BRI Dorong Tenun Troso KAINRATU Tembus Pasar Global

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Koperasi dan UKM per Juni 2026, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Kontrib...

Aug 21, 2026 - 02:40
0 0
BRI Dorong Tenun Troso KAINRATU Tembus Pasar Global

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Koperasi dan UKM per Juni 2026, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat sekitar 61 persen, dengan serapan tenaga kerja lebih dari 97 persen dari total angkatan kerja. Di tengah tren pertumbuhan ekonomi global yang melambat, produk kerajinan berbasis budaya justru menunjukkan daya tahan yang lebih baik dibandingkan komoditas konvensional. Salah satu contohnya datang dari Jepara, Jawa Tengah, tempat usaha tenun ikat KAINRATU berhasil membawa kain Troso menembus pasar internasional berkat pendampingan permodalan dan pelatihan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.

KAINRATU adalah usaha mikro yang mengembangkan tenun ikat Troso, warisan tekstil khas Jepara yang diwariskan lintas generasi. Melalui program pemberdayaan yang dijalankan BRI, pelaku UMKM ini mendapat pelatihan manajemen produksi, standardisasi mutu, hingga pendampingan ekspor. Hasilnya, produk KAINRATU kini tidak hanya memenuhi permintaan domestik, tetapi juga tercatat masuk ke sejumlah negara tujuan ekspor seperti Malaysia, Singapura, hingga Timur Tengah.

Warisan Budaya yang Naik Kelas

Tenun ikat Troso memiliki keunikan pada teknik pewarnaan benang sebelum ditenun, sebuah proses yang membutuhkan ketelitian dan waktu produksi yang panjang. Menurut para pengrajin, satu lembar kain berkualitas premium bisa memakan waktu berminggu-minggu. Nilai inilah yang membuat produk ini memiliki posisi berbeda di mata pasar: harganya dapat mencapai beberapa kali lipat dibandingkan kain bermotif cetak, karena setiap helainya bersifat unik dan tidak dapat direplikasi massal.

Dari sisi portofolio produk, KAINRATU mengembangkan beragam varian, mulai dari kain panjang, selendang, hingga bahan busana kontemporer yang mengikuti selera generasi muda. Strategi diversifikasi ini penting karena basis konsumen ekspor tidak lagi hanya menghargai unsur tradisional, tetapi juga menuntut desain yang relevan dengan tren fesyen global. Dengan kata lain, adaptasi desain menjadi kunci agar warisan budaya tidak berhenti pada nilai historisnya.

Peran BRI: dari Likuiditas hingga Akses Pasar

Dalam program pemberdayaannya, BRI tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga membangun ekosistem usaha. Pelatihan mencakup pembukuan sederhana, pengelolaan keuangan, hingga literasi ekspor. Pendekatan ini menjawab salah satu persoalan klasik UMKM: kemampuan memproduksi barang berkualitas tinggi sering kali tidak berjalan seiring dengan kemampuan mengelola arus kas dan likuiditas usaha. Dengan disiplin keuangan yang lebih baik, pelaku usaha dapat menjaga rasio modal kerja dan memanfaatkan pembiayaan secara produktif.

Selain itu, akses pasar diperluas melalui partisipasi dalam pameran dagang, baik nasional maupun internasional, serta pendampingan pemasaran digital. Kehadiran produk di platform daring memperpendek rantai distribusi dan membuka komunikasi langsung dengan pembeli luar negeri. Bagi UMKM, hal ini berarti pengurangan ketergantungan pada perantara dan peningkatan margin. “Ekosistem pembinaan seperti ini adalah kunci mengubah UMKM menjadi eksportir,” ujar seorang analis industri kreatif yang memantau program pemberdayaan BRI. “Namun yang tidak kalah penting adalah menjaga kualitas secara konsisten ketika volume permintaan meningkat.”

Data internal BRI menunjukkan bahwa program pemberdayaan yang berkelanjutan mampu mendorong kenaikan omzet peserta secara signifikan dalam periode tertentu, meskipun besarnya bervariasi antarsektor. Secara keseluruhan, realisasi kredit BRI kepada segmen mikro dan kecil terus mengalami kenaikan year-on-year, sejalan dengan komitmen perseroan menyalurkan pembiayaan berbasis ekosistem.

Di Satu Sisi Peluang, Di Sisi Lain Tantangan

Di satu sisi, keberhasilan KAINRATU menunjukkan bahwa pendampingan yang terstruktur dapat mengangkat UMKM dari pasar domestik ke pasar global. Dampaknya berlapis: penyerapan tenaga kerja lokal, pelestarian budaya, serta peningkatan devisa dari ekspor nonmigas. Fundamental usaha pun menguat karena pendapatan tidak lagi bergantung pada satu kanal penjualan.

Di sisi lain, para pengamat mengingatkan bahwa jalan menembus pasar global tidak selalu mulus. Persaingan dengan produk tekstil dari negara produsen besar menuntut efisiensi biaya dan konsistensi mutu yang ketat. Sentimen pasar global yang bergejolak—tercermin pada pergerakan indeks kepercayaan konsumen dan volatilitas mata uang—termasuk potensi capital outflow dari pasar negara berkembang akibat ketidakpastian suku bunga negara maju, dapat menekan daya beli konsumen luar negeri dan memperlambat pertumbuhan ekspor. Fluktuasi nilai tukar rupiah juga memengaruhi margin bagi pengusaha yang mengimpor bahan baku benang.

Dari sisi pembiayaan, meskipun likuiditas perbankan nasional masih longgar dengan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga yang memadai, penyaluran kredit ke sektor ultra mikro tetap menghadapi tantangan asimetri informasi. Bank perlu menilai kelayakan usaha yang sering kali belum memiliki catatan keuangan formal. Karena itu, pendampingan nonfinansial seperti yang dilakukan BRI menjadi faktor penentu, bukan sekadar pelengkap administratif.

Para ekonom menilai valuasi pertumbuhan UMKM berbasis budaya ke depan bergantung pada tiga faktor: keberlanjutan regenerasi pengrajin, inovasi desain, dan stabilitas akses pasar. Proyeksi optimistis menyebutkan ekspor produk kerajinan Indonesia dapat terus tumbuh seiring meningkatnya apresiasi global terhadap produk berkelanjutan (sustainable). Namun, tanpa perbaikan produktivitas dan standardisasi, posisi itu bisa tergerus oleh pesaing dari negara lain yang menawarkan produk serupa dengan harga lebih murah.

Terlepas dari perdebatan tersebut, kisah KAINRATU menjadi bukti bahwa sinergi antara permodalan, pelatihan, dan akses pasar mampu mengubah kapasitas lokal menjadi daya saing global. Keberhasilan ini layak direplikasi, dengan catatan bahwa setiap daerah memiliki kekhasan yang menuntut pendekatan berbeda. Pada akhirnya, pasar global bukanlah tujuan instan, melainkan hasil dari proses pembinaan yang panjang dan konsisten.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User