Destry Damayanti Temui Presiden Prabowo di Istana, Bahas Stabilitas Rupiah
Plt Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, melakukan kunjungan resmi ke Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin (27/7) untuk bertemu Presiden Prabowo Subianto. Pertemuan tertutup yang berlan...
Plt Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, melakukan kunjungan resmi ke Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin (27/7) untuk bertemu Presiden Prabowo Subianto. Pertemuan tertutup yang berlangsung sekitar satu jam itu digelar di tengah dinamika perekonomian global yang masih dipenuhi ketidakpastian. Dari keterangan terbatas pihak istana, diskusi menyoroti arah kebijakan moneter dan langkah sinergi menjaga momentum pertumbuhan.
Sosok Destry dan Mandat di Tengah Badai Global
Destry Damayanti, yang menjabat sebagai pejabat sementara gubernur BI sejak akhir masa tugas gubernur sebelumnya, bukanlah wajah baru di lingkaran ekonomi. Mantan analis senior ini membawa rekam jejak panjang di sektor perbankan dan pasar keuangan. Di bawah kepemimpinannya, bank sentral dituntut untuk merespons cepat gejolak eksternal—mulai dari pengetatan moneter negara maju, perang dagang yang melebar, hingga fluktuasi harga komoditas.
Dalam kapasitas Plt, ia memegang tongkat estafet yang krusial: memastikan transisi kebijakan berjalan mulus sembari menjaga persepsi pasar. Lawatan ke Presiden ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menyelaraskan visi antara otoritas moneter dan pemegang fiskal. “Koordinasi yang erat antara BI dan pemerintah adalah keniscayaan, terlebih ketika ekspektasi inflasi dan nilai tukar bergerak liar,” ujar seorang analis pasar uang yang enggan disebut namanya.
Data Terkini: Fondasi Solid, Namun Ada Bayangan
Beberapa indikator terbaru memberi sinyal beragam. Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni 2026 mencatat inflasi tahunan sebesar 2,78% (year-on-year), masih dalam rentang sasaran BI 2,5%-3,5%. Namun, tekanan dari sisi pangan bergejolak mulai mencuat menjelang musim kemarau panjang. Sementara itu, nilai tukar rupiah terpantau di kisaran Rp15.920 per dolar AS, sedikit melemah seiring capital outflow dari pasar obligasi domestik.
Di sisi lain, surplus neraca perdagangan Mei 2026 tetap kokoh di angka USD3,1 miliar, memperpanjang rekor surplus 37 bulan berturut-turut. Cadangan devisa pun bertahan di level USD141,8 miliar, cukup untuk membiayai lebih dari 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka-angka ini menjadi bantalan kuat yang membuat BI punya ruang bernapas sebelum menempuh pengetatan lebih agresif.
Namun, proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 yang diperkirakan moderat di 5,03%-5,08% menimbulkan tanya: apakah permintaan domestik cukup tangguh menopang ekspansi, atau justru perlu stimulus tambahan yang harus diselaraskan dengan disiplin moneter?
Pro-Kontra: Menimbang Sinyal Pertemuan
Pertemuan Destry-Prabowo langsung ditangkap pasar sebagai sinyal koordinasi tingkat tinggi. Pro: Sejumlah pelaku pasar menilai langkah ini mengonfirmasi bahwa pemerintah dan BI satu suara dalam mengantisipasi risiko perlambatan global. “Pertemuan ini memberi keyakinan bahwa Presiden terlibat langsung membaca denyut moneter, bukan hanya menyerahkan pada menteri keuangan,” kata Ekonom Senior INDEF, Ahmad Heri Firdaus.
Sentimen itu mendorong penguatan tipis rupiah dalam perdagangan Selasa pagi. Selain itu, pelaku pasar juga mengantisipasi kemungkinan pelonggaran makroprudensial lebih lanjut untuk mendorong intermediasi perbankan—kebijakan yang membutuhkan dukungan politik kuat.
Kontra: Di kubu yang lebih skeptis, pertemuan ini justru menimbulkan pertanyaan tentang independensi bank sentral. “Meskipun wajar, frekuensi pertemuan langsung antara Plt Gubernur BI dan Presiden perlu dijaga agar tidak memberi persepsi bahwa kebijakan moneter sedang diintervensi secara politis,” ujar seorang pengamat independen. Mereka mengingatkan, dalam sejarah, tekanan politik pada bank sentral sering kali berujung pada kebijakan yang terlalu akomodatif terhadap siklus politik pendek, dan itu bisa berbahaya bagi stabilitas harga jangka panjang.
Arah Kebijakan ke Depan dan Proyeksi
Rapat Dewan Gubernur BI bulan depan kini dinanti. Dengan inflasi yang relatif jinak namun rupiah rentan, analis memperkirakan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) akan ditahan di level 5,75% sekali lagi. Pasar menunggu pernyataan resmi apakah ada penyesuaian makroprudensial—misalnya dalam aturan Loan to Value (LTV) atau pemberian insentif likuiditas bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas.
Sumber di kompleks BI menyebut, Destry menyampaikan kepada Presiden sejumlah skenario jika The Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga pada September. Dalam skenario tekanan, BI siap mengoptimalkan intervensi ganda di pasar DNDF dan Surat Berharga Negara tanpa terburu-buru menaikkan suku bunga acuan, guna melindungi biaya pendanaan domestik.
Pertemuan ini juga diyakini menyinggung percepatan digitalisasi sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan—dua agenda yang menjadi prioritas Presiden Prabowo. “Pemerintah ingin QRIS dan transaksi digital menjangkau lebih banyak UMKM di luar Jawa, dan BI menjadi mitra kunci,” kata seorang pejabat yang mengetahui isi pembahasan.
Dengan konteks ini, lawatan singkat Destry ke istana bukan sekadar laporan rutin. Ia menegaskan bahwa di tengah pusaran global, duet fiskal-moneter adalah perisai utama. Tantangannya, keduanya harus bisa menari di irama yang sama tanpa saling menginjak kaki.
Comments (0)