Dua Bos Cirebon Power Raih Energy Executive Award 2026

Jakarta — Panggung penganugerahan Energy Executive Award 2026 di Jakarta, Rabu (22/7), menjadi momentum istimewa bagi keluarga besar Cirebon Power. Dua pim

Aug 08, 2026 - 10:04
0 0
Dua Bos Cirebon Power Raih Energy Executive Award 2026

Jakarta — Panggung penganugerahan Energy Executive Award 2026 di Jakarta, Rabu (22/7), menjadi momentum istimewa bagi keluarga besar Cirebon Power. Dua pimpinan tertinggi perusahaan energi tersebut, Direktur Utama Hisahiro Takeuchi dan Wakil Presiden Direktur Joseph Pangalila, sama-sama naik ke atas panggung menerima apresiasi prestisius di sektor energi Tanah Air.

Keduanya dinilai telah menunjukkan kepemimpinan, inovasi, dan kontribusi nyata dalam mendorong pengembangan sektor energi Indonesia yang berkelanjutan. Penghargaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda perjalanan panjang perusahaan yang lahir di tengah krisis listrik nasional hampir dua dekade silam, dan kini ikut menggerakkan roda transisi energi hijau.

Dua Predikat untuk Dua Pemimpin Energi

Dalam ajang tersebut, Takeuchi menerima predikat Leadership Excellence in Decarbonization and International Energy Collaboration. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kepemimpinannya dalam mengarahkan agenda dekarbonisasi sekaligus merajut kolaborasi energi lintas negara.

Sementara itu, Joseph Pangalila dianugerahi predikat Sustainable Power Visionary Leader — sebuah penegasan atas visi jangka panjangnya membangun ketenagalistrikan yang berkelanjutan di Indonesia.

Namun, alih-alih menepuk dada, Takeuchi justru mengarahkan sorotan kepada seluruh jajaran perusahaan. Dengan nada rendah hati, ia menegaskan bahwa penghargaan itu adalah buah kerja kolektif.

"Tapi, ini bukan hanya tentang saya. Saya mengapresiasi semua tim di Cirebon Power. Karena mereka saya mendapatkan ini," kata Takeuchi usai menerima penghargaan di Jakarta, Rabu (22/7).

Joseph pun menyampaikan pesan serupa kepada segenap karyawan. Baginya, penghargaan ini adalah bahan bakar semangat untuk terus melayani publik.

"Pesan saya pada karyawan Cirebon Power, tetap semangat karena kita menyediakan listrik kepada seluruh warga Jawa dan Bali," tambah Joseph.

Lahir di Tengah Krisis Listrik 2007

Di balik gemerlap penghargaan itu, tersimpan kisah panjang yang tak mudah dilupakan. Joseph sedikit bernostalgia tentang masa-masa awal perusahaan, ketika Cirebon Power membangun PLTU Cirebon-1 berkapasitas 660 MW di Kanci, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada 2007.

Kala itu, Indonesia tengah dilanda krisis listrik yang cukup parah. Pasokan daya yang timpang membuat sejumlah wilayah akrab dengan pemadaman bergilir. Kehadiran PLTU Cirebon-1 menjadi angin segar bagi pemenuhan kebutuhan listrik, terutama di sistem jaringan Jawa-Madura-Bali (Jamali) yang menjadi denyut nadi perekonomian nasional.

"Cirebon-1 itu adalah transisi kepada fast track," kenang Joseph, merujuk pada era percepatan pembangunan pembangkit listrik nasional.

Dari titik itulah Cirebon Power tumbuh — dari sekadar menjawab krisis, menjadi bagian dari solusi jangka panjang ketenagalistrikan nasional.

Visi Elektrifikasi dan Transisi Hijau

Menatap ke depan, Joseph menegaskan bahwa elektrifikasi nasional setidaknya harus menyangkut tiga aspek fundamental. Pertama, ketersediaan listrik yang baik dan andal. Kedua, listrik yang bisa dijangkau semua kalangan masyarakat. Ketiga, pengembangan energi terbarukan sebagai fondasi masa depan.

Harapan Joseph sejalan dengan arah kebijakan pengembangan sektor energi pemerintah saat ini, yang berfokus pada kemandirian energi dan transisi hijau. Pilar utama kebijakan itu antara lain target ambisius 100 GW tenaga surya, termasuk rencana pembangunan 80 GW di 80 ribu desa di seluruh penjuru Indonesia.

Bagi perusahaan seperti Cirebon Power, arah kebijakan tersebut membuka ruang sekaligus tantangan: bagaimana pembangkit yang telah berjalan tetap relevan di masa transisi, sambil terus berinovasi menuju operasi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Penilaian Ketat Dewan Juri

Penghargaan ini tidak diberikan sembarangan. Tumiran, Guru Besar di Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), yang menjadi juri Energy Executive Award 2026, mengatakan bahwa para juri antara lain mengukur kemampuan manajerial para kandidat. Penilaian juga mencakup aspek kepemimpinan, inovasi, serta kontribusi nyata terhadap kemajuan sektor energi nasional.

Dengan standar penilaian semacam itu, keberhasilan Takeuchi dan Joseph mencerminkan pengakuan publik bahwa kiprah Cirebon Power — dari masa krisis hingga era transisi hijau — telah memberi dampak nyata bagi negeri.

Kini, dengan dua penghargaan di tangan, perjalanan Cirebon Power belum usai. Justru di titik inilah babak baru dimulai: memastikan lampu terus menyala di Jawa dan Bali, sembari berjalan beriringan dengan cita-cita energi bersih Indonesia.

[SOCIAL_TWEET]: Dua bos Cirebon Power raih Energy Executive Award 2026! 🏆 Hisahiro Takeuchi & Joseph Pangalila diakui atas kepemimpinan dalam dekarbonisasi dan ketenagalistrikan berkelanjutan. Dari krisis listrik 2007 hingga transisi hijau. #CirebonPower #EnergiHijau [SOCIAL_TG]: ⚡ DUA BOS CIREBON POWER RAIH ENERGY EXECUTIVE AWARD 2026 Hisahiro Takeuchi (Dirut) meraih predikat Leadership Excellence in Decarbonization and International Energy Collaboration, sementara Joseph Pangalila (Wapresdir) menyabet Sustainable Power Visionary Leader. Kisah mereka dimulai dari krisis listrik 2007 dengan pembangunan PLTU Cirebon-1 660 MW, hingga kini menjadi bagian transisi energi hijau nasional. Selengkapnya di Beritadua.com 📰

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User