Oct 08, 2026
Bisnis

DHL Perkuat Logistik Jatim, Dorong Daya Saing Ekspor

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2024, nilai ekspor Jawa Timur menembus angka USD 21,1 miliar atau menyumbang sekitar 11,5 persen dari total ekspor nasional. Angka ini menempatka...

DHL Perkuat Logistik Jatim, Dorong Daya Saing Ekspor

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2024, nilai ekspor Jawa Timur menembus angka USD 21,1 miliar atau menyumbang sekitar 11,5 persen dari total ekspor nasional. Angka ini menempatkan Jawa Timur sebagai salah satu motor penggerak perdagangan luar negeri Indonesia, setelah Jawa Barat dan DKI Jakarta. Namun, di balik capaian tersebut, pelaku usaha masih menghadapi tantangan klasik: biaya logistik yang tinggi dan waktu pengiriman yang panjang.

Langkah DHL Express meresmikan gateway atau fasilitas gerbang logistik baru di Surabaya menjadi sinyal bahwa infrastruktur rantai pasok di wilayah timur Pulau Jawa mulai mendapat perhatian serius. Fasilitas ini dirancang untuk mempercepat proses sortir, pembersihan bea cukai, hingga pengiriman barang ke mancanegara. Pertanyaannya, seberapa besar dampaknya terhadap daya saing ekspor Jawa Timur?

Peran Gateway Baru dalam Menekan Biaya Logistik

Secara fundamental, logistik adalah komponen biaya yang kerap menggerus margin eksportir. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa biaya logistik nasional masih berada di kisaran 14 hingga 17 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh lebih tinggi dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang berada di level 13 persen dan Singapura sekitar 8 persen. Rasio ini menjadi catatan penting karena setiap penurunan satu persen saja dapat menghemat miliaran rupiah bagi pelaku usaha.

Kehadiran gateway di Surabaya berpotensi memangkas waktu tunggu pengiriman. Sebelumnya, sebagian barang ekspor dari Jawa Timur harus transit terlebih dahulu ke Jakarta sebelum diterbangkan ke negara tujuan. Proses transit ini menambah satu hingga dua hari waktu pengiriman sekaligus meningkatkan risiko kerusakan barang, terutama untuk komoditas bernilai tinggi seperti elektronik, perhiasan, dan produk farmasi.

"Infrastruktur logistik yang efisien adalah prasyarat mutlak bagi daerah yang ingin naik kelas dalam rantai nilai global. Tanpa itu, eksportir kita hanya bermain di segmen komoditas mentah dengan nilai tambah rendah," ujar seorang pengamat ekonomi internasional dalam sebuah diskusi panel di Jakarta.

Dari sisi sentimen pasar, ekspansi jaringan logistik global di wilayah timur Jawa ini juga menjadi sinyal positif bagi investor yang menilai kesiapan daerah menerima relokasi industri padat ekspor. Likuiditas arus barang yang lebih cepat berarti perputaran modal usaha menjadi lebih efisien.

Pro: Efisiensi dan Akses Pasar Global

Di satu sisi, kehadiran fasilitas logistik terpadu di Surabaya memberikan beberapa keunggulan kompetitif. Pertama, percepatan waktu pengiriman ekspres yang bisa memangkas 30 hingga 40 persen durasi pengiriman dibandingkan jalur konvensional. Kedua, peningkatan kapasitas penanganan barang hingga ribuan paket per hari, yang berarti eksportir tidak perlu lagi menumpuk barang di gudang terlalu lama. Ketiga, diversifikasi tujuan ekspor menjadi lebih terbuka karena konektivitas langsung ke lebih dari 220 negara dan wilayah.

Bagi industri kecil dan menengah (IKM) di Jawa Timur, khususnya sektor kerajinan, alas kaki, dan makanan olahan, akses langsung ke pasar global tanpa transit Jakarta dapat menurunkan biaya kirim satuan. Proyeksi sederhana menunjukkan bahwa penghematan biaya logistik sebesar 5 sampai 10 persen dapat meningkatkan volume ekspor IKM hingga 15 persen dalam dua tahun, jika diikuti dengan pendampingan sertifikasi ekspor.

Kontra: Risiko Volume dan Ketimpangan Antarwilayah

Di sisi lain, ada sejumlah catatan kritis yang perlu dicermati. Pertama, keberlanjutan operasional gateway bergantung pada volume barang yang konsisten. Jika utilisasi fasilitas di bawah 60 persen, biaya operasional per unit bisa membengkak dan berujung pada kenaikan tarif yang justru membebani eksportir kecil.

Kedua, pembangunan infrastruktur logistik di Surabaya berisiko memperlebar ketimpangan dengan wilayah lain di Jawa Timur seperti Madura, Banyuwangi, dan Pacitan yang masih minim konektivitas. Tanpa integrasi angkutan darat yang memadai, manfaat gateway ini hanya dinikmati oleh industri di radius 50 hingga 100 kilometer dari pusat kota.

Ketiga, capital outflow dalam bentuk pembayaran jasa logistik ke perusahaan asing tetap terjadi. Meski membuka lapangan kerja lokal, keuntungan ekonomi bersihnya perlu dihitung dengan cermat menggunakan rasio value-added domestik. Pemerintah daerah perlu memastikan adanya transfer pengetahuan dan pelibatan UMKM dalam rantai pasok fasilitas tersebut.

Secara keseluruhan, langkah penguatan jaringan logistik ini merupakan fondasi penting, tetapi bukan obat mujarab. Fundamental ekspor Jawa Timur tetap bergantung pada kualitas produk, harga yang kompetitif, serta stabilitas kebijakan perdagangan. Tanpa itu, gateway secanggih apa pun hanya akan menjadi bangunan megah tanpa arus barang yang mengalir deras.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User