Aug 24, 2026
Bisnis

Harga Minyak Merangkak Mendekati US$100, Ketegangan AS–Iran Kembali Menghangat

Berdasarkan data perdagangan pasar berjangka per Kamis (20/8/2026), harga minyak mentah dunia kembali menanjak dan kini hanya berjarak tipis dari level psikologis US$100 per barel. Kontrak acuan Ameri...

Harga Minyak Merangkak Mendekati US$100, Ketegangan AS–Iran Kembali Menghangat

Berdasarkan data perdagangan pasar berjangka per Kamis (20/8/2026), harga minyak mentah dunia kembali menanjak dan kini hanya berjarak tipis dari level psikologis US$100 per barel. Kontrak acuan Amerika, West Texas Intermediate (WTI), ditutup di kisaran US$98,7 per barel, sementara Brent, patokan utama perdagangan internasional, bergerak di level US$99,4 per barel. Penguatan ini merupakan lanjutan dari tren naik yang berlangsung sepanjang pekan, saat pelaku pasar mulai menghitung ulang risiko gangguan pasokan menyusul memburuknya hubungan Amerika Serikat dan Iran.

Yang menarik, kenaikan kali ini tidak lahir dari lonjakan permintaan riil, melainkan dari faktor geopolitik. Kawasan Timur Tengah memasok sekitar sepertiga kebutuhan minyak dunia, sehingga setiap ketegangan di sana langsung tercermin pada harga. Dalam bahasa sederhana, pasar kini membebankan apa yang disebut risk premium—tambahan harga sebagai kompensasi atas kemungkinan pasokan terganggu. Semakin tinggi ketidakpastian, semakin besar pula premi yang diminta pasar, dan itulah yang terjadi pada pekan ini.

Eskalasi AS–Iran Mengguncang Rute Pasokan

Ketegangan terbaru berpusat pada ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur laut yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Berita soal operasi militer AS di kawasan Teluk membuat para trader langsung memangkas posisi portofolio mereka dan mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Dalam hitungan dua sesi perdagangan, harga minyak mengalami kenaikan lebih dari 4,5 persen, sebuah pergerakan yang tergolong besar untuk komoditas sebesar ini.

Di sisi fundamental, pasar sebenarnya tidak kekurangan minyak dalam jangka pendek. Kapasitas cadangan OPEC+ diperkirakan masih cukup untuk menutup gangguan pasokan sementara. Namun sentimen pasar tidak selalu mengikuti data. “Pasar sedang memperdagangkan skenario terburuk, bukan realitas pasokan hari ini,” ujar seorang analis komoditas di Singapura. Artinya, selama ketegangan belum mereda, harga berpotensi tetap bertahan di zona tinggi meski pasokan fisik belum benar-benar terganggu.

Dua Sisi Membaca Tren Kenaikan

Di satu sisi, narasi suplai yang ketat memang masih mendukung harga. Kebijakan pemangkasan produksi OPEC+ yang berjalan sejak tahun lalu membuat pasokan global cenderung terbatas. Data inventori minyak mentah Amerika juga menunjukkan penurunan 4,2 juta barel pada pekan terakhir, angka yang menandakan permintaan kilang masih solid. Bagi para pendukung tren naik, kombinasi ini adalah alasan kuat mengapa harga bisa menembus US$100 per barel dalam beberapa pekan ke depan.

Di sisi lain, ada sejumlah faktor yang bisa mematahkan kenaikan. Pertama, permintaan dari Tiongkok, importir minyak terbesar dunia, masih lesu. Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur Negeri Tirai Bambu berada di bawah angka 50, yang menandakan kontraksi aktivitas industri, sehingga kebutuhan energinya ikut melemah. Kedua, dolar Amerika yang menguat membuat minyak—yang dibanderol dalam mata uang tersebut—semakin mahal bagi pembeli non-AS, dan secara tidak langsung menekan permintaan. Ketiga, jika tensi geopolitik mereda, premi risiko bisa menguap secepat kemunculannya, sehingga harga berisiko mengalami koreksi tajam. Inilah dilema klasik: pasar yang digerakkan sentimen bisa naik dan turun dengan sama cepatnya.

Dampak bagi Indonesia dan Proyeksi ke Depan

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak adalah pedang bermata dua. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, setiap kenaikan US$10 per barel diperkirakan menambah beban impor migas dan melebarkan defisit transaksi berjalan. Tekanan ini pada akhirnya ikut membebani nilai tukar rupiah dan berpotensi memicu capital outflow dari pasar obligasi domestik, karena investor cenderung menarik dana dari negara berkembang saat risiko global meningkat.

Di sisi fiskal, pemerintah harus menyiapkan tambahan anggaran subsidi energi bila harga acuan ICP (Indonesia Crude Price) melonjak di atas asumsi APBN yang dipatok sekitar US$82 per barel. Setiap kelebihan dari asumsi tersebut akan menambah kebutuhan kompensasi BBM dan listrik, yang berujung pada beban fiskal lebih besar atau, jika tidak diakomodasi, tekanan inflasi yang lebih tinggi. Bank Indonesia pun dihadapkan pada dilema: menahan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah, atau melonggarkannya untuk mendorong pertumbuhan.

Untuk sisa tahun 2026, mayoritas lembaga riset memproyeksikan harga minyak rata-rata berada di kisaran US$85 hingga US$95 per barel, dengan asumsi konflik tidak meluas. Namun proyeksi semacam ini sangat rapuh karena satu faktor—geopolitik—tidak bisa dihitung secara matematis. Yang bisa dipastikan hanyalah bahwa volatilitas akan tetap tinggi dan likuiditas di pasar komoditas akan terus diuji oleh setiap berita dari kawasan Teluk. Bagi pengamat, sikap yang paling bijak adalah mencermati data pasokan aktual daripada sekadar mengejar pergerakan harga harian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User