Harga Minyak Dunia Anjlok 5 Persen ke US$91 Setelah AS-Iran Gencatan Senjata

Pasar energi global bernapas lega pada awal pekan ini. Harga minyak mentah dunia mengalami koreksi tajam lebih dari lima persen, menetap di level US$91 per barel, menyusul keputusan Amerika Serikat da...

Jul 27, 2026 - 22:38
0 0
Harga Minyak Dunia Anjlok 5 Persen ke US$91 Setelah AS-Iran Gencatan Senjata

Pasar energi global bernapas lega pada awal pekan ini. Harga minyak mentah dunia mengalami koreksi tajam lebih dari lima persen, menetap di level US$91 per barel, menyusul keputusan Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan sementara aksi militer selama akhir pekan. Penurunan ini menjadi titik balik setelah sebelumnya harga sempat melambung akibat eskalasi konflik yang mengancam pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Meredanya Ketegangan Mendorong Aksi Jual

Sentimen pasar berubah drastis setelah kedua negara menyepakati jeda serangan. Sebelumnya, kekhawatiran akan gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz—jalur vital yang dilewati sekitar seperlima dari pasokan minyak global—telah memicu kenaikan harga hingga menembus angka psikologis US$100 per barel. Begitu berita gencatan senjata tersiar, investor yang semula memborong kontrak berjangka sebagai lindung nilai bergegas melepas posisi mereka. Aksi ambil untung besar-besaran ini menekan harga minyak mentah jenis Brent maupun West Texas Intermediate (WTI).

Data menunjukkan bahwa kontrak Brent untuk pengiriman September ditutup pada level US$91,20 per barel, merosot 5,1 persen dibandingkan penutupan Jumat sebelumnya. Sementara itu, WTI terpangkas 5,4 persen ke posisi US$87,55 per barel. Volume perdagangan melonjak tajam, menandakan perubahan posisi yang cepat di kalangan hedge fund dan spekulan.

Dampak Terhadap Proyeksi Inflasi dan Kebijakan Moneter

Penurunan harga minyak ini membawa angin segar bagi bank sentral di berbagai negara yang tengah berjuang meredam inflasi. Biaya energi merupakan komponen utama dalam keranjang indeks harga konsumen. Dengan meredanya harga minyak, tekanan terhadap daya beli masyarakat di negara pengimpor netto minyak seperti Indonesia berpotensi berkurang.

Di sisi lain, volatilitas harga tetap menjadi ancaman. Meski gencatan senjata berlangsung, fundamental geopolitik belum sepenuhnya pulih. Setiap pernyataan baru dari Washington atau Teheran dapat dengan mudah memicu kembali gejolak. Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada data inventaris minyak mentah AS yang akan dirilis oleh Energy Information Administration. Jika stok menunjukkan peningkatan, penurunan harga bisa berlanjut. Namun bila terjadi penurunan stok yang tidak terduga, harga bisa kembali memantul.

Perubahan Arus Modal di Pasar Negara Berkembang

Bagi pasar keuangan Indonesia, koreksi harga minyak memberikan dua dampak sekaligus. Pertama, beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi menyusut. Asumsi harga minyak dalam APBN 2025 ditetapkan sekitar US$82–85 per barel. Dengan harga yang kini mendekati kisaran tersebut, risiko pelebaran defisit fiskal sedikit berkurang.

Kedua, penurunan ketegangan global mendorong kembalinya minat investor terhadap aset berisiko di negara berkembang. Indeks obligasi pemerintah Indonesia berpotensi menguat, dan arus modal asing yang sempat keluar (capital outflow) dapat berbalik masuk. Namun, pelaku pasar tetap waspada. Premi risiko geopolitik masih melekat. Dana asing yang masuk pun cenderung bersifat jangka pendek dan sensitif terhadap perubahan sentimen.

Di kawasan Asia, bursa saham Tokyo dan Shanghai dibuka menguat, sementara indeks harga saham gabungan di Jakarta juga menghijau. Sektor transportasi dan konsumen tercatat sebagai penerima manfaat terbesar dari pelemahan harga energi.

Proyeksi Pergerakan Harga Jangka Pendek

Analis memperkirakan bahwa selama saluran komunikasi antara AS dan Iran tetap terbuka, harga minyak akan terkonsolidasi di rentang US$88–95 per barel. Fokus pasar berikutnya tertuju pada pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan dalam beberapa pekan mendatang. Aliansi produsen tersebut akan meninjau kembali kuota produksi yang telah berjalan. Jika permintaan global menunjukkan perlambatan, ada kemungkinan kelompok itu menunda rencana penambahan pasokan.

Dari sudut pandang teknikal, level support terdekat untuk Brent berada di US$90 per barel. Penembusan di bawah level tersebut dapat membuka jalan menuju US$87. Resistensi kuat berada di US$95, yang hanya akan tertembus jika terjadi kejutan sisi pasokan baru.

Secara keseluruhan, meskipun penurunan hari Senin tergolong signifikan, pasar belum sepenuhnya kembali ke era harga rendah. Fondasi keseimbangan pasokan-permintaan global masih rapuh. Pemulihan ekonomi Tiongkok yang lambat, kebijakan transisi energi, serta faktor cuaca ekstrem di Teluk Meksiko tetap menjadi variabel yang dapat mengubah arah harga sewaktu-waktu. Investor disarankan untuk tetap menjaga likuiditas portofolio dan tidak terlena oleh euforia sesaat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User