Berdasarkan data BPS, perekonomian Indonesia tumbuh 5,03 persen sepanjang 2024, dengan sektor informasi dan komunikasi mencatat laju di atas 6 persen — lebih cepat daripada rata-rata nasional. Di tengah tren digitalisasi tersebut, Badan Pengelolaan Investasi Danantara (BPI Danantara), badan yang mengelola portofolio aset BUMN dengan valuasi diklaim mendekati USD 1 triliun atau setara sekitar Rp 16.000 triliun, dilaporkan tengah menjajaki kerja sama dengan Arm Holdings, perusahaan desain semikonduktor asal Inggris. Fokus pembicaraan awal menyangkut pengembangan kapabilitas desain cip, langkah yang dibaca sebagai respons atas lonjakan permintaan pusat data (data center) serta kelangkaan pasokan cip kecerdasan buatan (AI) di pasar global.
Tekanan Permintaan Data Center yang Terus Meningkat
Fondasi pembicaraan ini adalah fundamental ekonomi digital yang terus membesar. Nilai transaksi bruto ekonomi digital Indonesia mencapai sekitar USD 90 miliar pada 2024, sementara sejumlah lembaga riset memproyeksikan pasar data center domestik tumbuh dua digit per tahun hingga 2030 dengan nilai yang berpotensi menembus USD 4 miliar. Di satu sisi, adopsi AI, cloud computing, dan layanan digital membuat kebutuhan kapasitas komputasi mengalami kenaikan tajam year-on-year. Di sisi lain, pasokan cip AI dunia tetap terkonsentrasi di segelintir pemain, dengan masa tunggu pemesanan chip kelas atas yang bisa mencapai belasan bulan. Ketimpangan ini menciptakan sentimen pasar yang mendorong negara berkembang — Indonesia termasuk — mempercepat keterlibatan di rantai nilai semikonduktor, setidaknya pada tahap desain dan perakitan yang kebutuhan modalnya lebih terjangkau.
Model Arm: Menjual Desain, Bukan Membangun Pabrik
Arm Holdings dikenal luas karena arsitektur prosesornya menggerakkan sekitar 99 persen smartphone dunia. Berbeda dengan Nvidia atau Intel, Arm tidak memproduksi cip sendiri. Perusahaan asal Cambridge ini menjual lisensi hak desain kepada para produsen, lalu memungut royalti — istilah untuk pembayaran kecil per unit cip yang terjual. Sejak IPO di bursa Nasdaq pada September 2023 dengan valuasi awal USD 54 miliar, kapitalisasi pasarnya mengalami kenaikan hingga melampaui USD 140 miliar, sejalan dengan tren menguatnya indeks Philadelphia Semiconductor (SOX) yang menjadi barometer saham cip global. Bagi Danantara, model berbasis lisensi ini relatif ringan modal dibandingkan membangun fabrikasi cip yang menelan USD 20-30 miliar per fasilitas. Dengan likuiditas yang dimiliki, kerja sama semacam ini berpotensi menggeser posisi Indonesia dari sekadar pasar konsumen teknologi menjadi pemain di hulu industri.
Di Satu Sisi: Peluang Strategis yang Nyata
Pro: kerja sama dengan Arm membuka tiga keuntungan fundamental. Pertama, pintu masuk berbiaya rendah karena lisensi kekayaan intelektual memungkinkan pembangunan kapabilitas desain tanpa harus membangun pabrik. Kedua, arsitektur Arm dikenal hemat energi; rasio performa per watt yang tinggi menjadi faktor krusial bagi data center di tengah isu biaya listrik industri. Ketiga, akses ekosistem luas: lebih dari 250 miliar cip berbasis Arm telah beredar secara kumulatif, sehingga jalur komersialisasi relatif tersedia. Bagi portofolio Danantara yang selama ini didominasi aset infrastruktur, energi, dan keuangan, diversifikasi ke teknologi hulu dapat memperkuat fundamental jangka panjang sekaligus menjawab agenda kemandirian teknologi nasional.
Di Sisi Lain: Risiko yang Tidak Bisa Diabaikan
Kontra: tantangannya tidak remeh. Pertama, keterbatasan talenta; jumlah desainer cip di Indonesia diperkirakan masih dalam skala ribuan orang, jauh di bawah India, Taiwan, atau Korea Selatan, sehingga kurikulum vok
Comments (0)