BNI Fasilitasi UMKM Go Digital di Puspa Nuswantara 2026
Langkah strategis kembali ditempuh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk untuk memperkuat fondasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tanah air. Melalui partisipasi aktif dalam perhelat...
Langkah strategis kembali ditempuh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk untuk memperkuat fondasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tanah air. Melalui partisipasi aktif dalam perhelatan Puspa Nuswantara 2026, BNI tidak sekadar hadir sebagai peserta pameran, melainkan sebagai katalisator yang menghubungkan produk kreatif Nusantara dengan ekosistem bisnis modern. Inisiatif ini menitikberatkan pada tiga pilar utama: digitalisasi transaksi, perluasan akses pasar, serta promosi kekayaan batik dan kriya lokal ke jenjang yang lebih tinggi.
Mengakselerasi Digitalisasi Transaksi Pelaku Usaha
Pada ajang yang digelar di Jakarta Convention Center tersebut, BNI menghadirkan solusi perbankan digital terintegrasi yang menyasar ribuan pelaku UMKM. Fokus utama adalah adopsi transaksi nontunai melalui QRIS BNI dan platform BNI Mobile Banking yang telah diperkaya fitur manajemen bisnis. Berdasarkan data internal bank, hingga kuartal I-2026, lebih dari 1,2 juta merchant UMKM telah terhubung dengan layanan QRIS BNI, melonjak 38% secara year-on-year. Di arena Puspa Nuswantara, BNI menargetkan onboarding 3.000 merchant baru selama pameran berlangsung, memanfaatkan antusiasme pengunjung yang diproyeksikan mencapai 50 ribu orang.
Direktur Bisnis Kecil dan Menengah BNI, dalam sesi bincang UMKM, menuturkan bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan fondasi ketahanan usaha. "Kami membekali pelaku usaha dengan perangkat yang memungkinkan pencatatan penjualan real-time, manajemen inventori sederhana, hingga akses kredit mikro berbasis data transaksi. Di Puspa Nuswantara, kami tunjukkan bahwa warisan budaya dapat berpadu dengan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya," ujarnya. Tidak sekadar teori, BNI menggelar live demo transaksi dan konsultasi langsung yang memandu pengrajin batik serta kriya beralih dari pencatatan manual ke sistem digital yang aman dan efisien.
Perluasan Pasar: Dari Panggung Lokal ke Rantai Pasok Global
Di sisi lain, BNI memanfaatkan Puspa Nuswantara sebagai etalase yang mempertemukan UMKM terkurasi dengan buyer korporat dan calon mitra ekspor. Studi yang dirilis Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa akses pasar masih menjadi hambatan utama bagi 62% UMKM Indonesia. Untuk menjawab tantangan itu, BNI membangun Business Matching Lounge—sebuah ruang khusus di area pameran yang memfasilitasi pertemuan langsung antara perajin dan pembeli potensial dari sektor ritel, perhotelan, hingga eksportir. Dalam dua hari pertama pameran, tercatat lebih dari 120 janji bisnis terlaksana dengan nilai potensi transaksi mencapai Rp 8,7 miliar.
Bank pelat merah ini juga menggandeng marketplace lokal dan agregator produk untuk memamerkan koleksi batik tulis, tenun, dan anyaman pilihan melalui katalog digital. Pelaku UMKM yang sebelumnya hanya mengandalkan pesanan musiman, kini dapat menjangkau konsumen di 34 provinsi melalui skema dropship dan penjualan lintas platform. BNI memberikan insentif berupa pembebasan biaya administrasi selama enam bulan bagi UMKM yang memanfaatkan jalur distribusi baru tersebut. Hasilnya, peserta pameran melaporkan peningkatan omzet harian hingga 2 kali lipat dibandingkan hari biasa.
Melambungkan Keunikan Batik dan Kriya Nusantara
Promosi produk unggulan seperti batik Semarangan, kriya manik Kalimantan, serta tenun ikat Sumba menjadi magnet utama stan BNI. Untuk memperkuat narasi budaya, BNI menghadirkan peragaan busana bertema "Wastra Nusantara untuk Dunia" yang menampilkan koleksi kolaboratif dengan rumah mode lokal. Penampilan tersebut disaksikan 5.000 pengunjung dan berhasil membukukan ratusan pemesanan di hari yang sama. Para perajin juga mendapatkan pelatihan singkat mengenai fotografi produk, kemasan berstandar ekspor, dan strategi penetapan harga yang kompetitif—aspek yang kerap diabaikan namun krusial untuk menembus pasar global.
"Produk kami dulunya hanya dijual di pasar tradisional. Kini, berkat pendampingan BNI, motif batik kami ada di katalog internasional dan nilainya naik hingga 300%," ungkap seorang pengrajin batik asal Lasem yang turut memamerkan karyanya. Cerita sukses seperti ini diharapkan memantik semangat pelaku UMKM lain bahwa kriya lokal memiliki potensi ekspor yang sangat besar—apalagi dengan nilai ekspor produk kerajinan Indonesia pada 2025 yang menembus US$ 1,2 miliar.
Ekosistem Kreatif yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan
Puspa Nuswantara 2026 juga menjadi panggung pengumuman inisiatif BNI Creativepreneur Fellowship, program pendampingan intensif selama 12 bulan bagi 100 wirausaha kreatif terpilih. Peserta akan mendapatkan pelatihan literasi keuangan, akses ke jejaring investor, serta bantuan permodalan hingga Rp 500 juta dengan suku bunga khusus. BNI menegaskan komitmennya untuk menyalurkan total kredit UMKM sebesar Rp 145 triliun sepanjang 2026, meningkat 12% dari tahun sebelumnya.
Dengan mengusung konsep phygital—perpaduan sentuhan fisik dari produk kriya dan kecanggihan digital—BNI tidak hanya menjaga denyut ekonomi kreatif, tetapi juga menumbuhkan ekosistem yang inklusif. Jejak partisipasi di Puspa Nuswantara diharapkan menjadi katalis yang mempercepat transformasi UMKM Indonesia dari sekadar bertahan menjadi pemain utama di rantai nilai global. Langkah ini sekaligus menjawab kebutuhan revitalisasi sektor padat karya yang menyerap 97% tenaga kerja nasional, sebuah angka yang tak bisa dipandang sebelah mata oleh pemangku kebijakan maupun pelaku industri keuangan.
Baca juga:
Comments (0)