IHSG 2022 Melemah 0,14 Persen, BEI Cetak Rekor 59 IPO

Bursa Efek Indonesia menutup tahun 2022 dengan catatan kinerja yang kontradiktif. Di satu sisi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau lesu pada sesi

IHSG 2022 Melemah 0,14 Persen, BEI Cetak Rekor 59 IPO

Bursa Efek Indonesia menutup tahun 2022 dengan catatan kinerja yang kontradiktif. Di satu sisi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau lesu pada sesi penutupan akhir tahun, Jumat (30/12/2022). Layar monitor di gedung BEI menampilkan posisi akhir indeks di level 6.850,62, turun tipis 0,14% atau setara 9,46 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Meskipun begitu, suasana penutupan perdagangan di Jakarta tetap diwarnai sorak sorai karena bursa berhasil mencatatkan pencapaian bersejarah: sebanyak 59 perusahaan berhasil melantai lewat Initial Public Offering (IPO) sepanjang tahun 2022.

Kinerja IHSG Sepanjang 2022

Secara tahunan, IHSG sebenarnya masih membukukan kenaikan sekitar 4,09% dari posisi akhir 2021 yang berada di level 6.581,48. Namun, perjalanan indeks sepanjang tahun diwarnai fluktuasi tajam. Pada kuartal pertama, IHSG sempat menyentuh level tertingginya di 7.300-an sebelum akhirnya terkoreksi akibat gelombang ketidakpastian global. Tekanan paling terasa pada kuartal ketiga dan keempat ketika investor asing mulai mengurangi porsi kepemilikan di pasar saham domestik.

Beberapa sentimen besar yang membayangi pergerakan IHSG tahun 2022 antara lain: (1) perang Rusia-Ukraina yang memicu kenaikan harga komoditas energi dan pangan; (2) inflasi global yang melonjak hingga mendorong bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunga secara agresif; dan (3) potensi resesi di negara maju yang membuat investor mengalihkan dana ke aset yang lebih aman (safe haven). Faktor domestik seperti kenaikan harga BBM bersubsidi pada September 2022 juga sempat memukul sentimen pasar.

Rekor Baru: 59 Perusahaan IPO

Di tengah lesunya laju IHSG di penghujung tahun, Bursa Efek Indonesia justru mencetak tonggak sejarah. Sepanjang 2022, BEI mencatatkan 59 perusahaan melakukan IPO, melebihi rekor sebelumnya yang terjadi pada tahun 1990 dengan 55 perusahaan. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai bursa dengan jumlah pencatatan saham baru terbanyak di Asia Tenggara.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, dalam berbagai kesempatan menyebut bahwa minat perusahaan untuk go public didorong oleh pemulihan ekonomi pascapandemi dan kebutuhan ekspansi bisnis yang semakin besar.

“Capaian 59 IPO menunjukkan bahwa momentum pemulihan ekonomi Indonesia cukup kuat dan kepercayaan perusahaan terhadap pasar modal masih tinggi meskipun ada tekanan dari luar,” ujar Nyoman.

Dari total dana yang berhasil dihimpun melalui IPO, BEI mencatat angka sekitar Rp32,6 triliun, termasuk di antaranya dari perusahaan teknologi besar seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang melakukan IPO pada April 2022 dan mengumpulkan dana sebesar Rp13,7 triliun. Mayoritas perusahaan yang melantai berasal dari sektor energi, konsumer, teknologi, dan jasa keuangan.

Analisis Sektoral dan Kapitalisasi Pasar

Sektor yang paling berkontribusi terhadap pelemahan IHSG akhir tahun adalah sektor keuangan dan teknologi. Sektor teknologi, yang sempat menjadi primadona pada awal tahun, mengalami koreksi dalam karena investor mulai meragukan valuasi tinggi di tengah kenaikan suku bunga global. Sebaliknya, sektor energi justru mencatat kinerja positif sepanjang tahun karena didukung oleh lonjakan harga batu bara dan komoditas tambang lainnya.

Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia per akhir 2022 tercatat sekitar Rp9.500 triliun, sedikit menyusut dibandingkan posisi tertinggi sepanjang masa yang sempat disentuh pada September 2022. Volume transaksi harian rata-rata mencapai Rp14,5 triliun, dengan investor ritel domestik masih mendominasi aktivitas perdagangan.

Prospek IHSG Tahun 2023

Menatap tahun 2023, analis dan pelaku pasar cukup optimistis. Dengan ekspektasi bahwa The Fed akan melonggarkan kebijakan moneternya pada paruh kedua tahun 2023, aliran dana asing diperkirakan kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Selain itu, pemilihan umum yang akan berlangsung pada 2024 juga berpotensi mendorong belanja domestik.

Di sisi lain, BEI menargetkan jumlah pencatatan efek baru pada 2023 sebanyak 60 perusahaan, melanjutkan momentum rekor tahun sebelumnya. Jika target tersebut tercapai, maka Indonesia akan terus menjadi bursa paling dinamis di kawasan.

Dengan demikian, penutupan lesu IHSG akhir 2022 lebih mencerminkan kehati-hatian investor terhadap ketidakpastian global, bukan melemahnya fundamental ekonomi domestik. Rekor 59 IPO menjadi bukti nyata bahwa Indonesia tetap menjadi magnet bagi pertumbuhan perusahaan dan kepercayaan pasar.

[SOCIAL_TWEET]: IHSG akhir 2022 lesu di level 6.850,62, turun 0,14%. Rekor: 59 perusahaan IPO sepanjang tahun! Simak analisis lengkapnya. #IHSG #BEI #IPO2022 #PasarModal[SOCIAL_TG]: 📉 IHSG tutup 2022: 6.850,62 (-0,14%). 📈 Tapi rekor 59 IPO tercipta! Simak cerita lengkapnya. 🚀 #IHSG #IPO2022

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User