Oct 10, 2026
Bisnis

Geopolitik Selat Hormuz dan Tekanan Baru pada Ekonomi Global

Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik per akhir kuartal ketiga 2026, perekonomian nasional masih mencatatkan pertumbuhan year-on-year sebesar 5,02 persen, dengan inflasi terkendali...

Geopolitik Selat Hormuz dan Tekanan Baru pada Ekonomi Global

Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik per akhir kuartal ketiga 2026, perekonomian nasional masih mencatatkan pertumbuhan year-on-year sebesar 5,02 persen, dengan inflasi terkendali di kisaran 2,4 persen. Namun, di balik angka domestik yang relatif stabil itu, muncul kekhawatiran baru dari sisi eksternal. Menteri Keuangan Suahasil Nazara secara terbuka menyoroti manuver geopolitik Amerika Serikat yang dinilai memiliki agenda tersendiri terhadap kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia setiap harinya.

Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika politik. Selat Hormuz adalah simpul logistik energi global yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Ketika tensi di kawasan itu meningkat, dampaknya menjalar cepat ke pasar keuangan, harga komoditas, hingga portofolio investasi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam bahasa sederhana, Hormuz adalah salah satu urat nadi perdagangan dunia; jika terganggu, biaya logistik dan premi risiko naik hampir di seluruh belahan bumi.

Fundamental Domestik Masih Terjaga, tetapi Sentimen Pasar Berubah

Di satu sisi, indikator fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Rasio utang terhadap produk domestik bruto berada di kisaran 38,5 persen, jauh di bawah ambang batas aman 60 persen. Cadangan devisa tercatat sekitar 150 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai sekitar 6,3 bulan impor. Likuiditas perbankan pun longgar, dengan loan-to-deposit ratio di level 84 persen dan suku bunga acuan yang relatif stabil. Dari kacamata fundamental, tidak ada alasan mendesak bagi investor untuk menarik dana secara besar-besaran.

Di sisi lain, sentimen pasar tidak selalu tunduk pada angka fundamental. Ketegangan di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Setiap kenaikan 10 dolar AS per barel diperkirakan menambah tekanan pada inflasi domestik hingga 0,3 sampai 0,4 poin persentase, sekaligus melebarkan defisit neraca perdagangan migas. Bagi Indonesia yang masih net importir minyak, kondisi ini memperbesar kebutuhan devisa dan menekan nilai tukar rupiah. Proyeksi sejumlah lembaga menunjukkan rupiah berpotensi melemah ke kisaran 16.200 hingga 16.500 per dolar AS jika konflik memanas berkepanjangan.

"Amerika punya tujuannya sendiri ingin menguasai Selat Hormuz, menyerang negara lain," ujar Suahasil, mengingatkan bahwa dimensi geopolitik kini menjadi variabel yang tak terpisahkan dari analisis ekonomi makro.

Risiko Capital Outflow dan Valuasi Aset Berisiko

Pasar keuangan Indonesia sangat sensitif terhadap perubahan selera risiko global. Ketika ketegangan geopolitik memuncak, investor institusi cenderung memindahkan portofolio ke aset safe haven seperti obligasi pemerintah AS, emas, dan franc Swiss. Akibatnya, negara berkembang berpotensi mengalami capital outflow. Pada periode-periode tekanan sebelumnya, aliran keluar dana asing dari pasar Surat Berharga Negara sempat menyentuh Rp12 triliun hingga Rp18 triliun dalam hitungan pekan.

Pro: sebagian analis menilai Indonesia masih punya bantalan kuat. Pertumbuhan kredit yang positif, konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 53 persen PDB, serta harga komoditas seperti batu bara dan crude palm oil yang kembali menguat bisa menopang penerimaan ekspor. Valuasi pasar saham domestik pun terbilang murah, dengan rasio harga terhadap laba di kisaran 12,8 kali, di bawah rata-rata lima tahun. Ini bisa menjadi daya tarik bagi investor jangka panjang yang mencari entry point.

Kontra: risiko eksternal tidak bisa diremehkan. Jika eskalasi berlanjut, premi risiko negara atau credit default swap bisa melebar, biaya penerbitan obligasi global naik, dan ruang fiskal menyempit. Pemerintah mungkin perlu menyesuaikan asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, terutama asumsi harga minyak dan nilai tukar. Tekanan pada subsidi energi juga berpotensi membengkak, mengingat setiap kenaikan harga minyak global berdampak langsung pada ICP dan beban kompensasi.

Proyeksi dan Sikap yang Dibutuhkan

Ke depan, arah ekonomi sangat bergantung pada dua hal: seberapa cepat ketegangan di Selat Hormuz mereda, dan seberapa sigap otoritas domestik merespons gejolak pasar. Bank Indonesia diperkirakan mempertahankan kebijakan moneter hati-hati, dengan intervensi di pasar valas dan pembelian SBN di pasar sekunder sebagai instrumen stabilisasi. Dari sisi fiskal, pemerintah perlu menjaga kredibilitas defisit di bawah 3 persen PDB agar kepercayaan investor tetap terjaga.

Kesimpulannya, narasi geopolitik tentang Selat Hormuz bukan hanya soal peta kekuatan militer, melainkan soal harga minyak, arus modal, dan stabilitas nilai tukar. Indonesia berada di posisi yang relatif aman secara fundamental, tetapi tetap rentan terhadap guncangan sentimen pasar. Dalam situasi seperti ini, disiplin kebijakan dan komunikasi publik yang terukur menjadi kunci. Tanpa itu, tren capital outflow dan pelemahan valuasi aset berisiko bisa berlanjut lebih lama dari yang diperkirakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User