Harga Cabai Rawit Nyaris Rp 60 Ribu, Inflasi Pangan Jadi Sorotan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, sejumlah komoditas pangan strategis mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan, dipimpin oleh cabai rawit yang kini diperdagangkan n...

Aug 11, 2026 - 08:35
0 1
Harga Cabai Rawit Nyaris Rp 60 Ribu, Inflasi Pangan Jadi Sorotan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, sejumlah komoditas pangan strategis mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan, dipimpin oleh cabai rawit yang kini diperdagangkan nyaris menyentuh Rp 60.000 per kilogram. Selain cabai, komoditas lain seperti beras, daging sapi, dan daging ayam juga mencatatkan tren penguatan harga di pasaran. Fenomena ini menjadi perhatian pelaku pasar dan pengambil kebijakan karena komponen pangan bergejolak (volatile food) merupakan salah satu penentu utama laju inflasi nasional.

Tren Kenaikan Harga Pangan Menyeluruh

Pantauan lapangan menunjukkan harga cabai rawit merah di sejumlah pasar induk bergerak naik dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini tidak terjadi secara terisolasi. Harga beras medium bertahan di level tinggi, sementara daging sapi diperdagangkan di kisaran Rp 130.000 hingga Rp 140.000 per kilogram, dan daging ayam ras berada di level Rp 35.000 hingga Rp 40.000 per kilogram.

Dalam terminologi ekonomi, kelompok volatile food merujuk pada komoditas pangan yang harganya mudah berfluktuasi akibat faktor musiman, cuaca, dan gangguan pasokan. Berbeda dengan inflasi inti (core inflation) yang mencerminkan permintaan fundamental, komponen ini cenderung bergerak tajam dalam waktu singkat. Secara historis, kelompok volatile food dapat menyumbang sekitar 0,5 hingga 1,5 poin persentase terhadap inflasi year-on-year pada periode-periode tertentu.

Di Satu Sisi: Risiko Inflasi dan Tekanan Daya Beli

Di satu sisi, kenaikan harga pangan secara bersamaan menimbulkan kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah yang mengalokasikan 40 hingga 50 persen pengeluarannya untuk kebutuhan pangan. Rasio pengeluaran pangan terhadap total konsumsi rumah tangga yang tinggi membuat kelompok ini paling rentan terhadap guncangan harga, sehingga ruang untuk konsumsi barang nonpangan ikut menyempit.

Apabila tren kenaikan berlanjut, inflasi volatile food dapat menembus kisaran 5 hingga 7 persen year-on-year, berpotensi mendorong inflasi umum mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 plus minus 1 persen. Sentimen pasar pun dapat terdampak, mengingat ekspektasi inflasi yang meningkat biasanya direspons dengan penyesuaian harga di sektor lain, mulai dari transportasi hingga jasa.

"Kenaikan harga pangan yang bersifat temporer masih dapat dikelola melalui operasi pasar dan intervensi pasokan. Namun, jika berlangsung lebih dari dua bulan, risiko penularan ke inflasi inti perlu diwaspadai," ujar seorang ekonom senior dari lembaga riset ekonomi di Jakarta.

Di Sisi Lain: Faktor Musiman dan Peluang Normalisasi

Di sisi lain, sebagian analis menilai kenaikan harga cabai kali ini lebih banyak dipengaruhi faktor musiman ketimbang pelemahan fundamental ekonomi. Curah hujan tinggi pada awal tahun kerap mengganggu produktivitas tanaman cabai, memicu penurunan pasokan dari sentra produksi seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara. Secara historis, harga cabai cenderung mengalami penurunan setelah memasuki masa panen raya pada kuartal berikutnya.

Dari sisi fundamental, cadangan devisa dan likuiditas perbankan masih berada pada level memadai, sehingga ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas harga tetap terbuka. Proyeksi sejumlah lembaga menempatkan inflasi sepanjang 2026 di kisaran 2,5 hingga 3 persen, dengan asumsi pasokan pangan kembali normal pada paruh kedua tahun ini. Indeks harga konsumen diperkirakan tetap berada dalam jalur sasaran selama tidak ada guncangan pasokan tambahan.

Implikasi Kebijakan dan Proyeksi ke Depan

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Badan Pangan Nasional memiliki sejumlah instrumen untuk meredam gejolak harga, mulai dari operasi pasar, fasilitasi distribusi antarpulau, hingga pembukaan keran impor terbatas apabila diperlukan. Efektivitas kebijakan tersebut sangat bergantung pada kecepatan respons dan akurasi data pasokan di tingkat daerah.

Bagi pelaku usaha, tren kenaikan harga pangan menciptakan dua sisi dampak: margin petani dan pedagang di hulu berpotensi membaik, namun sektor hilir seperti rumah makan dan industri pengolahan menghadapi tekanan biaya produksi. Valuasi saham-saham consumer goods di pasar modal biasanya ikut berfluktuasi mengikuti dinamika harga bahan baku ini, sehingga investor cenderung menyesuaikan portofolio mereka secara hati-hati.

Ke depan, pemantauan terhadap pergerakan indeks harga pangan, curah hujan, dan pasokan dari sentra produksi menjadi krusial. Masyarakat dan pelaku pasar disarankan mencermati data resmi BPS dan Bank Indonesia sebelum mengambil kesimpulan berlebihan, mengingat gejolak harga pangan jangka pendek tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental ekonomi secara keseluruhan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User