Dua Dekade Gula Merah Sumenep: Bukti KUR Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per kuartal I 2026, jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia mencapai sekitar 64 juta unit, menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja ...

Aug 21, 2026 - 02:42
0 0
Dua Dekade Gula Merah Sumenep: Bukti KUR Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per kuartal I 2026, jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia mencapai sekitar 64 juta unit, menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja nasional, dan berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Di balik agregat sebesar itu, kisah Rosidah, perajin gula merah asal Sumenep, Madura, menjadi potret mikro bagaimana pembiayaan formal mengubah skala usaha rumahan. Setelah dua dekade menekuni usaha yang diwariskan keluarganya, ia mengalami kenaikan kapasitas produksi yang nyata setelah memperoleh Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI.

KUR: Jembatan Pembiayaan bagi Usaha Kecil

KUR adalah skema kredit bersubsidi pemerintah dengan bunga efektif sekitar 6 persen per tahun, jauh lebih ringan dibandingkan kredit komersial yang umumnya berada di angka dua digit. Skema ini lahir untuk menjawab masalah klasik UMKM: sulitnya akses pembiayaan karena keterbatasan agunan dan belum adanya riwayat kredit formal. Bagi bank penyalur, KUR menjadi instrumen memperluas portofolio kredit mikro sekaligus menjaga likuiditas penyaluran ke sektor riil. Dalam beberapa tahun terakhir, penyaluran KUR nasional bertengger di kisaran ratusan triliun rupiah per tahun, dengan pertumbuhan yang year-on-year tetap positif meskipun ekonomi global bergejolak.

Namun, akses pembiayaan hanyalah separuh jalan. Sejumlah riset menunjukkan produktivitas usaha mikro baru meningkat signifikan ketika kredit disertai pendampingan, pembukuan sederhana, dan penguatan pemasaran. Tanpa ketiganya, tambahan modal berisiko terserap untuk kebutuhan konsumtif, bukan untuk ekspansi usaha.

Dua Dekade Rosidah: dari Tradisi ke Skala Usaha

Rosidah memulai usahanya dari skala rumah tangga, mengolah nira kelapa menjadi gula merah dengan cara yang diwariskan secara turun-temurun. Produksi awal masih terbatas, pemasaran mengandalkan tetangga dan pasar desa, serta pendapatan hanya cukup untuk kebutuhan harian. Perubahan mulai terlihat ketika ia memanfaatkan KUR untuk membeli bahan baku dalam jumlah lebih besar, memperbaiki peralatan pengolahan, dan memperluas jangkauan distribusi ke luar Sumenep.

Konsekuensinya, volume produksi naik, omzet meningkat, dan usaha yang semula dianggap sampingan kini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Tenaga kerja lokal ikut terserap, mulai dari pemetik nira, pengolah, hingga pedagang perantara. Dari satu titik usaha, efeknya menyebar ke rumah tangga di sekitarnya — pola yang oleh para ekonom disebut efek pengganda (multiplier effect) usaha mikro.

"Akses pembiayaan murah terbukti mempercepat pertumbuhan usaha mikro, tetapi keberlanjutannya sangat bergantung pada pendampingan dan literasi keuangan pelaku usaha," ujar seorang ekonom yang memantau sektor UMKM di Jakarta.

Di Satu Sisi, Bukti Nyata; Di Sisi Lain, Tantangan

Di satu sisi, kisah Rosidah menjadi bukti bahwa fundamental ekonomi rakyat cukup kuat merespons stimulus pembiayaan. Ketika permintaan domestik tetap terjaga — tercermin dari indeks harga konsumen yang terkendali dan daya beli masyarakat kelas menengah yang bertahan — usaha mikro seperti gula merah berperan sebagai penopang stabilitas. Ketahanan ini juga relevan dalam konteks sentimen pasar global: negara dengan basis UMKM yang kuat cenderung lebih tahan terhadap gejolak capital outflow, karena permintaan domestiknya tidak bergantung penuh pada ekspor.

Di sisi lain, ada sejumlah catatan yang tidak boleh dilewatkan. Pertama, harga gula merah bersifat fluktuatif dan sangat dipengaruhi musim, sehingga pendapatan perajin belum sepenuhnya stabil. Kedua, karena bunganya disubsidi, kelayakan komersial KUR perlu diawasi ketat; rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) pada segmen mikro harus dijaga tetap rendah agar program ini berkelanjutan. Ketiga, tanpa akses pasar digital, jangkauan penjualan perajin di daerah terpencil seperti Sumenep masih terbatas, sehingga valuasi usahanya sulit naik secepat usaha sejenis di kota besar.

Proyeksi dan Catatan ke Depan

Ke depan, proyeksi pertumbuhan sektor UMKM masih menggantung pada tiga variabel: ketersediaan pembiayaan, stabilitas harga bahan baku, dan infrastruktur pemasaran. Tren pemerintah yang terus memperluas KUR diiringi relaksasi aturan agunan patut diapresiasi, tetapi penyaluran yang masif tanpa diimbangi penguatan kapasitas pelaku usaha berisiko menciptakan ketergantungan jangka panjang terhadap subsidi.

Bagi Rosidah dan perajin gula merah lain, tantangan berikutnya adalah naik kelas: dari sekadar penerima kredit menjadi pengelola usaha dengan pembukuan rapi, standar mutu yang konsisten, dan merek yang dikenal pasar. Jika itu tercapai, efek pengganda yang dihasilkan tidak hanya dirasakan satu keluarga, tetapi seluruh rantai nilai gula merah di Sumenep. Pada akhirnya, kisah dua dekade Rosidah menunjukkan bahwa modal memang penting, tetapi yang lebih menentukan adalah kemampuan mengelola modal itu menjadi usaha yang tumbuh berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User