Kenangan Bahlil dan Dony Oskaria tentang Kebaikan Rachmat Gobel

Kepergian Rachmat Gobel menyisakan duka mendalam bagi dunia usaha dan politik Tanah Air. Sejumlah tokoh nasional, termasuk Menteri Investasi Bahlil Lahadalia dan pengusaha Dony Oskaria, mengenang alma...

Kenangan Bahlil dan Dony Oskaria tentang Kebaikan Rachmat Gobel

Kepergian Rachmat Gobel menyisakan duka mendalam bagi dunia usaha dan politik Tanah Air. Sejumlah tokoh nasional, termasuk Menteri Investasi Bahlil Lahadalia dan pengusaha Dony Oskaria, mengenang almarhum sebagai sosok yang tidak hanya piawai dalam mengelola bisnis, tetapi juga tulus dalam membimbing generasi penerus. Kenangan itu bukan sekadar tentang capaian korporasi, melainkan tentang kehangatan seorang mentor yang langka.

Kerja Keras Tanpa Henti di Mata Bahlil

Bahlil Lahadalia mengisahkan pertemuan pertamanya dengan Rachmat Gobel di sebuah forum pengusaha muda lebih dari satu dekade silam. Saat itu, Bahlil yang masih merintis karier di luar Pulau Jawa terkesan dengan etos kerja sang senior. "Beliau datang paling awal dan pulang paling akhir di setiap sesi. Itu bukan pencitraan, tapi kebiasaan. Kami yang muda jadi malu kalau tidak mengikuti teladannya," ujar Bahlil. Ia menambahkan, almarhum kerap menekankan bahwa di balik setiap angka laporan keuangan, ada keringat ribuan karyawan yang harus dihargai. Prinsip itu melekat dalam setiap proyek Gobel Group—dari industri elektronik hingga logistik—di mana almarhum memastikan rantai pasok tetap berdenyut meski kondisi makro tidak bersahabat.

Pelindung yang Tulus bagi Junior

Lebih dari sekadar pekerja keras, Rachmat Gobel dikenang sebagai figur yang tak segan membela juniornya. Bahlil menceritakan ketika seorang pengusaha muda salah langkah dalam negosiasi, alih-alih memarahi, almarhum justru berdiri di depan mitra bisnis untuk menjelaskan ulang posisi sang junior. "Beliau bilang, 'anak ini sedang belajar. Kesalahannya adalah kesalahan kami bersama sebagai tim.' Tidak banyak pemimpin yang mau mengambil tanggung jawab seperti itu," kenang Bahlil. Sikap ini, lanjutnya, tidak hanya membangun kepercayaan, tetapi juga menciptakan lingkungan usaha yang sehat. Di sektor manufaktur yang kerap didera tekanan biaya dan persaingan, pendekatan humanis seperti itu menjadi penyangga loyalitas karyawan dan mitra.

Dony Oskaria: Kebaikan Hati di Balik Korporasi Raksasa

Pandangan senada datang dari Dony Oskaria, kolega Rachmat Gobel di berbagai asosiasi pengusaha. Dony mengingat bagaimana almarhum kerap menyisihkan waktu di sela-sela rapat dewan direksi untuk memberikan saran kepada pebisnis pemula yang bahkan tidak memiliki koneksi apa pun. "Beliau tidak pernah memandang latar belakang. Kalau ada yang serius belajar, pintu ruangannya selalu terbuka. Kadang kami malah yang mengingatkan, 'Pak Rachmat, rapat besar sebentar lagi.' Tapi beliau tetap mendengarkan sampai tuntas," ujar Dony. Dalam industri otomotif dan komponen elektronik yang menjadi andalan Gobel Group, sentuhan personal almarhum dirasakan hingga level supervisor pabrik yang mendapat kesempatan pelatihan langsung darinya.

Dari Pabrik ke Parlemen: Jejak yang Menginspirasi

Sebelum dikenal luas di panggung politik sebagai Wakil Ketua DPR, Rachmat Gobel menghabiskan puluhan tahun membenamkan diri di lantai produksi. Ia bukan tipe pemimpin yang hanya membaca laporan dari balik meja; setiap produk baru, mulai dari televisi hingga komponen semikonduktor, melalui pengujian yang ia pantau sendiri. Pendekatan itu membuatnya dihormati bukan hanya oleh kolega, tetapi juga oleh teknisi dan pekerja lapangan. Ketika kemudian beralih ke legislatif, pola pikir yang sama ia bawa: mengedepankan riset dan dialog langsung dengan konstituen. "Beliau ingin kebijakan yang dibuat benar-benar menyentuh rakyat, bukan sekadar angka di atas kertas," kata Bahlil menirukan nasihat almarhum.

Warisan yang Melampaui Aset

Nilai aset dan lini bisnis Gobel Group memang tercatat solid di Otoritas Jasa Keuangan, namun warisan sejati Rachmat Gobel bukanlah itu. Para kolega sepakat bahwa keberaniannya melindungi junior—tanpa pamrih dan tanpa memandang popularitas—menjadi fondasi yang membuat ekosistem wirausaha di Indonesia lebih inklusif. Bagi Bahlil, almarhum adalah bukti bahwa kesuksesan sejati diukur dari seberapa banyak pemimpin yang ia lahirkan, bukan sekadar dari portofolio yang ia miliki. "Indonesia kehilangan seorang guru," ucapnya menutup perbincangan. Kenangan akan kebaikan itu kini menjadi pengingat bahwa di tengah kalkulasi bisnis yang serba cepat, ruang untuk hati dan tanggung jawab sosial tetaplah yang paling mahal.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User