Danantara Gandeng Mitra AS Garap Gasifikasi Batu Bara
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025 dan neraca energi Kementerian ESDM, Indonesia kembali menggerakkan mesin proyek gasifikasi batu bara yang selama ini stagnan. Badan Pengelol...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025 dan neraca energi Kementerian ESDM, Indonesia kembali menggerakkan mesin proyek gasifikasi batu bara yang selama ini stagnan. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi menggandeng perusahaan teknologi gasifikasi asal Amerika Serikat untuk menghidupkan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME). Langkah ini dibaca sebagai upaya strategis memangkas ketergantungan impor LPG yang terus membebani fiskal. Pada 2024, volume impor LPG nasional menembus 6,7 juta ton, senilai lebih dari Rp115 triliun, naik 4,2 persen year-on-year. Sementara itu, konsumsi LPG nasional didominasi sektor rumah tangga yang menyerap sekitar 70 persen dari total pasokan.
Peta Kebutuhan dan Tekanan Impor
Subsidi LPG tabung 3 kilogram telah menjadi salah satu pos belanja paling kaku dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Harga keekonomian LPG dunia yang volatil memperburuk beban, sementara harga jual di tingkat konsumen nyaris tidak bergerak sejak 2007. Data Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi menambah beban subsidi energi sekitar Rp4,5 triliun. Di sisi lain, Indonesia memiliki cadangan batu bara melimpah—Badan Geologi mencatat sumber daya nasional lebih dari 99 miliar ton, dengan cadangan terbukti cukup untuk lebih dari 70 tahun pada tingkat produksi saat ini. Gasifikasi batu bara untuk menghasilkan DME menawarkan jalan tengah: memanfaatkan sumber daya domestik yang berlebih untuk menjawab defisit struktural LPG. Teknologi dari perusahaan AS yang digandeng Danantara diklaim mampu mengonversi batu bara kalori rendah—yang selama ini kurang bernilai—menjadi syngas, lalu disintesis menjadi DME dengan karakteristik pembakaran serupa LPG. Asumsinya, setiap ton batu bara rendah kalori dapat menghasilkan sekitar 0,4–0,5 ton DME.
Proyeksi Dampak Ekonomi dan Kemendirian Energi
Dengan nilai investasi tahap awal diperkirakan menembus 2,5 miliar dolar AS, proyek ini akan dibangun di mulut tambang di Sumatera Selatan atau Kalimantan Timur, dekat dengan sumber batu bara dan pelabuhan. Skema kerja sama operasi antara Danantara, mitra teknologi, dan perusahaan tambang pelat merah akan menggunakan model pendanaan campuran, termasuk porsi dari hasil pengelolaan dana investasi sovereign wealth fund. Bila beroperasi sesuai rencana pada 2028, pabrik ini diproyeksikan menghasilkan 1,4 juta ton DME per tahun, setara dengan substitusi sekitar 1 juta ton LPG impor—menghemat devisa hingga Rp17 triliun per tahun. Di satu sisi, ini adalah kalkulasi makro yang menjanjikan: neraca perdagangan migas bisa lebih ramping, ketahanan energi rumah tangga meningkat, dan multiplier effect ke daerah penghasil batu bara menciptakan ribuan lapangan kerja. Namun di sisi lain, valuasi kelayakan sangat sensitif terhadap harga batu bara acuan dan harga minyak global. Saat harga minyak rendah dan harga batu bara sedang tinggi, selisih biaya produksi DME terhadap LPG bisa menipis, membuat proyek perlu dukungan insentif fiskal atau penugasan khusus dari pemerintah.
Dua Sisi Koin: Optimisme Teknologi vs Risiko Iklim
Prospek proyek ini menyajikan tarik-menarik klasik antara kepentingan ekonomi dan komitmen dekarbonisasi. Pro: gasifikasi batu bara dinilai lebih bersih dibanding pembakaran langsung untuk listrik, karena prosesnya menangkap sebagian besar sulfur dan nitrogen oksida. Beberapa pendekatan bahkan memasangkan unit penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) untuk menekan emisi CO2, sejalan dengan peta jalan net zero Indonesia 2060. Danantara menyebut mitra AS yang digandeng telah mengantongi rekam jejak di teknologi CCS untuk proyek serupa. Dengan demikian, proyek DME bisa menjadi jembatan menuju transisi energi yang tertata. Kontra: koalisi masyarakat sipil dan lembaga energi bersih berpendapat bahwa mengunci investasi besar di infrastruktur berbasis batu bara justru memperlambat adopsi energi terbarukan. Mereka mengutip data International Energy Agency bahwa jejak karbon siklus hidup DME dari batu bara tiga kali lipat lebih tinggi dibanding LPG dari gas alam, apalagi dibandingkan dengan kompor induksi bertenaga surya. Di tengah tekanan global terhadap pembiayaan fosil, Danantara perlu meyakinkan pasar bahwa proyek ini memiliki kerangka lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang kredibel agar tidak memicu capital outflow dari investor institusi yang semakin sensitif pada metrik hijau.
Tantangan Regulasi dan Infrastruktur di Depan
Pemerintah melalui Kementerian ESDM telah menyiapkan regulasi harga khusus untuk DME, termasuk penugasan kepada PT Pertamina sebagai offtaker utama guna menyerap produksi dan mendistribusikannya melalui jaringan yang ada. Tantangan berikutnya adalah adaptasi infrastruktur: meski DME dapat menggunakan tabung dan kompor yang mirip LPG, tetap diperlukan penyesuaian pada katup, regulator tekanan, dan selang, yang berarti investasi tambahan di sisi hilir. Dari sisi pembiayaan, Danantara menghadapi ujian kredibilitas sebagai pengelola investasi. Porsi ekuitas yang ditanamkan harus menghasilkan imbal hasil kompetitif bagi pemegang saham, sekaligus menjaga mandat strategis pengembangan ekonomi nasional. Rencana untuk menggabungkan utang multilateral dan penerbitan obligasi hijau akan diuji kelayakannya oleh lembaga pemeringkat. Selain itu, sinyal dari pasar komoditas tidak selalu mendukung: harga batu bara acuan Newcastle sempat menyentuh 145 dolar AS per ton pada Februari 2025, level yang relatif tinggi sehingga margin gasifikasi harus dihitung ulang secara hati-hati. Meski demikian, fundamental kebutuhan energi domestik menjadi jangkar kuat. Konsumsi LPG rumah tangga tumbuh 5,1 persen year-on-year dalam lima tahun terakhir, jauh melampaui pertumbuhan produksi gas domestik. Jika proyek ini berhasil mencapai skala ekonomi, Indonesia berpeluang menciptakan pasar DME yang menjadi model bagi negara penghasil batu bara lainnya di Asia Tenggara.
Baca juga:
Comments (0)