Harga Ayam Ras dan Telur Naik Signifikan di Jakarta, Ini Penyebabnya

Jakarta – Harga daging ayam ras dan telur ayam di sejumlah pasar tradisional di Jakarta melonjak signifikan dalam sepekan terakhir. Pantauan di Pasar Kramat Jati, Pasar Senen, dan Pasar Minggu, harg...

Jul 27, 2026 - 21:35
0 0
Harga Ayam Ras dan Telur Naik Signifikan di Jakarta, Ini Penyebabnya

Jakarta – Harga daging ayam ras dan telur ayam di sejumlah pasar tradisional di Jakarta melonjak signifikan dalam sepekan terakhir. Pantauan di Pasar Kramat Jati, Pasar Senen, dan Pasar Minggu, harga daging ayam ras potong yang sebelumnya berada di kisaran Rp38.000 per kilogram, kini melambung ke Rp44.000 hingga Rp46.000. Sementara telur ayam ras naik dari sekitar Rp28.000 per kilogram menjadi Rp32.000–Rp34.000.

Kenaikan ini terjadi menjelang pekan ketiga bulan Juli, yang biasanya mulai dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan musiman serta faktor-faktor produksi. Pedagang mengaku harga dari pemasok sudah naik sejak awal pekan, memaksa mereka menyesuaikan banderol di lapak. “Kami hanya mengikuti harga dari distributor. Kalau tidak dinaikkan, modal tidak kembali,” ujar Andi, pedagang ayam di Pasar Kramat Jati, Selasa (22/7).

Pendorong Kenaikan: Cuaca dan Biaya Pakan

Menurut sejumlah pengamat ekonomi dan pelaku usaha peternakan, faktor cuaca yang tidak menentu dan kenaikan biaya pakan ternak menjadi pemicu utama lonjakan harga. Hujan yang masih turun di beberapa daerah sentra peternakan seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur mengganggu distribusi, sementara harga jagung sebagai bahan baku pakan naik sekitar 10% dalam sebulan terakhir. Selain itu, keterbatasan pasokan bibit ayam (DOC) akibat adanya penyesuaian produksi oleh perusahaan pembibitan turut memperketat suplai.

Data dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mencatat bahwa pasokan daging ayam ras dari daerah produsen melalui Pasar Induk Kramat Jati mengalami penurunan volume hingga 15% dibandingkan minggu sebelumnya. Sementara permintaan dari rumah tangga dan warung makan justru stabil, sehingga menciptakan tekanan harga ke atas.

Dampak pada Konsumen dan Pedagang

Lonjakan harga ini langsung terasa di kalangan ibu rumah tangga. Winarti (38), warga Matraman, mengaku mengurangi porsi belanja ayam. “Biasanya beli satu kilo setiap dua hari, sekarang saya bagi setengah, sisanya diganti tempe,” keluhnya. Pedagang warung nasi juga mulai mengeluh karena harus memilih antara menaikkan harga jual atau merugi.

Di sisi pedagang, omzet turun drastis karena pembeli beralih ke protein nabati atau ikan yang harganya lebih stabil. “Biasanya sehari bisa jual 30 ekor, sekarang paling 20 ekor saja. Kadang ada yang nanya terus pergi begitu tahu harga,” tutur Siti, pedagang di Pasar Minggu. Kondisi ini dikhawatirkan akan berlanjut jika pasokan tidak segera normal.

Respons dan Strategi Pemerintah

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas KPKP menyatakan akan mengintensifkan operasi pasar dan berkoordinasi dengan pemasok dari luar daerah untuk memastikan kelancaran pasokan. “Kami sudah komunikasi dengan peternak dan distributor besar. Dalam waktu dekat akan ada tambahan pasokan dari Blitar dan Lampung untuk menstabilkan harga,” ujar Kepala Bidang Distribusi dan Harga Pangan Dinas KPKP, Budi Santoso, dalam pernyataan resmi.

Selain itu, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta akan memantau pergerakan harga dan mengantisipasi kemungkinan spekulasi pedagang. Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan DKI juga turut menyarankan operasi pasar murah sebagai langkah cepat meredam gejolak.

Konteks Inflasi Pangan dan Proyeksi

Kenaikan harga ayam dan telur ini berkontribusi pada lonjakan indeks harga pangan di Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Juni lalu, bulan Ramadhan dan Lebaran sempat mendorong inflasi pangan, namun kemudian melandai. Kini, faktor musiman dan gangguan suplai memicu kembali pergerakan. Ekonom dari Universitas Indonesia, Dr. Haryo Kuncoro, menjelaskan bahwa fenomena ini perlu diwaspadai karena dapat memicu inflasi inti. “Jika harga dua komoditas ini terus naik, dampaknya akan menyebar ke makanan jadi dan transportasi. Ini inflasi generasi kedua,” katanya.

Proyeksi ke depan, jika cuaca membaik dan distribusi lancar, harga diperkirakan akan kembali turun dalam dua hingga tiga pekan. Namun, jika kenaikan harga pakan berlanjut, tekanan akan tetap ada. Masyarakat pun diimbau untuk tidak melakukan panic buying dan memanfaatkan komoditas substitusi.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian juga telah berjanji akan menambah pasokan jagung dari Sulawesi untuk menekan biaya pakan, serta memberikan kredit lunak bagi peternak kecil agar produksi tetap berjalan. Sementara itu, asosiasi peternak meminta relaksasi aturan impor pakan untuk meredam beban biaya.

Kenaikan harga ini menjadi pengingat akan rapuhnya sistem distribusi pangan di Indonesia, terutama di kota besar seperti Jakarta yang sangat bergantung pada pasokan dari daerah. Dengan pola konsumsi yang tinggi, setiap gangguan di hulu langsung berdampak pada hilir dan menggerus daya beli masyarakat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User