Harga Minyak Jatuh 5% Pasca Gencatan Senjata AS-Iran

Pasar minyak mentah global mencatat penurunan tajam pada sesi perdagangan Senin, dengan harga minyak jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masing-masing terkoreksi hingga lebih dari 5%. Koreks...

Jul 28, 2026 - 06:53
0 0
Harga Minyak Jatuh 5% Pasca Gencatan Senjata AS-Iran

Pasar minyak mentah global mencatat penurunan tajam pada sesi perdagangan Senin, dengan harga minyak jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masing-masing terkoreksi hingga lebih dari 5%. Koreksi ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran secara terpisah menyatakan akan menghentikan aksi saling serang yang telah meningkatkan risiko geopolitik di Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir. Sentimen pasar segera berbalik dari kekhawatiran gangguan pasokan menjadi optimisme terhadap stabilitas kawasan.

Eskalasi Singkat yang Mengguncang Pasar

Sepekan terakhir, ketegangan antara Washington dan Teheran memuncak menyusul serangkaian insiden militer di sekitar perairan strategis Selat Hormuz. Kedua negara saling meluncurkan serangan terbatas terhadap posisi militer, yang memicu kekhawatiran akan terganggunya jalur perdagangan minyak dunia. Harga minyak sempat melonjak hingga di atas USD 80 per barel pada akhir pekan lalu karena spekulasi pasokan yang bakal terhambat. Pasar dibayangi risiko blokade jalur laut yang memasok sekitar seperlima kebutuhan minyak global.

Namun, pada Minggu malam waktu setempat, kedua pihak mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Pemerintah AS melalui juru bicara Gedung Putih mengumumkan penghentian seluruh operasi ofensif, sementara Iran melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan kesediaan untuk menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi. Komunikasi ini menjadi sinyal de-eskalasi yang langsung disambut positif oleh pelaku pasar, mengikis premi risiko yang sempat tertanam di harga.

Reaksi Pasar yang Cepat

Begitu pasar dibuka hari Senin, harga minyak mentah langsung ambles. Brent turun 5,2% ke posisi USD 74,3 per barel, sedangkan WTI merosot 5,4% menjadi USD 69,8 per barel. Penurunan ini merupakan yang terdalam sejak kuartal pertama tahun ini, menandai berakhirnya premi risiko geopolitik yang sempat menggelembungkan harga. Volume perdagangan melonjak di atas rata-rata, menandakan aksi jual besar-besaran oleh dana lindung nilai dan spekulan.

Analis menyebut bahwa pelaku pasar melakukan aksi ambil untung (profit taking) besar-besaran setelah sebelumnya harga sempat overbought. Sentimen risk-off yang sempat mendominasi kini berganti menjadi optimisme bahwa pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah akan kembali stabil. "Penurunan mendadak ini adalah koreksi alami setelah pasar terlalu membebankan risiko geopolitik yang belum tentu terwujud. Dengan de-eskalasi, fundamental kembali menjadi acuan," ujar Dr. Andrianto, ekonom senior LPEM FEB UI.

Dampak pada Ekonomi Global dan Domestik

Turunnya harga minyak mentah dunia disambut baik oleh negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia. Harga minyak yang lebih rendah berpotensi menekan biaya subsidi energi dalam APBN, serta meredakan tekanan inflasi dari sisi imported inflation. Namun bagi negara produsen, seperti Arab Saudi dan Rusia, koreksi ini dapat mengurangi pendapatan fiskal dan mengganggu target anggaran mereka.

Di dalam negeri, PT Pertamina (Persero) dapat mempertimbangkan penyesuaian harga BBM non-subsidi jika tren penurunan berlanjut. Akan tetapi, pemerintah biasanya menunggu pergerakan harga minyak yang stabil selama minimal dua pekan sebelum mengambil kebijakan, mengingat fluktuasi jangka pendek kerap terjadi. Menteri Keuangan menyatakan akan terus memonitor perkembangan dan siap mengambil langkah antisipatif.

Prospek ke Depan: Tetap Waspada terhadap Gejolak Baru

Meski gencatan senjata sementara ini memberikan kelegaan, para pengamat mengingatkan bahwa akar masalah antara AS dan Iran belum terselesaikan. Ketegangan terkait program nuklir dan proxy conflict di kawasan tetap menjadi ancaman laten. Oleh karena itu, harga minyak dapat kembali bergejolak jika ada insiden baru. Untuk saat ini, pasar akan mencermati data stok minyak AS dan pertemuan OPEC+ selanjutnya sebagai faktor penentu arah harga.

Secara teknikal, level support Brent kini berada di kisaran USD 72, dan jika tertembus, potensi penurunan lebih lanjut menuju USD 70 terbuka. Namun, fundamental pasokan yang ketat akibat pemangkasan produksi OPEC+ masih menjadi bantalan bagi harga minyak. Bank sentral juga akan melihat ini sebagai faktor positif untuk perjuangan melawan inflasi, yang bisa berdampak pada kebijakan suku bunga ke depan. Ke depan, kestabilan kawasan Timur Tengah akan menjadi kunci bagi pergerakan harga komoditas energi global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User