Sambut Tahun Ajaran Baru, Warga Banjiri Pasar Asemka Cari Perlengkapan Sekolah

Udara pagi di kawasan Tamansari, Jakarta Barat, Rabu (9/7), terasa lebih gerah dari biasanya. Bukan hanya terik matahari, melainkan riuh rendah ribuan langkah kaki yang memadati lorong-lorong sempit P...

Sambut Tahun Ajaran Baru, Warga Banjiri Pasar Asemka Cari Perlengkapan Sekolah

Udara pagi di kawasan Tamansari, Jakarta Barat, Rabu (9/7), terasa lebih gerah dari biasanya. Bukan hanya terik matahari, melainkan riuh rendah ribuan langkah kaki yang memadati lorong-lorong sempit Pasar Asemka. Mereka datang bukan sekadar berwisata kuliner atau membeli suvenir, melainkan menjalani 'ritual' tahunan: berburu perlengkapan sekolah menjelang tahun ajaran baru yang akan dimulai pekan depan.

Deretan kios yang menjual buku tulis, seragam, sepatu, tas, hingga alat tulis lengkap disesaki orang tua, anak-anak, hingga pedagang eceran dari luar kota. Tumpukan kardus berisi pensil, pulpen, dan penggaris terlihat mengecil seiring derasnya transaksi. Hiruk pikuk itu adalah potret nyata bagaimana momen masuk sekolah menjadi penggerak denyut ekonomi rakyat di pusat grosir legendaris ini.

Geliat Usaha Mikro Menjelang Hari-H

Pasar Asemka memang dikenal sebagai barometer belanja musiman. Menurut catatan paguyuban pedagang setempat, volume kunjungan pada sepuluh hari terakhir sebelum tahun ajaran baru meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Hal itu terlihat dari antrean kendaraan yang mengular di Jalan Asemka dan sekitarnya, memaksa petugas Dishub menerapkan rekayasa lalu lintas pada jam sibuk.

“Omzet kami naik sekitar 150 persen sejak awal Juli,” ujar Suryani, pemilik kios ATK ‘Mawar Tulis’ yang sudah 12 tahun berjualan di lantai dasar. Ia mencontohkan, buku tulis isi 38 lembar buatan lokal yang biasanya laku dua lusin per hari, dalam sepekan terakhir bisa mencapai 10 lusin. Harga per paket grosir berkisar Rp35.000 hingga Rp45.000, bergantung merek dan ketebalan kertas, angka yang relatif stabil meski permintaan melonjak.

Di sisi lain, beberapa pedagang mengeluhkan kenaikan biaya distribusi. Ongkos angkut dari produsen di Tangerang dan Surabaya dikabarkan naik 5–7 persen, dipicu penyesuaian harga BBM. Namun, persaingan yang ketat membuat sebagian besar memilih tidak menaikkan harga eceran demi menjaga pelanggan setia yang kebanyakan merupakan pengecer dari Jabodetabek.

Tradisi yang Bertahan di Era Digital

Meski belanja daring kian marak, Pasar Asemka tetap memiliki daya tarik yang sulit ditolak. Bagi sejumlah keluarga, melihat dan meraba langsung kualitas produk—mulai dari jahitan seragam hingga ketajaman ujung pensil—merupakan bagian dari persiapan yang mengesankan bagi anak. Seorang ibu rumah tangga asal Cengkareng, Maria (38), mengaku rela menempuh satu jam perjalanan demi mendapatkan harga lebih miring dan varian lebih lengkap.

“Kalau beli online, gambar bisa berbeda dengan aslinya. Di sini saya bisa tanya detail, minta bonus penghapus, atau malah tawar harga grosir meski beli satuan,” katanya sambil memilih tempat pensil karakter untuk dua anaknya yang duduk di kelas 2 dan 5 SD. Ia membawa daftar belanja berisi 47 item, mulai dari buku tulis, sampul plastik, hingga kaos kaki. Total biaya yang dianggarkan sekitar Rp800.000, lebih hemat Rp200.000 dibandingkan pembelian di toko modern.

Fenomena ini sejalan dengan riset internal asosiasi pedagang yang menyebutkan bahwa 80 persen pelanggan Asemka di momen ini adalah pembeli perorangan, bukan reseller. Angka itu melonjak dari kondisi normal di mana porsi pengecer bisa mencapai 60 persen. Perubahan komposisi itu mendorong pedagang untuk lebih fleksibel dalam melayani transaksi kecil, sekaligus menyediakan layanan pesan-antar untuk pembelian dalam jumlah besar melalui WhatsApp.

Antusiasme Warga, Momentum Pemulihan Sektor Informal

Geliat di Pasar Asemka kali ini terasa lebih istimewa. Dua tahun terakhir, pandemi sempat menekan aktivitas tatap muka dan upacara sekolah, sehingga pembelian perlengkapan tidak sesemarak musim-musim sebelumnya. Kini, dengan kembalinya pembelajaran 100 persen di kelas, para pedagang optimistis bahwa momen ini akan memicu multiplikasi ekonomi yang lebih luas.

Data dari Koperasi Pedagang Pasar Asemka mencatat, perputaran uang pada pekan pertama Juli 2025 ini ditaksir mencapai Rp12 miliar, naik 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka itu mencakup penjualan alat tulis, seragam, tas, serta aksesori pelengkap seperti dasi, topi, dan ikat pinggang. Belum lagi sektor pendukung: parkir, jasa angkut, warung makan, dan penginapan bagi pembeli dari daerah yang sengaja berbelanja dalam jumlah besar.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), yang dimintai pendapat, melihat fenomena ini sebagai indikator positif kepercayaan rumah tangga terhadap prospek ekonomi jangka pendek. “Pola belanja persiapan sekolah di pasar tradisional seperti Asemka menunjukkan bahwa kelas menengah ke bawah masih memiliki daya beli yang cukup, asalkan ada pilihan harga yang terjangkau dan barang substitusi yang memadai,” ujarnya melalui sambungan telepon. Ia menambahkan, stabilitas harga kebutuhan pokok turut menjaga alokasi dana untuk perlengkapan sekolah tetap proporsional dalam anggaran bulanan keluarga.

Harapan di Balik Deretan Tas Baru

Menjelang tengah hari, laju pengunjung belum juga surut. Anak-anak kecil tampak antusias mencoba sepatu baru di depan cermin kios, sesekali berlari kecil melewati kerumunan. Bagi mereka, tas berwarna cerah dan buku tulis berkarakter hanyalah alat untuk bergaya. Namun bagi orang tua dan pedagang, tiap helai kertas yang terjual adalah wujud asa akan masa depan yang lebih baik.

Kompetisi dagang yang sportif, geliat transaksi yang ramah, serta aroma khas pasar tradisional seolah merajut cerita tahunan tentang ketangguhan ekonomi komunitas. Saat lonceng sekolah segera berbunyi, Pasar Asemka telah lebih dulu membunyikan sinyalemen: rakyat siap menyongsong tahun ajaran dengan semangat, meski tantangan daya beli tetap membayangi. Di tempat inilah, angka-angka penjualan berubah menjadi bekal pendidikan, dan setiap bingkisan plastik hitam yang dijinjing adalah investasi orang kecil bagi generasi penerus.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User