Harga Ayam di Kandang Anjlok, Peternak Terjepit Biaya Pakan

Harga ayam ras pedaging di tingkat peternak mengalami penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir, memicu keluhan luas dari kalangan peternak yang menilai struktur biaya produksi tidak lagi sebandin...

Oct 09, 2026 - 19:25
0 7
Harga Ayam di Kandang Anjlok, Peternak Terjepit Biaya Pakan

Harga ayam ras pedaging di tingkat peternak mengalami penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir, memicu keluhan luas dari kalangan peternak yang menilai struktur biaya produksi tidak lagi sebanding dengan harga jual di kandang. Berdasarkan data yang dihimpun dari sejumlah asosiasi peternak dan pantauan pasar unggas nasional, harga di tingkat kandang kini bergerak di kisaran yang jauh di bawah harga pokok produksi, sementara harga di tingkat konsumen akhir relatif tidak turun dengan proporsi yang sama. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang efisiensi rantai pasok dan distribusi komoditas pangan hewani strategis tersebut.

Tekanan Biaya Pakan dan Struktur Produksi

Di satu sisi, anjloknya harga ayam di kandang tidak dapat dilepaskan dari beban biaya pakan yang menyerap sekitar 70-75 persen dari total struktur biaya produksi peternak mandiri. Harga jagung dan bungkil kedelai sebagai komponen utama pakan mengalami fluktuasi yang dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta harga komoditas global. Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan baku pakan mengalami kenaikan, sehingga tekanan margin semakin terasa. Kondisi ini diperparah oleh sifat produksi ayam ras yang tidak bisa dihentikan secara mendadak, karena siklus pemeliharaan membutuhkan waktu sekitar 30-35 hari dari DOC hingga siap panen.

Di sisi lain, melimpahnya pasokan akibat panen raya yang bersamaan di beberapa sentra produksi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur menciptakan kelebihan suplai jangka pendek. Ketika volume panen terkonsentrasi pada periode yang sama, harga di tingkat kandang otomatis tertekan karena tengkulak dan rumah potong memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Persoalan ini sejatinya merupakan pola musiman yang berulang setiap tahun, namun intensitasnya tahun ini dinilai lebih dalam karena lemahnya daya serap pasar di tengah perlambatan konsumsi rumah tangga.

Respons Pemerintah dan Kesenjangan Rantai Pasok

Kementerian Pertanian menyatakan tengah menelaah akar persoalan anjloknya harga di tingkat peternak, termasuk kemungkinan intervensi pasar melalui penyerapan kelebihan pasokan dan koordinasi dengan pemerintah daerah. Namun, sejumlah pengamat menilai langkah responsif semacam itu bersifat jangka pendek dan tidak menyelesaikan masalah fundamental berupa panjangnya rantai distribusi. Selisih harga antara kandang dan konsumen yang mencapai 40-60 persen menunjukkan adanya margin besar yang dinikmati oleh lapisan pedagang perantara, bukan oleh peternak maupun konsumen.

"Persoalan harga ayam bukan semata soal pasokan dan permintaan harian, tetapi soal tata kelola rantai pasok yang belum terintegrasi dari hulu ke hilir," ujar seorang pengamat ekonomi pertanian dalam sebuah diskusi panel industri unggas nasional.

Dari kacamata ekonomi makro, sektor peternakan rakyat menyumbang porsi signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di pedesaan. Ketika harga di kandang jatuh di bawah biaya produksi secara berkepanjangan, risiko yang muncul adalah pengurangan populasi ternak, penurunan kapasitas produksi nasional, dan pada akhirnya berpotensi memicu inflasi pangan di kemudian hari akibat berkurangnya pasokan. Ini merupakan paradoks klasik dalam ekonomi pertanian: harga rendah hari ini dapat menjadi harga tinggi esok hari karena respons pasokan yang tertunda.

Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan

Proyeksi jangka menengah menunjukkan bahwa tanpa perbaikan struktural, volatilitas harga ayam akan terus berulang. Beberapa analis memperkirakan harga di tingkat kandang berpotensi mengalami pemulihan bertahap apabila terjadi penyesuaian populasi dan permintaan meningkat pada periode menjelang hari besar keagamaan. Namun, pemulihan itu bersifat sementara jika tidak diikuti dengan kebijakan yang mendorong efisiensi pakan, penguatan koperasi peternak, serta transparansi informasi harga di seluruh tingkatan pasar.

Valuasi usaha peternakan rakyat saat ini berada dalam tekanan, dengan rasio margin yang tipis bahkan negatif bagi sebagian peternak mandiri. Likuiditas usaha pun terganggu karena peternak harus tetap membeli pakan tunai sementara penerimaan dari penjualan ayam menurun. Dalam konteks ini, sentimen pasar terhadap sektor unggas cenderung hati-hati, tercermin dari menurunnya minat sebagian peternak untuk menambah DOC pada siklus berikutnya.

Kesimpulannya, persoalan harga ayam yang anjlok di kandang merupakan cerminan dari kombinasi tekanan biaya, kelebihan pasokan musiman, dan lemahnya tata kelola rantai pasok. Di satu sisi, konsumen diuntungkan oleh harga yang relatif terjangkau; di sisi lain, keberlanjutan usaha peternak rakyat terancam apabila disparitas harga dan struktur biaya tidak segera dibenahi. Tanpa intervensi yang menyentuh akar masalah, siklus boom and bust harga ayam akan terus menjadi bumerang bagi ketahanan pangan nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User