Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 30 September 2025, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global. Produk Domestik Bruto (PDB) (total nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam periode tertentu) tercatat mengalami kenaikan sebesar 5,12% secara year-on-year (perbandingan dengan periode yang sama tahun sebelumnya), turun tipis apabila dibandingkan dengan capaian 5,31% pada tahun 2024. Di tengah perlambatan ini, salah satu tren (pergerakan suatu indikator secara berkelanjutan dalam jangka waktu tertentu) yang terus menguat adalah pergeseran pembicaraan global menuju pertumbuhan berkelanjutan. Hal ini turut membuka ruang bagi peran Indonesia dalam percakapan tersebut, khususnya melalui ajang yang berfokus pada sinergi antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Tren Global yang Mendorong Perubahan
Di satu sisi, dorongan menuju ekonomi hijau (pembangunan ekonomi yang berupaya menyeimbangkan pertumbuhan, pemerataan dan perlindungan lingkungan) telah menjadi bagian dari fundamental (kekuatan dasar suatu perekonomian, seperti produksi, konsumsi dan investasi) perekonomian dunia. Berdasarkan data Climate Bonds Initiative, pasar obligasi hijau (surat utang yang dana penggunaannya dialokasikan untuk proyek ramah lingkungan) secara global mengalami kenaikan yang signifikan, dengan nilai emisi mencapai USD 575 miliar pada tahun 2023, atau naik 15% secara year-on-year. Angka ini turut berkontribusi terhadap pembentukan indeks (ukuran statistik untuk memantau pergerakan suatu kelompok data) terkait lingkungan, sosial dan tata kelola yang kian banyak digunakan untuk menilai kinerja suatu negara maupun korporasi.
Di sisi lain, sentimen pasar (persepsi dan ekspektasi pelaku pasar terhadap suatu kondisi ekonomi) terhadap transisi hijau tidak selalu bersifat seragam. Tekanan terhadap biaya energi, khususnya bagi negara yang masih bergantung pada bahan bakar fosil, dapat membebani daya beli masyarakat. Hal ini berpotensi memengaruhi likuiditas (kemudahan suatu aset untuk dikonversi menjadi uang tunai tanpa menurunkan nilainya secara signifikan), rasio (perbandingan antar angka ekonomi, seperti rasio utang terhadap PDB) fiskal, serta menimbulkan risiko capital outflow (arus keluar modal asing dari suatu negara ke negara lain) apabila pelaku pasar menilai transisi berjalan terlalu cepat tanpa disertai dukungan pembiayaan yang memadai. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam proyeksi (perkiraan kondisi ekonomi di masa depan berdasarkan data dan asumsi) jangka menengah bagi banyak negara berkembang.
Dampak Terhadap Perekonomian Domestik
Bagi Indonesia, pergeseran global ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat posisi dalam rantai nilai hijau. Berdasarkan proyeksi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, kebutuhan pembiayaan untuk mencapai target iklim Indonesia diperkirakan mencapai USD 281 miliar hingga tahun 2030. Angka ini setara dengan sekitar 4,3% dari proyeksi rata-rata PDB tahunan dalam periode tersebut. Alokasi pembiayaan berskala tersebut berpotensi mendorong perluasan lapangan kerja hijau, diversifikasi portofolio (kumpulan aset yang dimiliki untuk mencapai tujuan tertentu) investasi, serta perbaikan valuasi (perkiraan nilai wajar suatu aset berdasarkan data ekonomi) terhadap sektor-sektor yang berorientasi pada efisiensi sumber daya.
Di satu sisi, perluasan sektor ini dapat menjadi penopang baru bagi fundamental perekonomian apabila dikaitkan dengan keunggulan komparatif Indonesia, seperti potensi sumber daya terbarukan yang besar. Namun, di sisi lain, realisasi kebutuhan pembiayaan tersebut masih menghadapi tantangan. Berdasarkan data OJK, nilai obligasi berwawasan lingkungan yang beredar di pasar domestik masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan kebutuhan, sehingga ketergantungan terhadap pembiayaan luar negeri tidak dapat sepenuhnya dihindari. Hal ini dapat meningkatkan sensitivitas terhadap capital outflow, khususnya apabila terjadi pengetatan likuiditas global yang kerap direspons oleh pergerakan indeks (ukuran statistik untuk memantau pergerakan pasar) pasar uang dan pasar modal.
"Transisi menuju ekonomi rendah karbon merupakan keniscayaan, namun kecepatan dan urutan kebijakan harus mempertimbangkan kapasitas fiskal, daya beli masyarakat, serta stabilitas makroekonomi, khususnya bagi negara berkembang." - Dr. Telisa Aulia Falianty, Dosen dan Peneliti Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
Menjaga Keseimbangan di Tengah Tekanan
Peran dalam percakapan global mengenai pertumbuhan berkelanjutan dapat memberikan manfaat berupa peningkatan kepercayaan, perluasan akses pembiayaan dan penguatan sentimen pasar jangka menengah. Namun, manfaat tersebut perlu diimbangi dengan kehati-hatian terhadap risiko makro. Bank Indonesia mencatat bahwa tren pengetatan moneter di sejumlah negara maju pada tahun 2024 turut memengaruhi arus modal, dengan tekanan terhadap nilai tukar dan likuiditas domestik yang masih terjaga, namun tetap memerlukan pengelolaan rasio cadangan yang tepat. Selain itu, penilaian terhadap valuasi proyek hijau perlu dilakukan secara terukur, mengingat tidak seluruh proyek yang diklaim ramah lingkungan dapat memberikan dampak ekonomi yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Di satu sisi, sinergi antara sektor publik dan swasta dapat membantu menutup kesenjangan pembiayaan tanpa membebani rasio utang secara berlebihan, khususnya melalui instrumen yang dapat menarik partisipasi dalam portofolio investasi domestik. Di sisi lain, tanpa jaminan ketersediaan likuiditas dan perlindungan terhadap risiko capital outflow, proyeksi perluasan investasi hijau dapat melambat, sehingga sentimen pasar berpotensi berbalik meski fundamental jangka panjang tetap positif. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan transisi tidak hanya bergantung pada ambisi, namun juga pada konsistensi kebijakan dan daya tahan sistem keuangan.
Prospek Jangka Menengah
Melihat tren yang ada, ekonomi hijau diperkirakan akan terus menjadi salah satu pilar pembahasan global dalam beberapa tahun mendatang. Berdasarkan proyeksi International Energy Agency, investasi global untuk energi bersih diperkirakan tetap berada di atas USD 2 triliun per tahun hingga tahun 2030, sebuah angka yang jauh melampaui investasi untuk bahan bakar fosil. Bagi Indonesia, peluang untuk turut berkontribusi terhadap tren ini dapat memperluas basis pertumbuhan, namun hanya apabila dapat menjaga keseimbangan antara target lingkungan, stabilitas makroekonomi dan pemerataan kesejahteraan.
Dengan demikian, peran dalam dialog global mengenai pertumbuhan berkelanjutan perlu dilihat secara berimbang. Di satu sisi, ruang tersebut dapat memperkuat fundamental perekonomian melalui perluasan portofolio, perbaikan valuasi dan peningkatan likuiditas pembiayaan. Di sisi lain, tantangan berupa rasio pembiayaan, risiko capital outflow, serta tekanan terhadap daya beli masyarakat tetap menjadi batasan yang nyata. Tanpa mengesampingkan salah satu sisi tersebut, transisi hijau berpotensi berjalan berkelanjutan, bukan hanya secara ekologis, namun juga secara ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Comments (0)