Sosok Margono, Kakek Prabowo, di Balik Lahirnya BNI
Perjalanan sistem keuangan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama Margono Djohohadikusumo. Ia bukan hanya seorang ekonom dan birokrat ulung pada masa awal kemerdekaan, tetapi juga kakek dari Presid...
Perjalanan sistem keuangan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama Margono Djohohadikusumo. Ia bukan hanya seorang ekonom dan birokrat ulung pada masa awal kemerdekaan, tetapi juga kakek dari Presiden Prabowo Subianto. Kontribusi terbesarnya: menggagas dan mendirikan Bank Negara Indonesia (BNI), bank pertama milik republik yang lahir di tengah kekacauan pasca-proklamasi. Peran ini sekaligus menempatkannya sebagai salah satu arsitek fondasi moneter Indonesia yang berdaulat.
Berawal dari Kebutuhan Mendesak Akan Bank Nasional
Ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, negeri ini praktis tidak memiliki infrastruktur keuangan yang independen. Semua masih bergantung pada sistem warisan kolonial, termasuk De Javasche Bank (DJB) yang saat itu sudah berfungsi sebagai bank sirkulasi. Margono, yang pernah mengecap pendidikan ekonomi di Belanda dan memiliki pengalaman luas di sektor keuangan, menyadari bahwa sebuah negara yang merdeka harus mempunyai bank nasional sendiri. Bank itu tidak hanya berfungsi sebagai lembaga penyimpanan dan penyalur kredit, tetapi juga sebagai alat perjuangan ekonomi menghadapi kembali kekuatan Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia.
Atas dasar itulah, Margono mengusulkan pendirian bank kepada pemerintah. Gayung bersambut: pada 5 Juli 1946, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1946 yang menandai lahirnya Bank Negara Indonesia. Modal awal dikumpulkan dari sumbangan masyarakat dan obligasi pemerintah, mencerminkan semangat gotong-royong yang kala itu melingkupi seluruh elemen bangsa. Kantor pertama BNI pun berdiri, menandai dimulainya era baru sistem keuangan nasional.
Perlawanan Terhadap De Javasche Bank
Latar belakang pendirian BNI tidak semata-mata urusan teknis perbankan. Salah satu motif terkuat Margono adalah menolak upaya Belanda menghidupkan kembali DJB sebagai alat kontrol ekonomi pasca-kemerdekaan. Pada masa itu, pemerintah kolonial berencana mengembalikan fungsi DJB sebagai bank sirkulasi, yang akan membuat Indonesia kembali terjerat dalam dominasi moneter asing. Margono dengan tegas menentang rencana tersebut. Baginya, memiliki bank sirkulasi sendiri adalah simbol kedaulatan yang tidak bisa ditawar.
Perdebatan ini bukan hanya wacana di atas kertas. Sejarah mencatat bahwa upaya Belanda untuk mereaktivasi DJB benar-benar terjadi ketika pasukan NICA kembali ke Indonesia. Margono dan kawan-kawan seperjuangannya terus memperjuangkan agar BNI tidak sekadar menjadi bank komersial, tetapi juga menjadi bank sentral sementara yang mampu menerbitkan uang sendiri, yang kelak dikenal sebagai Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). ORI menjadi instrumen vital dalam mempertahankan kemerdekaan ekonomi sekaligus menegaskan bahwa republik memiliki otoritas penuh atas alat pembayaran yang sah.
Warisan yang Melampaui Zaman
Setelah melalui lika-liku sejarah, BNI bertransformasi dari bank sirkulasi menjadi bank umum milik negara, sementara fungsi bank sentral akhirnya diambil alih oleh Bank Indonesia yang lahir dari nasionalisasi DJB pada 1953 — ironisnya, justru DJB yang kemudian “dipaksa” menjadi bank sentral Indonesia. Namun, benih kedaulatan moneter yang ditanam Margono tidak pernah mati. BNI terus tumbuh menjadi salah satu pilar perbankan nasional dengan aset mencapai lebih dari Rp1.000 triliun (per 2023) dan jaringan yang tersebar di dalam dan luar negeri.
Fakta bahwa Margono adalah kakek dari Prabowo Subianto turut mempertegas benang merah sejarah. Keluarga ini telah terlibat dalam membangun bangsa sejak generasi pertama. Margono menghadirkan kedaulatan moneter, sementara sang cucu kini memimpin negeri dengan tantangan geopolitik dan ekonomi yang berbeda. Menarik dicermati bagaimana nilai-nilai ketegasan dan nasionalisme dalam menjaga kemandirian ekonomi, yang dijunjung Margono, barangkali ikut membentuk cara pandang pemimpin hari ini.
Kisah Margono mengingatkan bahwa setiap lembaga keuangan besar yang kita kenal sekarang lahir dari perjuangan orang-orang yang berani menentang arus. Di tengah dominasi kapitalisme global, menengok ke belakang menjadi penting: bahwa bank pertama Indonesia berdiri di atas gagasan sederhana bahwa negeri ini harus mampu mengelola uangnya sendiri. Sosok Margono, dengan segala keteguhan dan visinya, adalah salah satu alasan mengapa kita hari ini dapat berbicara tentang sistem perbankan nasional yang berdaulat.
Baca juga:
Comments (0)