Harga Telur Anjlok, Peternak Demo dan Buang Produksi
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan pantauan harga pusat pasar per pekan ketiga bulan ini, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan tajam hingga menyentuh kisaran Rp18.000...
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan pantauan harga pusat pasar per pekan ketiga bulan ini, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan tajam hingga menyentuh kisaran Rp18.000–Rp20.000 per kilogram, jauh di bawah harga pokok produksi yang diperkirakan berada di level Rp23.000–Rp24.000 per kilogram. Kondisi ini memicu aksi protes sejumlah peternak ayam petelur yang menuntut pemerintah menstabilkan harga, bahkan sebagian di antaranya membuang hasil produksi sebagai bentuk simbolik kekecewaan terhadap kebijakan pasar yang dinilai tidak berpihak pada produsen kecil.
Anatomi Penurunan Harga di Tingkat Peternak
Secara fundamental, anjloknya harga telur tidak terjadi dalam ruang hampa. Beberapa faktor saling menguatkan. Pertama, oversupply atau kelebihan pasokan akibat lonjakan populasi ayam petelur dalam dua tahun terakhir. Ketika harga sempat tinggi pada periode 2022–2023, banyak peternak melakukan ekspansi kandang tanpa memperhitungkan siklus permintaan. Kedua, melemahnya daya beli rumah tangga yang tercermin dari inflasi pangan bergejolak (volatile food) yang masih fluktuatif, sehingga konsumsi telur di pasar tradisional tidak tumbuh secepat pertambahan pasokan.
Ketiga, tekanan pada harga jagung dan pakan yang meski relatif stabil, tetap menyumbang 65–70 persen dari total biaya produksi. Artinya, ketika harga jual jatuh sementara biaya pakan tidak turun proporsional, margin peternak tergerus hingga mendekati titik impas, bahkan di bawahnya. Dalam bahasa ekonomi, terjadi price-cost squeeze — harga jual tertekan, biaya bertahan, sehingga insentif produksi melemah.
Dua Sisi: Konsumen Diuntungkan, Produsen Tertekan
Di satu sisi, penurunan harga telur menguntungkan konsumen rumah tangga. Telur merupakan sumber protein hewani termurah dan menjadi komponen penting dalam keranjang konsumsi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Dengan harga eceran yang turun, inflasi pangan dapat sedikit tertahan, dan akses protein terjaga. Dari kacamata makro, ini membantu menjaga stabilitas daya beli di tengah tekanan ekonomi global dan ketidakpastian nilai tukar.
Di sisi lain, tekanan berlebihan pada peternak berpotensi menciptakan disinsentif jangka panjang. Jika harga terus di bawah biaya produksi, banyak peternak skala kecil dan menengah akan mengurangi populasi ayam, bahkan gulung tikar. Ketika pasokan berkurang drastis, dalam 6–12 bulan ke depan harga bisa melonjak kembali — pola yang berulang dan dikenal sebagai hog cycle atau siklus harga komoditas peternakan. Ketidakstabilan ini merugikan semua pihak, baik produsen maupun konsumen, karena menciptakan volatilitas harga yang sulit diprediksi.
"Persoalan telur ini bukan sekadar harga sesaat, tetapi soal tata kelola rantai pasok. Kita menghadapi overproduksi tanpa perencanaan, sementara sisi hilir tidak memiliki daya serap yang memadai. Intervensi harus menyentuh hulu dan hilir secara bersamaan, bukan hanya operasi pasar jangka pendek," ujar seorang pengamat ekonomi pertanian dari sebuah lembaga riset independen.
Respons Kebijakan dan Proyeksi ke Depan
Kementerian Perdagangan menyatakan telah melakukan sejumlah langkah, antara lain mendorong penyerapan telur oleh industri pengolahan, membuka jalur ekspor ke negara tetangga, serta mengoordinasikan operasi pasar bersama pemerintah daerah. Namun, efektivitas kebijakan ini bergantung pada kecepatan eksekusi dan kapasitas serap industri hilir. Tanpa penyerapan yang signifikan, surplus pasokan akan tetap menekan harga dalam beberapa bulan mendatang.
Dari sisi proyeksi, jika tidak ada pemangkasan populasi secara terencana atau pembukaan pasar ekspor yang luas, harga telur berpotensi bertahan di level rendah hingga kuartal berikutnya. Sebaliknya, apabila peternak secara masif mengurangi DOC (day old chick) atau ayam afkir, pasokan akan menyusut pada semester kedua dan harga berpotensi berbalik naik. Pola ini menuntut perencanaan produksi yang lebih terukur, termasuk data populasi ternak yang akurat dan sistem peringatan dini terhadap oversupply.
Bagi pelaku pasar, dinamika ini menegaskan pentingnya memahami sentimen pasar dan siklus komoditas. Volatilitas harga telur bukan hanya cerminan interaksi permintaan-penawaran, tetapi juga cermin kelemahan koordinasi antara kebijakan produksi, distribusi, dan konsumsi. Tanpa perbaikan fundamental di sepanjang rantai pasok, aksi protes peternak berpotensi berulang setiap kali siklus harga menekan produsen. Pemerintah perlu memastikan bahwa stabilisasi harga tidak hanya menyasar sisi konsumen, tetapi juga menjaga keberlanjutan usaha peternak sebagai fondasi ketahanan pangan nasional.
Comments (0)