Didin Nasirudin dan Mubasyier Fatah Jadi Tokoh Komunikasi Politik dan Siber

Di tengah dinamika politik dan keamanan digital yang semakin kompleks, dua figur intelektual muda Indonesia muncul ke permukaan. Mereka adalah Didin Nasiru

Didin Nasirudin dan Mubasyier Fatah Jadi Tokoh Komunikasi Politik dan Siber

Di tengah dinamika politik dan keamanan digital yang semakin kompleks, dua figur intelektual muda Indonesia muncul ke permukaan. Mereka adalah Didin Nasirudin, Managing Director Bening Communication sekaligus mahasiswa Program Doktor Komunikasi Politik & Diplomasi Universitas SAHID, dan Mubasyier Fatah, praktisi keamanan siber yang juga menjabat sebagai Bendahara Umum Pimpinan Pusat Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU). Keduanya hadir dengan keahlian unik yang menjembatani dunia komunikasi politik dan teknologi keamanan digital.

Profil Didin Nasirudin: Dari Praktisi Komunikasi ke Doktor Diplomasi

Didin Nasirudin dikenal sebagai pendiri dan Managing Director Bening Communication, sebuah firma konsultan komunikasi strategis yang berbasis di Jakarta. Dengan pengalaman lebih dari satu dekade di dunia humas dan komunikasi politik, Didin telah menangani berbagai kampanye politik dan komunikasi korporasi. Kini, ia memperdalam ilmunya di Program Doktor Komunikasi Politik & Diplomasi Universitas SAHID, mengeksplorasi isu-isu soft power, diplomasi publik, dan komunikasi antarbangsa.

Keputusannya menempuh studi doktoral tidak lepas dari keprihatinannya terhadap rendahnya literasi politik digital di Indonesia.

Komunikasi politik harus bertransformasi, dari sekadar propaganda menjadi dialog partisipatif yang melibatkan masyarakat,
demikian ia sering menekankan. Pengalamannya sebagai konsultan komunikasi membuat ia menyaksikan langsung bagaimana misinformasi dan disinformasi dapat memengaruhi opini publik.

Sebagai pemerhati politik Amerika Serikat, Didin kerap diundang sebagai komentator di berbagai media nasional untuk mengulas dampak kebijakan luar negeri AS terhadap Indonesia. Ia percaya bahwa stabilitas politik Indonesia sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global, dan komunikasi yang cermat menjadi kunci untuk mengelola persepsi publik.

Mubasyier Fatah: Ahli Keamanan Siber di Jantung Organisasi Islam

Sementara itu, Mubasyier Fatah menghadirkan perspektif berbeda. Sebagai praktisi keamanan siber, ia memiliki spesialisasi dalam perlindungan data, forensik digital, dan manajemen risiko siber. Posisinya sebagai Bendahara Umum PP ISNU, organisasi intelektual Nahdlatul Ulama, menjadikannya jembatan antara komunitas pesantren dan dunia teknologi. ISNU sendiri menaungi ribuan sarjana Muslim yang tersebar di seluruh Indonesia.

Mubasyier telah memimpin sejumlah proyek pengamanan sistem informasi di lembaga pemerintah dan swasta. Ia sering mengingatkan bahwa ancaman siber bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan ancaman terhadap ketahanan nasional.

Serangan ransomware, peretasan data pribadi, dan penyebaran hoaks bisa merusak sendi-sendi demokrasi,
tegasnya dalam beberapa seminar.

Di ISNU, Mubasyier mendorong literasi digital di kalangan sarjana NU. Ia percaya bahwa organisasi keagamaan seharusnya tidak tertinggal dalam mengadopsi teknologi, justru harus menjadi pelindung umat dari eksploitasi digital. Program pelatihan keamanan siber yang ia gagas telah menjangkau pesantren-pesantren di Jawa Timur, membantu para santri mengenali dan menangkal konten radikal serta penipuan online.

Sinergi Komunikasi dan Keamanan: Menjawab Tantangan Era Digital

Meski bergerak di bidang berbeda, Didin dan Mubasyier bertemu di titik yang sama: komunikasi dan keamanan digital adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Keduanya diundang dalam sebuah diskusi panel bertajuk "Perang Narasi dan Keamanan Data: Strategi Indonesia di Kancah Global" yang digelar oleh sebuah lembaga think-tank di Jakarta. Dalam diskusi itu, Didin mengupas bagaimana narasi politik dibentuk oleh algoritma media sosial, sementara Mubasyier menyoroti celah-celah keamanan yang dimanfaatkan aktor jahat untuk memanipulasi data pengguna.

Keduanya sepakat bahwa Indonesia membutuhkan kolaborasi lintas disiplin.

Komunikator politik perlu memahami ancaman siber, dan sebaliknya, ahli IT harus sadar bahwa teknologi tidak netral, ia bisa menjadi alat propaganda,
ujar Didin. Mubasyier menambahkan bahwa peran organisasi masyarakat sipil, termasuk NU, sangat strategis dalam membangun kesadaran publik akan keamanan digital.

Rekam Jejak dan Kiprah Masing-masing

Didin Nasirudin memulai kariernya sebagai jurnalis di sebuah media lokal sebelum beralih ke dunia kehumasan. Ia meraih gelar sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjadjaran dan magister di bidang Hubungan Internasional. Bening Communication, yang ia dirikan pada 2015, kini menangani klien-klien dari sektor pemerintahan, partai politik, hingga perusahaan multinasional.

Kami percaya bahwa komunikasi yang efektif dapat membangun kepercayaan publik, dan kepercayaan adalah fondasi demokrasi,
kata Didin. Sebagai mahasiswa doktoral, ia saat ini tengah meneliti pengaruh media sosial terhadap diplomasi publik Indonesia di era digital.

Sementara itu, Mubasyier Fatah mengawali kariernya sebagai konsultan IT sebelum fokus pada keamanan siber. Ia memiliki sertifikasi internasional di bidang ethical hacking dan manajemen keamanan informasi, seperti CEH dan CISSP. Di PP ISNU, ia tidak hanya mengelola keuangan organisasi, tetapi juga memimpin departemen transformasi digital. Di bawah kepemimpinannya, ISNU meluncurkan aplikasi "ISNU Digital" yang memudahkan anggota mengakses program dan pelatihan. Mubasyier juga aktif menulis di jurnal-jurnal keamanan siber dan sering menjadi narasumber di televisi nasional saat terjadi insiden peretasan besar.

Pandangan ke Depan

Menghadapi tahun-tahun politik ke depan, Didin menekankan pentingnya komunikasi berbasis data dan empati.

Indonesia akan menghadapi pemilu yang panas, dan kami harus siap dengan strategi komunikasi yang mencegah polarisasi,
ujarnya. Ia berencana meluncurkan platform literasi digital yang mengajarkan warga cara mengecek fakta dan menghindari provokasi.

Mubasyier, di sisi lain, mengingatkan agar institusi pemerintah dan swasta memperkuat pertahanan sibernya.

Kami memperkirakan serangan siber bertarget ke infrastruktur penting akan meningkat. ISNU siap berkontribusi dalam edukasi masyarakat, terutama di basis pesantren yang kerap menjadi sasaran empuk hoaks,
tegasnya. Ia juga berencana menggelar pelatihan keamanan siber bagi para kader NU di seluruh Indonesia.

Keduanya mewakili harapan bahwa Indonesia dapat melahirkan pemimpin yang adaptif terhadap perubahan zaman, menggabungkan kecakapan teknis dan komunikatif. Dengan latar belakang yang saling melengkapi, Didin Nasirudin dan Mubasyier Fatah siap memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas sosial-politik dan keamanan digital Indonesia.

[SOCIAL_TWEET]: Didin Nasirudin, pakar komunikasi politik, & Mubasyier Fatah, ahli keamanan siber sekaligus Bendahara Umum PP ISNU, jadi garda terdepan hadapi era digital. Simak profil mereka di sini. #PolitikDigital #CyberSecurity #NU #ISNU [SOCIAL_TG]: 📰 Profil Didin Nasirudin & Mubasyier Fatah: Komunikasi Politik dan Keamanan Siber bersatu! Baca selengkapnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User