Destry Damayanti Resmi Jabat Plt Gubernur BI Gantikan Perry Warjiyo
Kursi Gubernur Bank Indonesia (BI) resmi beralih untuk sementara waktu menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo. Destry Damayanti, yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI, ditunjuk s...
Kursi Gubernur Bank Indonesia (BI) resmi beralih untuk sementara waktu menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo. Destry Damayanti, yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI, ditunjuk sebagai Penjabat Sementara (Plt) Gubernur BI melalui Keputusan Presiden yang terbit pada awal pekan ini. Penunjukan tersebut berlaku efektif hingga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menetapkan Gubernur definitif hasil uji kelayakan dan kepatutan yang dijadwalkan dalam beberapa bulan mendatang. Langkah cepat ini diambil untuk memastikan roda kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan stabilitas sektor keuangan tetap berjalan tanpa jeda di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
Jalur Karier dan Rekam Jejak
Destry Damayanti bukanlah nama baru di panggung otoritas moneter dan perbankan Indonesia. Perempuan kelahiran Jakarta, 27 April 1968, ini mengawali perjalanan profesionalnya sebagai ekonom di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebelum merambah ke sektor keuangan. Gelar Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia ia raih pada 1992, disusul Master of Arts dalam bidang ekonomi dari University of Adelaide, Australia, serta Ph.D. dari University of Melbourne dengan disertasi yang mengkaji dampak kebijakan moneter terhadap suku bunga perbankan.
Jejak regulaorinya semakin solid saat ia menjabat Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada periode 2017-2019. Di posisi tersebut, Destry dikenal sebagai sosok yang tegas dalam menerapkan manajemen risiko, terutama pasca restrukturisasi beberapa bank bermasalah. Keberhasilannya menjaga rasio kredit bermasalah (NPL) industri perbankan tetap di bawah ambang batas 3% menjadi salah satu catatan kinerja yang mengantarkannya masuk ke jajaran pimpinan BI.
Destry juga pernah memimpin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai anggota Dewan Komisioner, memperkuat pemahamannya tentang resolusi bank dan jaring pengaman sistem keuangan. Kombinasi pengalaman di fiskal, pengawasan bank, dan penjaminan simpanan inilah yang membuat Presiden memilihnya sebagai pendamping Perry Warjiyo sejak 2023 hingga kini mendapat amanah sebagai Plt Gubernur BI.
Respons Pasar dan Sentimen Investor
Pasar keuangan sempat bergejolak tipis setelah kabar pengunduran diri Perry mencuat. Namun, penunjukan Destry sebagai Plt langsung meredam volatilitas. Pada sesi perdagangan pertama pasca-pengumuman, nilai tukar rupiah justru menguat 35 poin ke level Rp15.650 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,78% ke posisi 7.245. Analis menilai respons positif ini didasari oleh kepercayaan bahwa Destry akan melanjutkan stance kebijakan yang prudent dan terukur.
“Investor melihat Destry sebagai figur yang paham betul dinamika nilai tukar dan inflasi, mengingat perannya selama ini dalam merumuskan respons BI terhadap gejolak eksternal,” ujar seorang ekonom senior dari lembaga riset independen. Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati nasib suku bunga acuan BI-7-Day Reverse Repo Rate yang saat ini bertengger di 6,25%. Sebagian analis memperkirakan Plt Gubernur akan mempertahankan suku bunga pada rapat dewan gubernur mendatang demi menjaga stabilitas rupiah, sementara sebagian lain berharap ada sinyal pelonggaran terukur.
Prioritas Kebijakan dan Tantangan Makro
Destry mewarisi bank sentral dengan modal fundamental yang cukup solid namun dihadapkan pada sejumlah risiko global. Cadangan devisa Indonesia per akhir bulan lalu tercatat USD 138,7 miliar, setara dengan 6,1 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tahun-ke-tahun juga masih terkendali di kisaran 2,85%, masih dalam sasaran BI 2,5% ± 1%. Namun, ketidakpastian arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan tensi geopolitik tetap mengancam aliran modal asing keluar (capital outflow) yang sempat mencapai Rp18,3 triliun dalam dua pekan terakhir.
Dalam pernyataan perdana seusai pelantikan, Destry menegaskan tiga prioritasnya: menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi terukur di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), melanjutkan program pendalaman pasar keuangan, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga likuiditas perbankan agar penyaluran kredit tetap tumbuh di atas 10% secara tahunan tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian.
Di sisi domestik, pelemahan daya beli kelompok menengah bawah menjadi catatan tersendiri. Data penjualan ritel dan indeks kepercayaan konsumen mengalami moderasi, sehingga ruang bagi pelonggaran moneter secara terburu-buru masih sangat terbatas. Destry kemungkinan akan mengandalkan bauran kebijakan (policy mix) dengan tetap mengoptimalkan instrumen operasi moneter jangka pendek untuk mengarahkan suku bunga efektif tanpa harus mengubah suku bunga acuan secara drastis.
Transisi Kepemimpinan di Mata Pakar
Para pengamat menilai transisi ini relatif mulus karena Destry sudah menjadi bagian dari pengambilan keputusan strategis di BI selama lebih dari setahun terakhir. “Agenda yang ditinggalkan Perry, seperti digitalisasi rupiah, pengembangan BI-FAST, dan integrasi ekosistem ekonomi keuangan digital, kemungkinan besar tidak akan berhenti,” kata seorang profesor ekonomi dari universitas negeri terkemuka. Namun, ia mengingatkan bahwa posisi Plt bukan berarti carte blanche; Destry perlu membangun komunikasi yang kuat dengan DPR dan Presiden untuk memastikan dukungan kebijakan.
Sementara itu, proses uji kelayakan dan kepatutan calon Gubernur BI definitif masih berlangsung. Spekulasi menyebutkan sejumlah nama, tetapi pelaku pasar lebih memilih memantau rekam jejak Destry selama masa transisi ini sebagai sinyal apakah BI akan berevolusi ke arah yang lebih adaptif atau tetap mempertahankan ortodoksi moneternya. Yang jelas, penunjukan Destry Damayanti menandai babak baru—meski sementara—bagi bank sentral yang sedang menjaga denyut ekonomi di tengah badai global yang belum sepenuhnya reda.
Comments (0)