IHSG Membaik Tipis Usai Sempat Kena Trading Halt

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terpuruk dan menyentuh batas penghentian perdagangan sementara (trading halt) pada sesi perdagangan Kamis (29/1/2

IHSG Membaik Tipis Usai Sempat Kena Trading Halt

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terpuruk dan menyentuh batas penghentian perdagangan sementara (trading halt) pada sesi perdagangan Kamis (29/1/2026) sebelum akhirnya ditutup membaik tipis di zona hijau. Papan elektronik di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, merekam jelas fluktuasi liar hari itu—sebuah sesi yang membakar saraf investor dari pembukaan hingga penutupan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, total volume saham yang diperdagangkan mencapai 98,791 miliar lembar dengan nilai transaksi tembus Rp67,823 triliun. Angka ini mencerminkan betapa derasnya arus keluar-masuk dana di tengah kepanikan sesaat yang melanda pasar.

Kronologi Ambruk dan Trading Halt

Sejak bel pembukaan, indeks acuan sudah menunjukkan gelagat lesu. Tekanan jual bertubi-tubi datang dari investor asing yang melepas kepemilikan di saham-saham perbankan dan pertambangan. Antrean order jual pun menggumpal dan membuat IHSG longsor hingga lebih dari 5 persen pada 45 menit pertama sesi, memicu sistem pengaman otomatis bursa.

Sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan, begitu indeks merosot melewati ambang 5 persen, perdagangan seluruh efek dihentikan selama 30 menit. Inilah momen yang ditunggu sekaligus ditakuti: trading halt yang memberi waktu bagi pelaku pasar untuk menarik napas, membaca ulang situasi, dan menyusun ulang strategi. Selama jeda itu, para analis, pialang, dan investor ritel sibuk berspekulasi apakah ini awal dari kejatuhan yang lebih dalam atau sekadar koreksi brutal yang bisa segera dipulihkan.

“Trading halt bukan sekadar penghentian teknis. Ini adalah katup dekompresi psikologis yang memberi ruang bagi pasar agar tidak hancur oleh panik masif,” ujar Kepala Riset salah satu sekuritas besar di Jakarta, menggambarkan atmosfer menegangkan di lantai bursa.

Faktor-faktor Pemicu Aksi Jual

Aksi jual kemarin bukanlah fenomena tunggal. Ada tiga beban berat yang ditanggung IHSG sekaligus. Pertama, ketidakpastian suku bunga global menyusul pernyataan pejabat The Fed yang mengisyaratkan kemungkinan kenaikan lebih agresif. Kedua, harga komoditas andalan seperti batu bara dan nikel yang terkoreksi tajam, memukul emiten-emiten tambang besar yang menjadi motor indeks. Ketiga, arus keluar modal asing yang mencapai Rp1,5 triliun hanya di sesi pagi, menurut data transaksi bursa. Sentimen negatif ini diperparah dengan rilis data ekonomi domestik—cadangan devisa yang menurun tipis serta proyeksi inflasi yang mulai merangkak naik, memicu kekhawatiran pelambatan konsumsi.

“Pasar sedang mengukur ulang risiko. Inflasi yang kembali muncul di beberapa negara berkembang membuat investor melakukan rebalancing portofolio, dan Indonesia kena imbasnya,” jelas ekonom senior Universitas Indonesia.

Sinyal Pemulihan di Menit Akhir

Setelah trading halt dicabut, IHSG masih terlihat limbung. Namun, memasuki dua jam terakhir perdagangan, muncul gelombang beli selektif yang dipimpin oleh saham-saham perbankan dan konsumer berkapitalisasi besar. Aksi borong oleh investor institusi domestik secara bertahap mengikis kerugian. Dari posisi terburuk yang sempat menyentuh minus 5,2 persen, indeks perlahan merangkak naik dan akhirnya ditutup hanya melemah 0,38 persen ke level 6.512,4—sebuah angka yang boleh jadi dianggap kemenangan kecil setelah hampir saja terjerembap ke jurang.

Gerak liar ini sekaligus menunjukkan karakteristik pasar Indonesia: dalam dan likuid, namun rentan terhadap guncangan eksternal. Sebagian analis memandang pemulihan di akhir sesi sebagai sinyal bahwa valuasi saham-saham unggulan sudah kembali ke level menarik setelah terdiskon tajam. Namun, tak sedikit pula yang mengingatkan bahwa ini bisa jadi cuma dead cat bounce yang menjebak trader ritel yang terlambat masuk.

Pelajaran dari Sehari di “Roller Coaster”

Bagi investor pemula, Kamis kemarin adalah kursus kilat tentang psikologi pasar. Saat indeks ambrol dan trading halt diaktifkan, media sosial dibanjiri unggahan panik. Namun para pelaku pasar berpengalaman justru memanfaatkan momentum dengan menyusun akumulasi bertahap.

Jika dilihat dari data transaksi, investor domestik menjadi penyeimbang utama di tengah derasnya arus keluar asing. Peran dana pensiun dan reksa dana saham dalam negeri cukup signifikan dalam menopang indeks, menunjukkan bahwa basis investor lokal kian matang dan tidak lagi semata-mata ikut-ikutan arus asing.

Ke depan, perhatian akan tertuju pada rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal mendatang serta sikap Bank Indonesia yang diperkirakan tetap menahan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas rupiah. Apakah membaiknya IHSG di penutupan bisa berlanjut atau hanya jeda sebelum koreksi lanjutan, semua bergantung pada kemampuan pasar mencerna kombinasi risiko global dan fundamental dalam negeri.

[SOCIAL_TWEET]: IHSG ditutup membaik tipis setelah sempat sentuh trading halt hari ini. Volume perdagangan tembus 98,79 miliar saham, nilai Rp67,8 triliun. Pasar diuji, tapi tak sepenuhnya tumbang. #IHSG #SahamIndonesia #TradingHalt[SOCIAL_TG]: 🚨 IHSG Sempat Kena Trading Halt! Setelah sempat ambrol 5,2%, indeks ditutup membaik tipis di -0,38%. Volume 98,8 miliar saham, nilai Rp67,8 triliun. Faktor global & domestik jadi pemicu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User