IHSG Ditutup Menguat 1,22 Persen, 433 Saham Naik
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan Senin (9/2/2026) dengan penguatan signifikan sebesar 1,22 persen. Pantauan di lantai Bursa E
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan Senin (9/2/2026) dengan penguatan signifikan sebesar 1,22 persen. Pantauan di lantai Bursa Efek Indonesia menunjukkan dominasi saham penghijauan, dengan monitor perdagangan menampilkan pergerakan positif yang mewarnai hari itu. Secara total, sebanyak 433 saham mengalami penguatan, sementara 252 saham melemah dan 136 lainnya stagnan—menandakan sentimen pasar yang secara umum optimistis tetapi tidak merata di semua sektor.
Kronologi Pergerakan IHSG Sepanjang Hari
- Sesi pembukaan (09.00 WIB): IHSG dibuka di zona hijau tipis, didorong oleh sentimen positif dari pasar regional dan aksi beli selektif pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor keuangan dan energi.
- Sesi I (09.00–12.00 WIB): Indeks bergerak fluktuatif dalam rentang sempit. Sempat terkoreksi ringan pada pukul 10.30 WIB akibat aksi profit taking di saham teknologi, namun kembali menguat setelah rilis data penjualan ritel domestik yang melampaui ekspektasi.
- Sesi II (13.30–16.00 WIB): Penguatan semakin solid. Investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (net buy) senilai Rp1,2 triliun, dengan konsentrasi pada saham perbankan besar. Pada pukul 15.30 WIB, IHSG menyentuh level tertinggi harian di 6.870.
- Penutupan (16.00 WIB): IHSG ditutup pada level 6.868,45—melonjak 82,8 poin atau setara 1,22 persen dibandingkan penutupan Jumat sebelumnya. Ini menjadi penguatan harian tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Data Perbandingan: Penguatan vs Pelemahan Saham
- 433 saham menguat—didominasi sektor energi (+2,1%), keuangan (+1,8%), dan barang baku (+1,5%).
- 252 saham melemah—terutama di sektor teknologi (-0,9%) dan properti (-0,4%) yang masih dibayangi kekhawatiran suku bunga tinggi.
- 136 saham stagnan—menunjukkan investor masih wait and see terhadap beberapa emiten yang belum merilis laporan keuangan tahunan.
Sentimen Pendorong dan Penahan
Beberapa faktor berperan dalam penguatan ini:
- Sentimen global: Pasar Asia Pasifik menguat menyusul data ketenagakerjaan AS yang moderat, mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga agresif oleh The Fed.
- Faktor domestik: Data penjualan ritel Januari 2026 tumbuh 5,8% YoY, di atas konsensus analis sebesar 4,9%. Ini menjadi sinyal daya beli masyarakat tetap kuat meskipun tekanan inflasi pangan.
- Arus modal asing: Aliran dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia dalam sepekan terakhir mencapai Rp3,4 triliun, didorong stabilitas rupiah di kisaran Rp15.800 per dolar AS.
Dinamika di Balik Rilis Data
Penguatan 1,22 persen ini merupakan yang signifikan, tetapi jumlah saham yang melemah (252) tetap cukup tinggi. Ini mengindikasikan rotasi sektor ketimbang reli pasar yang luas. Investor beralih dari saham teknologi—yang sensitif terhadap suku bunga—ke saham energi dan keuangan yang diuntungkan oleh stabilisasi harga komoditas dan prospek dividen tinggi. Pertanyaannya, apakah penguatan ini akan berlanjut atau justru membuka peluang profit taking di sesi berikutnya?
Pro: Penguatan ini menunjukkan kepercayaan investor ritel dan institusi terhadap fundamental makro Indonesia. Net buy asing yang mencapai Rp1,2 triliun dalam satu sesi menjadi sinyal bahwa valuasi IHSG masih atraktif, terutama dengan proyeksi pertumbuhan laba emiten 2026 sebesar 8–10%. Di samping itu, stabilitas rupiah dan membaiknya data konsumsi dapat menopang IHSG menuju level 6.900 dalam jangka pendek.
Kontra: Jumlah saham yang melemah (252) hampir 60% dari jumlah saham menguat. Ini menunjukkan bahwa reli tidak merata dan cenderung terpusat pada saham blue chip tertentu. Jika sektor teknologi dan properti terus tertekan, IHSG rentan terkoreksi begitu sentimen global berubah, terutama menjelang rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Volatilitas tetap tinggi, dan investor perlu mencermati potensi profit taking di sesi-sesi mendatang.
Dengan demikian, penguatan IHSG kali ini menawarkan gambaran yang seimbang: optimisme terhadap pemulihan ekonomi domestik bertemu dengan kewaspadaan terhadap risiko global dan selektivitas pasar yang tinggi.
Comments (0)