Di tengah koreksi pasar saham yang menghantam bursa nasional, seorang konglomerat justru menunjukkan sinyal percaya diri yang sangat kuat. Edwin Soeryadjaya, Presiden Komisaris PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), diam-diam melakukan pembelian massif terhadap saham perusahaan investasi yang ia kendalikan. Aksi ini bukan sekadar transaksi rutin, melainkan sebuah pernyataan strategis di tengah gejolak pasar yang menguji nyali para investor institusi.
Berdasarkan data keterbukaan informasi yang dipublikasikan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), Edwin melakukan pembelian sebanyak 830.000 lembar saham SRTG dalam dua kali transaksi terpisah. Transaksi pertama tercatat pada 18 September 2026, di mana ia mengakuisisi 340.000 lembar saham dengan harga Rp1.782 per lembar, senilai total Rp605,88 juta. Transaksi kedua dilakukan tiga hari kemudian pada 21 September 2026, dengan pembelian 490.000 lembar saham pada harga Rp1.805 per lembar, senilai Rp884,45 juta. Secara kumulatif, total nilai transaksi mencapai Rp1,49 miliar.
Kenaikan Kepemilikan dari 35,94 Persen Menjadi 35,95 Persen
Meskipun kenaikan persentasenya tampak kecil dari sisi numerik, sinyal yang dikirimkan kepada pasar jauh lebih besar dari sekadar angka. Dengan transaksi ini, jumlah kepemilikan langsung Edwin meningkat menjadi 4.876.599.190 unit saham, yang setara dengan 35,95 persen hak suara dari sebelumnya 35,94 persen. Peningkatan ini menegaskan posisinya sebagai pengendali utama perusahaan yang bergerak di sektor investasi tersebut.
Yang menarik, laporan keterbukaan informasi secara tegas mencatat bahwa seluruh transaksi bersifat kepemilikan langsung, bukan melalui pihak ketiga atau skema repurchase agreement. Tujuan transaksi secara eksplisit dinyatakan sebagai investasi, bukan untuk perdagangan jangka pendek atau aktivitas spekulatif. Edwin juga menegaskan komitmennya untuk tetap mempertahankan statusnya sebagai pengendali perusahaan.
"Ini merupakan bentuk kepercayaan yang sangat tinggi dari pengendali terhadap fundamental dan prospek jangka panjang perusahaan," ujar seorang analis pasar yang enggan disebut namanya.
Aksi Borong Berkelanjutan Sepanjang September 2026
Pembelian 830.000 lembar saham tersebut bukanlah aksi tunggal. Sepanjang bulan September 2026, Edwin terpantau gencar melakukan akumulasi saham SRTG. Nyaris setiap hari kerja, ia tercatat melakukan pembelian di berbagai sesi perdagangan. Pada 15 September 2026 misalnya, ia membeli 458.100 lembar saham dalam satu sesi, meningkatkan kepemilikannya menjadi 4,87 miliar lembar atau setara 35,93 persen.
Pola akumulasi bertahap ini mengindikasikan strategi yang sangat terukur. Alih-alih melakukan pembelian besar-besaran dalam satu waktu yang dapat menggeser harga pasar secara drastis, Edwin memilih pendekatan bertahap yang meminimalkan dampak terhadap volatilitas harga. Strategi ini mencerminkan kepiawaian seorang veteran pasar yang telah mengarungi berbagai siklus ekonomi selama puluhan tahun.
Konteks Historis: Dari Astra hingga Saratoga
Untuk memahami kedalaman keputusan Edwin, penting untuk menelusuri jejak karier bisnisnya. Edwin adalah putra dari William Soeryadjaya, pendiri Grup Astra yang legendaris. Pada tahun 1992, William menjual seluruh sahamnya di Astra International untuk membantu menyelamatkan Bank Summa yang dijalankan anggota keluarganya. Keputusan tersebut berakibat fatal — kekayaan keluarga habis seketika.
Dari puing-puing kegagalan tersebut, Edwin bangkit dan membangun kembali kekayaan keluarga melalui Saratoga Investama Sedaya, perusahaan holding yang didirikannya pada tahun 1997. Hari ini, Saratoga telah berkembang menjadi salah satu perusahaan investasi terbesar di Indonesia, dengan portofolio yang mencakup sektor energi, logam mulia, infrastruktur teknologi, kesehatan, logistik, dan ruang digital.
Bagi Edwin, Saratoga bukan sekadar instrumen investasi — ia adalah warisan hidup yang dibangun dari nol setelah kehancuran total.
Saratoga di Tengah Tekanan Fundamental
Aksi borong Edwin terjadi dalam konteks fundamental perusahaan yang sedang terteku. Pada semester I 2026, Saratoga Investama Sedaya mencatatkan kinerja yang mengecewakan, dengan catatan kerugian yang signifikan. Meskipun demikian, dari sisi valuasi, saham SRTG saat ini diperdagangkan dengan diskon yang sangat dalam terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB) perusahaan.
| Metrik | Nilai |
|---|---|
| Harga Saham Saat Ini | ~Rp1.780 - 1.805 |
| Estimasi NAB per Saham | Rp4.800 |
| Discount to NAV | ~63-66% |
| Target Harga Rata-rata Analis | Rp2.850 |
| Potensi Upside ke Target Analis | >83% |
| P/E Ratio (TTM) | 2,66 |
| Dividend Yield | 7,51% |
Angka-angka di atas menunjukkan kesenjangan yang sangat lebar antara harga pasar dan nilai intrinsik perusahaan. Dengan dividend yield sebesar 7,51 persen dan P/E ratio yang rendah, Saratoga menawarkan profil risiko-return yang menarik bagi investor jangka panjang — terutama mereka yang memiliki visi seperti Edwin.
"Ketika pengendali membeli saham secara agresif di level harga saat ini, itu adalah vote of confidence yang paling kuat yang bisa diberikan oleh seseorang yang paling memahami perusahaan dari dalam," ungkap seorang pengamat pasar modal.
Sinyal bagi Investor Pasar
Aksi Edwin Soeryadjaya mengirimkan beberapa sinyal penting bagi para investor ritel dan institusi. Pertama, ini menunjukkan bahwa di balik kinerja semester yang mengecewakan, terdapat keyakinan kuat dari manajemen puncak terhadap prospek jangka panjang perusahaan. Kedua, konsistensi pembelian — hampir setiap hari sepanjang September — menunjukkan bahwa ini bukan keputusan impulsif, melainkan bagian dari strategi akumulasi yang telah direncanakan dengan matang.
Ketiga, dalam konteks pasar yang sedang lesu dan banyak investor panik menjual aset mereka, keberanian seorang konglomerat untuk terus membeli dapat menjadi jangkar psikologis bagi pasar. Edwin, dengan reputasi dan pengalamannya, menempatkan uangnya sendiri untuk membuktikan keyakinannya.
Bagi investor ritel yang mengamati pergerakan insider, aksi ini layak menjadi bahan pertimbangan serius. Bukan berarti mengikuti secara membabi buta, tetapi memahami bahwa ketika seseorang yang memiliki akses penuh ke informasi internal perusahaan memilih untuk terus membeli di level harga ini, ada sesuatu yang mungkin belum terbaca oleh pasar secara keseluruhan.
Prospek Jangka Panjang Saratoga
Saratoga Investama Sedaya memiliki portofolio investasi yang beragam dan strategis. Fokus pada sektor-sektor pertumbuhan seperti energi, teknologi, dan kesehatan memberikan fondasi yang kuat untuk ekspansi di masa depan. Meskipun kinerja jangka pendek sedang terteku, visi jangka panjang perusahaan tetap relevan dengan tren makro ekonomi Indonesia.
Dengan diskon NAB yang sangat lebar, dividen yang menarik, dan pengendali yang secara agresif membeli saham sendiri, Saratoga menjadi salah satu saham yang paling menarik perhatian di pasar Indonesia saat ini. Pertanyaannya bukan apakah ini adalah peluang, tetapi kapan pasar akan mulai menghargai sebagian dari nilai intrinsik yang terpendam tersebut.
Edwin Soeryadjaya, pria yang pernah kehilangan segalanya dan membangun kembali kerajaan bisnisnya dari awal, kembali menunjukkan bahwa ia tidak takut bermain di lapangan yang paling berat — dan ia bertaruh besar pada Saratoga.
Comments (0)