Havana Kembali Gelap Gulita: Pemadaman Total Landa Kuba Akibat Embargo Energi AS

Havana — Rakyat Kuba kembali harus bertahan dalam kegelapan setelah pemadaman listrik nasional (blackout) melumpuhkan seluruh negeri. Krisis energi ini dipicu oleh embargo ketat Amerika Serikat (AS

Jul 08, 2026 - 08:04
0 0
Havana Kembali Gelap Gulita: Pemadaman Total Landa Kuba Akibat Embargo Energi AS

Havana — Rakyat Kuba kembali harus bertahan dalam kegelapan setelah pemadaman listrik nasional (blackout) melumpuhkan seluruh negeri. Krisis energi ini dipicu oleh embargo ketat Amerika Serikat (AS) terhadap pasokan minyak, yang membuat pembangkit-pembangkit listrik utama di pulau Karibia tersebut kehabisan bahan bakar. Pada malam hari, jalanan Havana dan kota-kota besar lainnya berubah menjadi hamparan sunyi tanpa cahaya, mempertegas beratnya isolasi ekonomi yang membekap Kuba.

Menurut laporan yang dihimpun kontributor Beritadua.com di Havana, pemadaman terjadi secara tiba-tiba pada Selasa malam waktu setempat. Otoritas kelistrikan Kuba menyatakan bahwa beberapa pembangkit termal utama terpaksa dihentikan operasinya karena stok bahan bakar menipis drastis. Pemerintah Kuba secara langsung menyalahkan kebijakan embargo AS yang semakin agresif, terutama setelah Washington memperketat pengawasan terhadap pengiriman minyak oleh negara ketiga seperti Meksiko dan Venezuela.

"Kami telah mengalami pemadaman bergilir selama berbulan-bulan, namun kali ini semuanya gelap. Tidak ada lampu jalan, tidak ada listrik di rumah sakit kecil. Kami hanya mengandalkan lilin yang juga harganya semakin mahal," ujar Yadira Suárez, warga distrik Centro Habana yang diwawancarai langsung oleh tim kami.

Akar Krisis dan Tekanan Geopolitik

Embargo perdagangan AS terhadap Kuba telah berlangsung sejak tahun 1960-an, namun eskalasi beberapa tahun terakhir menciptakan dampak yang jauh lebih menghancurkan. Sanksi sekunder yang diterapkan Washington membuat perusahaan pelayaran dan asuransi internasional enggan menangani komoditas energi yang ditujukan ke Kuba, meskipun pasokan berasal dari negara non-AS. Akibatnya, rantai pasok energi Kuba—yang selama ini sangat bergantung pada impor—terputus hampir sepenuhnya.

Data dari Kementerian Energi dan Pertambangan Kuba yang dikutip media kami menunjukkan bahwa konsumsi bahan bakar nasional pada triwulan ini anjlok hingga lebih dari 60 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pembangkit listrik tua peninggalan era Soviet, yang sebelumnya sudah beroperasi di bawah kapasitas optimal, kini benar-benar tak mampu berfungsi. Infrastruktur yang menua menjadi faktor pengali penderitaan di tengah tekanan geopolitik.

Krisis Kemanusiaan di Ujung Kabel Listrik

Dampak pemadaman total ini melampaui sekadar gelapnya malam. Pusat-pusat kesehatan primer terpaksa menunda tindakan medis non-darurat karena ketiadaan listrik untuk peralatan diagnostik dan penyimpanan vaksin. Bahan makanan segar yang disimpan masyarakat di lemari pendingin rusak dalam hitungan jam, menambah beban di tengah inflasi pangan yang sudah sangat tinggi. Sekolah-sekolah di sejumlah provinsi meliburkan kegiatan belajar-mengajar karena ruang kelas tidak memungkinkan untuk digunakan tanpa penerangan dan pendingin ruangan.

Dalam pernyataan resmi yang diperoleh Beritadua.com, pemerintah Kuba menyebut situasi ini sebagai "bentuk perang ekonomi paling kejam yang sengaja menargetkan kehidupan warga sipil." Pihak pemerintah berjanji akan mengimpor generator dan membangun ladang energi surya dalam jangka menengah, tetapi langkah tersebut membutuhkan investasi besar yang sulit direalisasikan di bawah blokade keuangan.

Analis energi regional yang dihubungi media kami menjelaskan bahwa Kuba tengah menghadapi "badai sempurna" krisis energi: tekanan geopolitik eksternal, infrastruktur domestik yang uzur, serta ketidakmampuan finansial untuk membeli bahan bakar dengan harga pasar. Meskipun sekutu seperti Rusia dan Venezuela sesekali mengirimkan bantuan darurat, volumenya tidak cukup untuk menghidupkan kembali jaringan listrik nasional secara berkelanjutan.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada kejelasan kapan listrik akan kembali menyala secara menyeluruh. Pemerintah Kuba optimistis beberapa pembangkit termal dapat beroperasi kembali dalam hitungan hari dengan pasokan yang sangat terbatas, namun rakyat Kuba harus bersiap menghadapi malam-malam panjang dalam kegelapan. Beritadua.com akan terus menyampaikan laporan terbaru dari situasi di Kuba serta dinamika geopolitik yang memicu krisis kemanusiaan ini kepada pembaca setia kami.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User