Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan penyelenggara pameran per Oktober 2026, ajang INACRAFT yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC) menargetkan nilai transaksi mencapai Rp100 miliar. Angka ini menjadi indikator penting bagi denyut industri kriya nasional, sektor yang menyerap tenaga kerja besar namun kerap luput dari sorotan statistik makro. Pameran yang diikuti ratusan perajin lokal ini sekaligus menjadi laboratorium uji bagi adopsi teknologi dalam proses produksi kerajinan.
Angka Rp100 miliar tersebut perlu dibaca dalam konteks yang lebih luas. Sepanjang 2025, ekspor produk kriya Indonesia tercatat sekitar USD750 juta atau setara Rp12 triliunan, dengan pertumbuhan year-on-year berkisar 5 hingga 7 persen. Artinya, target transaksi satu pameran ini hanya sekitar 0,8 persen dari total nilai ekspor kriya tahunan. Bagi sebagian pengamat, target tersebut terbilang moderat. Namun bagi pelaku usaha mikro dan kecil yang mendominasi sektor ini, Rp100 miliar adalah likuiditas yang signifikan untuk memutar modal kerja dan menyerap pesanan lanjutan.
Pro: Pameran sebagai Katalis Inovasi dan Akses Pasar
Di satu sisi, penyelenggaraan pameran berskala internasional memberikan kanal distribusi yang sulit dijangkau perajin secara mandiri. Pelaku usaha kriya umumnya terkendala akses ke pembeli grosir luar negeri, sertifikasi, hingga logistik ekspor. Kehadiran pembeli dari berbagai negara dalam satu lokasi memangkas biaya pencarian mitra (search cost) dan mempercepat siklus negosiasi.
Dorongan inovasi berbasis teknologi juga menjadi nilai tambah. Beberapa peserta mulai memanfaatkan desain digital, pemotongan presisi berbasis komputer, hingga pemasaran melalui kanal e-commerce lintas negara. Sentimen pasar terhadap produk kriya yang mengangkat narasi keberlanjutan (sustainability) cenderung positif, terutama di pasar Eropa dan Jepang yang menerapkan standar lingkungan ketat. Jika tren ini berlanjut, valuasi merek kriya lokal berpotensi naik dan menarik minat investor pada sektor ekonomi kreatif.
"Pameran bukan sekadar ajang jualan, tetapi ajang kurasi. Perajin yang mampu beradaptasi dengan preferensi pasar global akan bertahan; yang tidak, akan tergerus," ujar seorang pengamat ekonomi kreatif dalam diskusi industri baru-baru ini.
Kontra: Ketergantungan pada Momentum dan Risiko Pasca-Pameran
Di sisi lain, mengandalkan pameran sebagai mesin pertumbuhan menyimpan kerentanan struktural. Transaksi yang terjadi cenderung bersifat musiman dan terkonsentrasi pada periode tertentu. Setelah pameran berakhir, banyak perajin menghadapi kekosongan pesanan (order gap) yang mengganggu kesinambungan produksi dan stabilitas arus kas. Tanpa kontrak jangka panjang, lonjakan permintaan hanya menjadi sentimen pasar sesaat, bukan fundamental usaha yang kokoh.
Persoalan pembiayaan juga membayangi. Berdasarkan data OJK per 2026, rasio kredit usaha mikro terhadap total kredit perbankan masih berada di kisaran 19 persen, meski porsinya terus naik. Artinya, akses perajin terhadap modal formal tetap terbatas. Banyak pelaku usaha kriya bergantung pada dana talangan pribadi atau rentenir ketika harus memenuhi pesanan besar pasca-pameran, sehingga margin keuntungan tergerus bunga tinggi.
Faktor eksternal turut menjadi risiko. Ketidakpastian ekonomi global dapat memicu capital outflow dari pasar negara berkembang, melemahkan nilai tukar rupiah, dan menaikkan harga bahan baku impor seperti pewarna, logam, serta komponen mesin. Bila biaya produksi naik sementara harga jual sulit dinaikkan, daya saing produk kriya Indonesia di pasar internasional bisa tergerus.
Proyeksi dan Tantangan Fundamental
Melihat rekam jejak, proyeksi transaksi Rp100 miliar masih dalam jangkauan apabila jumlah pengunjung dan pembeli grosir memenuhi ekspektasi. Namun keberhasilan jangka panjang tidak cukup diukur dari satu angka. Yang lebih menentukan adalah seberapa besar transaksi berlanjut menjadi kontrak tetap, seberapa dalam teknologi teradopsi dalam rantai produksi, dan seberapa luas akses pembiayaan formal terbuka bagi perajin di daerah.
Indeks kepercayaan pelaku usaha kriya, jika diukur, kemungkinan menunjukkan tren positif dalam jangka pendek seiring gelaran pameran. Tetapi tanpa perbaikan struktural—mulai dari standardisasi mutu, perlindungan hak kekayaan intelektual, hingga insentif pajak bagi eksportir kecil—momentum ini berisiko menguap. Portofolio kebijakan yang berpihak pada hilirisasi kriya dan penguatan likuiditas usaha mikro akan menjadi penentu apakah sektor ini naik kelas atau sekadar bertahan.
Dengan demikian, INACRAFT 2026 layak dibaca sebagai cermin dua sisi: peluang besar di depan mata, sekaligus ujian fundamental bagi industri kriya nasional untuk membuktikan bahwa pertumbuhan ini berkelanjutan, bukan sekadar riak sentimen pasar.
Comments (0)