Destry Damayanti Tegaskan Stabilitas Pascamundurnya Perry Warjiyo

Di tengah gejolak pasar keuangan global, Bank Indonesia (BI) menghadapi ujian transisi kepemimpinan yang tidak terduga. Berdasarkan data transaksi pasar uang per 10 April 2025, rupiah sempat menyentuh...

Jul 27, 2026 - 19:58
0 2
Destry Damayanti Tegaskan Stabilitas Pascamundurnya Perry Warjiyo

Di tengah gejolak pasar keuangan global, Bank Indonesia (BI) menghadapi ujian transisi kepemimpinan yang tidak terduga. Berdasarkan data transaksi pasar uang per 10 April 2025, rupiah sempat menyentuh level Rp15.780 per dolar AS sebelum akhirnya menguat tipis ke Rp15.640, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 8 basis poin menjadi 6,92%. Angka-angka ini muncul hanya sehari setelah Perry Warjiyo secara resmi mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI. Kini, seluruh perhatian tertuju pada Destry Damayanti, yang langsung dilantik sebagai Pelaksana Tugas Gubernur BI, dengan pesan tegas: seluruh tugas bank sentral tetap berjalan tanpa hambatan.

Sinyal Pasar dan Respons Cepat BI

Reaksi awal pasar memang menunjukkan kekhawatiran. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi 1,3% di sesi pembukaan, sementara premi credit default swap (CDS) Indonesia untuk tenor 5 tahun naik ke level 105 bps. Namun, respons cepat Destry mampu meredakan gejolak. Dalam konferensi pers darurat, ia menegaskan bahwa BI akan tetap menjaga kestabilan nilai tukar melalui triple intervention di pasar spot, DNDF, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. “Kami memiliki likuiditas valas yang memadai, dengan cadangan devisa per akhir Maret 2025 tercatat sebesar USD 140,2 miliar, cukup untuk membiayai 6,5 bulan impor atau di atas standar kecukupan internasional 3 bulan,” ujarnya.

Pro dan Kontra: Ujian Independensi versus Risiko Politik

Di satu sisi, banyak pihak melihat pengunduran diri Perry sebagai langkah terhormat yang menjaga independensi bank sentral. Dengan mundur, ia memberi ruang bagi BI untuk menghindari perdebatan politik yang bisa mengganggu persepsi investor. Ekonom Indef, Abdul Manap Pulungan, menilai keputusan ini justru menegaskan bahwa BI tetap fokus pada mandat tunggal: mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. “Tidak ada alasan fundamental yang membuat rupiah tertekan dalam jangka panjang. Inflasi inti April 2025 masih terjaga di 2,63% YoY, sesuai target BI 2%±1%,” kata Manap. Selain itu, suku bunga acuan BI-Rate yang ditahan di level 5,75% sejak Desember 2024 dianggap masih konsisten untuk menarik aliran modal asing. Portofolio kepemilikan asing di SBN per 9 April 2025 mencapai Rp852 triliun, naik Rp24 triliun secara year-to-date, menandakan kepercayaan investor belum tergerus.

Di sisi lain, pengamat pasar mengingatkan bahwa transisi kepemimpinan di tengah ketidakpastian global dapat memicu capital outflow jangka pendek. Apalagi, indeks volatilitas dari bursa Chicago (VIX) masih di atas 20, menandakan risk appetite investor global sedang rendah. Kekhawatiran bahwa Destry yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior tidak memiliki cukup legitimasi politik untuk mengambil kebijakan non-konvensional jika terjadi skenario terburuk—semisal lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi—menjadi catatan tersendiri. Analis dari Bank Mandiri memproyeksikan bahwa jika rupiah menembus level Rp16.000, BI mungkin perlu menaikkan suku bunga 25 bps, yang bisa menekan sektor riil. “Namun, kami melihat probabilitas kenaikan suku bunga masih rendah, karena inflasi volatile food justru diperkirakan melandai setelah panen raya April-Mei,” tutur ekonom tersebut.

Fundamental yang Masih Kuat di Balik Transisi

Terlepas dari sentimen jangka pendek, indikator makro domestik tetap memberikan fondasi yang solid. Neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2025 mencatat surplus USD 2,1 miliar, melanjutkan tren surplus 59 bulan beruntun. Rasio utang pemerintah terhadap PDB juga masih aman di angka 38,4%, jauh dari batas maksimum 60% sesuai Undang-Undang Keuangan Negara. Dari sisi perbankan, kredit perbankan tumbuh 11,6% YoY per Februari 2025, dengan rasio NPL gross tetap rendah di 2,5%. Destry, yang dikenal sebagai ahli kebijakan moneter dan sistem pembayaran, dipandang memiliki kapasitas teknis tinggi, termasuk pengalaman memimpin tim proyek digitalisasi rupiah dan pengembangan BI-FAST. Oleh karena itu, banyak pelaku pasar yakin bahwa stabilitas sistem pembayaran dan operasi moneter tidak akan terganggu.

Sementara itu, BI di bawah komando Destry langsung mengumumkan bahwa Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan tetap berjalan sesuai jadwal, 22-23 April 2025, dengan agenda utama memperkuat stabilisasi nilai tukar dan mempercepat implementasi instrumen giro wajib minimum (GWM) perbankan. Isu utama yang akan dibahas adalah revisi peraturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) untuk memperbesar pasokan valas dari eksportir, yang selama ini menjadi momok struktural rupiah. Destry berulang kali menekankan bahwa kebijakan BI “akan tetap berbasis data dan tidak reaktif.” Pernyataan ini menggemakan pendapat Perry sebelumnya, sekaligus memberi isyarat bahwa transisi ini bukanlah perubahan haluan, melainkan kelanjutan dari bauran kebijakan (policy mix) yang sudah ada.

Dengan demikian, pasar kini memasuki fase “wait and see” sembari menanti Sidang Tahunan DPR yang akan memilih gubernur definitif dalam beberapa pekan mendatang. Apakah nama Destry akan diajukan sebagai gubernur tetap, atau muncul kandidat lain, menjadi pertanyaan besar berikutnya. Hingga saat itu tiba, satu hal yang pasti: BI menjamin tidak akan ada kekosongan kepemimpinan yang membahayakan stabilitas makro. Seperti kata Destry, “Rupiah adalah harga diri bangsa; kami tidak akan membiarkannya dipermainkan hanya karena dinamika personal.” Data terbaru menunjukkan pernyataan itu bukan sekadar retorika: pada penutupan pasar sesi Asia sore ini, rupiah kembali menguat ke level Rp15.590, dan IHSG berhasil balik hijau 0,35%.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User