Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per Oktober 2026, sektor pariwisata mencatatkan tren pemulihan yang kian solid menjelang penutupan tahun. Salah satu pendorong utamanya adalah gelaran pameran industri perjalanan berskala nasional di Jakarta yang digelar pada awal Oktober 2026. Ajang ini dinilai menjadi katalis efektif untuk memacu konsumsi masyarakat, terutama pada periode kuartal IV yang secara historis menjadi puncak belanja rumah tangga.
Bank Indonesia mencatat kinerja sektor pariwisata berkontribusi sekitar 4,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sepanjang semester I 2026, naik dari 3,8 persen pada periode yang sama tahun 2025. Sementara itu, penerimaan devisa dari sektor ini diproyeksikan menyentuh angka USD 16,5 miliar hingga akhir tahun, atau tumbuh 11,3 persen year-on-year dibandingkan capaian 2025. Angka-angka ini menjadi indikasi bahwa fundamental sektor pariwisata masih cukup kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pameran perjalanan yang menghadirkan ratusan exhibitor—mulai dari maskapai, hotel, agen wisata, hingga pelaku ekonomi kreatif—berfungsi sebagai etalase sekaligus mesin transaksi. Dalam gelaran tersebut, berbagai paket wisata, tiket pesawat, dan akomodasi ditawarkan dengan skema diskon dan cicilan yang menarik. Strategi ini secara langsung menyasar sentimen pasar konsumen kelas menengah yang cenderung menahan belanja sepanjang tahun akibat tekanan inflasi dan pelemahan daya beli.
Di Satu Sisi: Dorongan Konsumsi dan Likuiditas Sektor Riil
Mengalami kenaikan permintaan jelang akhir tahun menjadi berkah bagi pelaku industri. Menurut data Asosiasi Agen Perjalanan Wisata, transaksi pada ajang pameran tahun ini tercatat mencapai Rp 2,7 triliun, atau tumbuh 14 persen dibandingkan pameran serupa pada 2025. Angka ini mencerminkan adanya akumulasi permintaan yang tersalurkan melalui momentum promosi terbatas. Bagi pelaku usaha, likuiditas dari penjualan paket wisata menjadi injeksi modal kerja untuk menghadapi musim puncak akhir tahun.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata menargetkan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 1,2 miliar perjalanan sepanjang 2026. Pencapaian target tersebut sangat bergantung pada konsumsi domestik yang digerakkan oleh kelas menengah, yang selama ini menyumbang sekitar 70 persen dari total belanja pariwisata nasional.
"Momentum gelaran seperti ini efektif untuk mengerek okupansi hotel dan tingkat keterisian penerbangan, terutama di destinasi unggulan seperti Bali, Yogyakarta, dan Labuan Bajo," ujar seorang analis industri pariwisata.
Dari perspektif makro, peningkatan konsumsi rumah tangga di sektor pariwisata berdampak berantai pada sektor transportasi, akomodasi, makanan minuman, hingga industri kreatif. Setiap kenaikan 1 persen belanja wisata domestik diperkirakan menambah pertumbuhan PDB sekitar 0,05 hingga 0,08 persen dalam satu kuartal. Inilah yang membuat sektor ini kerap disebut sebagai low-hanging fruit dalam upaya menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi.
Di Sisi Lain: Risiko Capital Outflow dan Pelemahan Daya Beli
Namun, optimisme tersebut tidak lepas dari sejumlah risiko. Tren capital outflow yang masih membayangi pasar keuangan domestik berpotensi menekan nilai tukar rupiah, yang pada gilirannya membuat harga tiket pesawat internasional dan paket wisata luar negeri kian mahal. Kondisi ini bisa mengalihkan preferensi konsumen dari wisata luar negeri ke destinasi domestik, tetapi di saat yang sama mengurangi margin pelaku usaha yang mengandalkan komponen impor.
Selain itu, rasio daya beli masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah. Meski inflasi inti relatif terkendali di kisaran 2,5 persen year-on-year, tekanan pada kelompok pengeluaran diskresioner tetap terasa. Masyarakat cenderung memprioritaskan kebutuhan primer, sehingga belanja wisata menjadi pos yang paling mudah dikorbankan ketika ketidakpastian pendapatan meningkat. Survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan indeks keyakinan konsumen pada September 2026 berada di level 124,7—masih optimistis, tetapi turun tipis dari bulan sebelumnya.
Dari sisi valuasi, saham-saham sektor pariwisata dan hotel di Bursa Efek Indonesia kini diperdagangkan pada price-to-earnings ratio rata-rata 18,4 kali, sedikit di atas rata-rata lima tahunan sebesar 16,9 kali. Angka ini mengindikasikan pasar telah memasukkan ekspektasi pertumbuhan akhir tahun ke dalam harga. Artinya, kenaikan lebih lanjut sangat bergantung pada realisasi kinerja kuartal IV dan sentimen positif lanjutan dari gelaran promosi serupa.
Proyeksi dan Fundamental Jangka Menengah
Proyeksi Bank Indonesia menempatkan pertumbuhan sektor pariwisata pada kisaran 5,5 hingga 6,2 persen untuk keseluruhan tahun 2026, dengan risiko yang cukup seimbang antara sisi permintaan dan penawaran. Pemerintah sendiri terus mendorong konektivitas antardaerah, pengembangan destinasi prioritas, serta kemudahan akses pembiayaan bagi UMKM pariwisata. Langkah ini penting agar tren positif tidak hanya terpusat di destinasi utama, melainkan menyebar secara lebih merata.
Bagi pembaca awam, penting dipahami bahwa industri perjalanan bukan sekadar soal liburan, melainkan salah satu penggerak konsumsi nasional yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Setiap rupiah yang dibelanjakan wisatawan berputar di perekonomian lokal melalui penginapan, kuliner, transportasi, dan cendera mata. Karena itu, kesehatan sektor ini menjadi indikator penting bagi arah pertumbuhan ekonomi kuartal akhir.
Kesimpulannya, gelaran pameran perjalanan di Jakarta memberikan dorongan nyata bagi konsumsi rumah tangga dan likuiditas pelaku usaha, namun tetap perlu diwaspadai risiko eksternal seperti capital outflow dan keterbatasan daya beli. Dengan fundamental yang solid, sektor ini berpeluang menutup tahun dengan kinerja positif, asalkan sentimen pasar dan stabilitas ekonomi domestik terjaga.
Comments (0)