Aug 28, 2026
Bisnis

Destry Janjikan Sinergi Merah Putih, Independensi BI Dijaga Penuh

Berdasarkan data Bank Indonesia per 26 Agustus 2026, suku bunga acuan atau BI-Rate berada di level 4,75 persen, inflasi tahunan terjaga di kisaran 2,1 persen year-on-year, dan cadangan devisa tercatat...

Destry Janjikan Sinergi Merah Putih, Independensi BI Dijaga Penuh

Berdasarkan data Bank Indonesia per 26 Agustus 2026, suku bunga acuan atau BI-Rate berada di level 4,75 persen, inflasi tahunan terjaga di kisaran 2,1 persen year-on-year, dan cadangan devisa tercatat sekitar USD 152 miliar. Dalam kondisi makro yang relatif terkendali itu, Destry Damayanti, calon Gubernur Bank Indonesia yang menjalani uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test di DPR, memaparkan arah kepemimpinannya: mempererat koordinasi dengan pemerintah melalui inisiatif bernama Sinergi Merah Putih, tanpa mengorbankan ruang independensi bank sentral.

Sinergi Merah Putih sebagai Payung Koordinasi Kebijakan

Program tersebut dirancang menjadi payung koordinasi antara otoritas moneter dan otoritas fiskal dalam menghadapi tantangan ekonomi domestik maupun global. Ruang lingkupnya mencakup stabilitas nilai tukar rupiah yang kini bertahan di sekitar Rp16.300 per dolar AS, pengendalian inflasi, pengembangan pembiayaan inklusif, hingga percepatan hilirisasi industri. Menurut Destry, kehadiran forum koordinasi semacam ini penting agar setiap langkah kebijakan tidak berjalan sendiri-sendiri dan dampaknya terasa lebih cepat ke sektor riil.

Ia menegaskan sinergi bukan berarti penyerahan kewenangan. Keputusan suku bunga, operasi pasar terbuka, dan pengelolaan cadangan devisa tetap menjadi ranah bank sentral yang diputuskan secara mandiri melalui rapat Dewan Gubernur. Independensi dalam konteks ini berarti kebebasan menetapkan kebijakan moneter tanpa intervensi politik, meski arahnya tetap selaras dengan target pemerintah, seperti pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,1 persen pada kuartal II 2026.

Dua Sisi Mata Uang: Pro dan Kontra

Di satu sisi, penguatan koordinasi dinilai mempercepat respons kebijakan. Pengalaman periode 2020-2022 menunjukkan kombinasi fiskal-moneter yang kompak mampu menekan premi risiko dan menjaga likuiditas pasar obligasi negara saat capital outflow mengancam. Sentimen pasar cenderung positif ketika arah kebijakan dua otoritas sejalan, tercermin dari indeks harga saham yang mengalami kenaikan hingga kisaran 7.800 pada perdagangan pekan ini, sejalan dengan tren arus masuk dana asing ke portofolio domestik.

Di sisi lain, kritikus mengingatkan keterlibatan bank sentral yang terlalu dekat dengan agenda fiskal berpotensi mengaburkan mandat stabilitas harga. Bila persepsi independensi melemah, investor asing dapat menuntut premi risiko lebih tinggi, menekan valuasi aset domestik, dan memicu perputaran dana keluar. Sejarah 2013 dan 2018 menjadi pengingat berharga: ketika kepercayaan pasar goyah, rupiah sempat mengalami penurunan hingga lebih dari 5 persen hanya dalam beberapa bulan.

"Independensi bukan berarti bekerja sendiri, melainkan bekerja secara profesional dengan tetap menjaga mandat stabilitas nilai rupiah. Sinergi justru memperbesar efektivitas kebijakan bila batas kewenangan masing-masing dihormati," ujar Destry dalam paparannya di gedung parlemen.

Uji Kepercayaan Pasar Ke Depan

Para pengamat menilai langkah ini akan diuji dari dua hal: konsistensi komunikasi kebijakan dan kualitas data. Selama BI-Rate, ekspektasi inflasi, dan proyeksi pertumbuhan tetap ditetapkan melalui kerangka inflation targeting yang transparan, sinergi dengan pemerintah kemungkinan besar diterima pasar sebagai nilai tambah, bukan ancaman. Rasio kredit perbankan terhadap produk domestik bruto yang masih berada di kisaran 40 persen juga menyisakan ruang besar bagi bank sentral untuk mendorong intermediasi keuangan bersama otoritas terkait.

Namun demikian, pengawasan publik tetap dibutuhkan. Transparansi dalam setiap rapat koordinasi, publikasi data yang tepat waktu, dan kejelasan pembagian peran antara sisi fiskal dan moneter menjadi syarat agar Sinergi Merah Putih tidak dibaca sebagai politisasi bank sentral. Pengalaman sejumlah negara tetangga membuktikan koordinasi yang ketat tetap kompatibel dengan kredibilitas, selama kerangka kebijakan ditetapkan dan dievaluasi secara terbuka.

Proyeksi 2026-2027: Antara Peluang dan Risiko Global

Ke depan, proyeksi ekonomi 2026-2027 masih menyimpan tantangan: pelemahan permintaan global, fluktuasi harga komoditas, serta dinamika kebijakan bank sentral negara maju yang dapat memicu capital outflow dari pasar berkembang. Dalam lanskap tersebut, kombinasi koordinasi fiskal-moneter yang solid dan independensi yang terjaga menjadi fundamental utama bagi kepercayaan pasar. Jika Destry resmi memimpin bank sentral, ujian sesungguhnya adalah membuktikan bahwa sinergi dan independensi bukan dua pilihan yang saling meniadakan, melainkan dua pilar yang saling menguatkan demi stabilitas sistem keuangan Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User