Greenland Rekrut Pekerja Asia Tenggara, Vietnam Larang Kerja Pijat

NUUK, Beritadua.com — Dua kabar dari dua kutub berbeda menyorot potret migrasi tenaga kerja Asia Tenggara yang kian kompleks. Di satu sisi, Greenland — pul

Aug 12, 2026 - 11:42
0 0
Greenland Rekrut Pekerja Asia Tenggara, Vietnam Larang Kerja Pijat

NUUK, Beritadua.com — Dua kabar dari dua kutub berbeda menyorot potret migrasi tenaga kerja Asia Tenggara yang kian kompleks. Di satu sisi, Greenland — pulau terbesar di dunia — kini bergantung pada pekerja asal Filipina dan Thailand untuk mengisi kekosongan tenaga kerja yang tak mampu dipenuhi penduduk lokal. Di sisi lain, pemerintah Vietnam justru mengusulkan larangan total bagi warganya untuk bekerja di sektor pijat di luar negeri demi melindungi mereka dari perdagangan manusia.

Fenomena ini memperlihatkan dua wajah sekaligus dari arus migrasi tenaga kerja Asia Tenggara: tingginya permintaan global terhadap pekerja asal kawasan ini, sekaligus kerentanan yang terus membayangi mereka di perantauan.

Filipina dan Thailand Jadi Komunitas Asing Terbesar di Greenland

Wilayah Arktik berpenduduk sekitar 57.000 jiwa itu menghadapi krisis tenaga kerja yang serius. Jumlah penduduk yang kecil, ditambah tren kaum mudanya yang merantau ke Denmark untuk pendidikan dan pekerjaan, membuat banyak sektor di Greenland kekurangan pekerja.

Kondisi tersebut membuka jalan bagi para pekerja asing. Kini, warga Filipina dan Thailand tercatat sebagai dua komunitas asing terbesar di Greenland. Mereka mengisi berbagai posisi yang selama ini kosong, mulai dari industri perikanan dan pengolahan hasil laut — tulang punggung ekonomi Greenland — hingga sektor jasa, perhotelan, perawatan, dan layanan rumah tangga.

  • Populasi Greenland hanya sekitar 57.000 jiwa, tersebar di wilayah Arktik yang luas.
  • Pekerja Filipina dan Thailand menjadi dua kelompok asing terbesar di pulau itu.
  • Sektor yang paling banyak menyerap tenaga asing meliputi perikanan, jasa, dan perhotelan.
  • Kesenjangan tenaga kerja dipicu arus keluar kaum muda ke Denmark dan keterbatasan demografi lokal.

Kehadiran pekerja Asia Tenggara di Kutub Utara menegaskan reputasi kawasan ini sebagai salah satu lumbung tenaga kerja dunia. Filipina, misalnya, telah puluhan tahun mengirimkan jutaan warganya ke berbagai penjuru planet — dari Teluk Persia hingga kini ke perairan beku Arktik. Pemerintah setempat memandang kehadiran para pekerja asing ini sebagai penyangga penting agar roda ekonomi wilayah tetap berputar.

Vietnam Usulkan Larangan Total Kerja Pijat di Luar Negeri

Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya, pemerintah Vietnam mengambil langkah yang nyaris berlawanan. Hanoi mengusulkan pelarangan bagi pekerja Vietnam untuk mengambil pekerjaan pijat di luar negeri dalam bentuk apa pun.

Usulan ini merupakan bagian dari upaya memperketat aturan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. Pemerintah beralasan bahwa sektor pijat selama ini menjadi salah satu pintu masuk praktik kejahatan lintas negara.

"Larangan yang lebih luas ini bertujuan mengurangi paparan para pekerja terhadap perdagangan manusia, eksploitasi, dan kerja paksa," demikian alasan yang dikemukakan pemerintah Vietnam dalam usulan tersebut.

Kekhawatiran Hanoi bukan tanpa dasar. Selama bertahun-tahun, sejumlah kasus menimpa warga Vietnam yang berangkat dengan janji pekerjaan sah di sektor jasa dan perawatan, namun berujung pada penyekapan, pemaksaan kerja, hingga eksploitasi seksual. Sindikat perdagangan manusia kerap menyamar sebagai agen penyalur resmi, menjerat korban dengan utang biaya keberangkatan yang membengkak.

Vietnam sendiri merupakan salah satu negara pengekspor tenaga kerja terbesar di Asia, mengirim lebih dari seratus ribu pekerja setiap tahun ke berbagai negara tujuan seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Remitansi dari para pekerja migran menjadi sumber devisa yang signifikan bagi perekonomian nasional.

Dilema Perlindungan Versus Penghidupan

Meski niat perlindungan itu diapresiasi, usulan larangan total memicu perdebatan. Sejumlah pengamat ketenagakerjaan menilai kebijakan berbasis larangan kerap melahirkan konsekuensi tak terduga.

"Larangan menyeluruh sering kali tidak menghentikan arus migrasi, melainkan hanya mendorongnya ke jalur ilegal. Dan di jalur ilegal itulah pekerja justru kehilangan seluruh perlindungan hukum," ujar seorang pengamat migrasi di kawasan Asia Tenggara.

Kritikus berpendapat pendekatan yang lebih efektif adalah memperkuat pengawasan terhadap agen penyalur, memperketat kontrak kerja, serta menjalin perjanjian bilateral dengan negara tujuan — bukan menutup satu sektor pekerjaan sepenuhnya. Sebab, bagi banyak keluarga miskin di pedesaan Vietnam, bekerja ke luar negeri tetap menjadi satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan.

Asia Tenggara di Persimpangan Migrasi Global

Dua peristiwa ini pada akhirnya bercerita tentang hal yang sama: tenaga kerja Asia Tenggara semakin dibutuhkan dunia, tetapi perlindungan terhadap mereka belum berbanding lurus dengan permintaan tersebut. Greenland membuka pintunya lebar-lebar karena tak punya pilihan demografis lain, sementara Vietnam memilih menarik rem darurat demi keselamatan warganya.

Ke depan, tantangan bagi negara-negara pengirim tenaga kerja adalah menemukan keseimbangan — memastikan warganya bisa mengakses peluang ekonomi global, tanpa harus mempertaruhkan martabat dan keselamatan mereka di negeri orang.

[SOCIAL_TWEET]: Greenland yang berpenduduk 57 ribu jiwa kini bergantung pada pekerja Filipina & Thailand. Sementara itu, Vietnam justru melarang warganya kerja pijat di luar negeri. Dua wajah migrasi Asia Tenggara. #Greenland #Vietnam #PekerjaMigran[SOCIAL_TG]: 🌏 Greenland kekurangan pekerja, Asia Tenggara jadi solusi. 🇻🇳 Vietnam justru melarang warganya kerja pijat di luar negeri. Permintaan tinggi vs perlindungan pekerja — baca selengkapnya di Beritadua.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User