Ekonomi RI Terjebak di Kisaran 5 Persen, Ini Syarat untuk Tumbuh Tinggi
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, produk domestik bruto (PDB) Indonesia sepanjang 2024 tercatat tumbuh 5,03 persen year-on-year, melambat tipis dibandingkan capaian 2023 ...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, produk domestik bruto (PDB) Indonesia sepanjang 2024 tercatat tumbuh 5,03 persen year-on-year, melambat tipis dibandingkan capaian 2023 sebesar 5,05 persen. Angka ini memperpanjang tren pertumbuhan ekonomi nasional yang seakan terkunci di kisaran 5 persen sejak satu dekade terakhir. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan 2025 berada pada rentang 4,7 hingga 5,5 persen, sementara pemerintah menargetkan akselerasi hingga 8 persen dalam lima tahun ke depan.
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J Rachbini, menilai stagnasi pertumbuhan di level 5 persen bukan fenomena sesaat, melainkan cerminan persoalan struktural yang belum terselesaikan. Menurutnya, ekonomi Indonesia sebenarnya memiliki peluang tumbuh lebih tinggi, tetapi terdapat sejumlah prasyarat fundamental yang harus dipenuhi terlebih dahulu.
Struktur Ekonomi yang Menahan Akselerasi
Persoalan pertama terletak pada komposisi PDB yang masih didominasi konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sekitar 53 persen. Konsumsi memang menjaga stabilitas, tetapi memiliki daya dorong terbatas karena pertumbuhannya cenderung linier mengikuti pendapatan masyarakat. Di sisi lain, sektor manufaktur — yang secara historis menjadi mesin pertumbuhan negara berkembang — terus mengalami penurunan kontribusi dari sekitar 32 persen terhadap PDB pada awal 2000-an menjadi di bawah 19 persen saat ini. Fenomena yang disebut deindustrialisasi dini ini membuat ekonomi kehilangan sumber pertumbuhan berkualitas tinggi.
"Pertumbuhan 5 persen itu sebenarnya hasil dari mesin ekonomi lama yang mengandalkan konsumsi dan komoditas. Tanpa revitalisasi industri dan peningkatan produktivitas, angka tersebut akan menjadi langit-langit yang sulit ditembus," ujar Didik dalam keterangannya.
Data industri pengolahan nonmigas memperlihatkan tren pertumbuhan yang kerap berada di bawah pertumbuhan PDB nasional. Indeks manufaktur juga beberapa kali berada di level ekspansi tipis, menandakan aktivitas pabrik belum sepenuhnya pulih. Padahal, manufaktur memiliki multiplier effect — efek pengganda terhadap sektor lain — yang jauh lebih besar dibandingkan sektor jasa maupun perdagangan.
Fundamental Kuat versus Produktivitas Stagnan
Di satu sisi, fundamental makroekonomi Indonesia relatif solid. Inflasi terkendali di kisaran 1,5 hingga 2,5 persen, rasio utang pemerintah terhadap PDB berada di level 39 persen — jauh di bawah ambang 60 persen yang diatur Undang-Undang Keuangan Negara — serta cadangan devisa menembus 150 miliar dolar AS. Stabilitas ini menjaga sentimen pasar dan menahan risiko capital outflow, yakni keluarnya dana asing dari pasar domestik, di tengah ketidakpastian global.
Di sisi lain, kualitas pertumbuhan menjadi persoalan. Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia. Investasi memang mengalami kenaikan, dengan realisasi penanaman modal 2024 menembus Rp1.700 triliun, tetapi sebagian besar mengalir ke sektor berbasis sumber daya alam dan hilirisasi mineral, belum merata ke manufaktur padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Rasio kredit terhadap PDB yang berada di kisaran 40 persen juga menandakan likuiditas perbankan belum sepenuhnya mengalir ke sektor riil secara optimal.
Syarat Struktural untuk Menembus Pertumbuhan Lebih Tinggi
Agar ekonomi bisa berakselerasi ke level 6 hingga 8 persen, sejumlah syarat perlu dipenuhi. Pertama, hilirisasi harus diperluas dari sekadar mineral menuju sektor bernilai tambah tinggi seperti elektronik, otomotif, dan farmasi. Kedua, perbaikan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi dan pelatihan kerja, mengingat bonus demografi hanya bermakna jika angkatan kerja benar-benar produktif. Ketiga, percepatan pembangunan infrastruktur yang menekan biaya logistik nasional yang saat ini masih sekitar 14 persen dari PDB, lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara maju di bawah 10 persen.
Selain itu, kepastian regulasi dan perbaikan tata kelola menjadi prasyarat untuk menjaga kepercayaan investor, baik domestik maupun asing. Tanpa hal tersebut, arus dana masuk berisiko hanya bersifat portofolio jangka pendek yang rentan berbalik arah saat sentimen global memburuk, alih-alih menjadi investasi langsung yang menciptakan lapangan kerja berkelanjutan.
Proyeksi dan Catatan ke Depan
Sejumlah lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan Indonesia tetap di kisaran 5,0 hingga 5,1 persen pada 2025. Proyeksi tersebut mencerminkan penilaian bahwa tanpa reformasi struktural yang konsisten, ekonomi akan tetap bergerak pada jalur lamanya. Bagi pelaku pasar dan dunia usaha, arah kebijakan pemerintah dalam dua tahun ke depan akan menjadi penentu apakah target pertumbuhan tinggi sekadar ambisi politik atau benar-benar terealisasi menjadi lompatan ekonomi yang inklusif.
Comments (0)