermati valuasi sektoral, terutama sektor teknologi dan kesehatan yang memiliki rasio price-to-book value di atas 4x, sehingga rawan koreksi.

Pro: Diversifikasi ke reksadana syariah dan sukuk dapat mengurangi risiko portofolio secara keseluruhan, terutama bagi investor dengan profil risiko moderat. Kontra: Namun, alokasi yang terlalu besar ke instrumen pendapatan tetap dapat mengurangi potensi capital gain yang lebih tinggi dari saham, terutama jika pasar saham mengalami rebound tajam.

OJK juga mengingatkan investor untuk memperhatikan likuiditas dan kualitas kredit dari penerbit sukuk korporasi, yang rata-rata memiliki peringkat idA (kategori investment grade). Dengan demikian, investor dapat memilih instrumen yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User