Destry Damayanti Pastikan Stabilitas Rupiah di Tengah Transisi BI

Pelaksana Tugas (Pjs) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, bergerak cepat meredam gejolak dengan menyambangi Istana Negara pada Senin pagi. Kunjungan ini merupakan bagian dari rapat koordinasi t...

Jul 27, 2026 - 23:38
0 0
Destry Damayanti Pastikan Stabilitas Rupiah di Tengah Transisi BI

Pelaksana Tugas (Pjs) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, bergerak cepat meredam gejolak dengan menyambangi Istana Negara pada Senin pagi. Kunjungan ini merupakan bagian dari rapat koordinasi tingkat tinggi yang digelar menyusul pengunduran diri Gubernur BI sebelumnya, Perry Warjiyo, yang mengejutkan pasar keuangan. Dalam pertemuan tertutup tersebut, Destry menegaskan bahwa menjaga kestabilan nilai tukar rupiah menjadi prioritas utama bank sentral di tengah masa transisi kepemimpinan. Langkah simbolis namun strategis ini langsung disambut positif pelaku pasar yang sebelumnya dihantui ketidakpastian arah kebijakan moneter.

Berdasarkan data Bank Indonesia per pekan lalu, rupiah bergerak di kisaran Rp16.250 per dolar AS, melemah tipis 0,3% secara year-to-date namun masih dalam batas toleransi fundamental. Cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 140,3 miliar dolar AS pada akhir Mei 2026, cukup untuk membiayai 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini berada di atas standar kecukupan internasional yang direkomendasikan sekitar tiga bulan impor. Namun, sentimen terhadap rupiah sempat tertekan setelah kabar pengunduran diri Perry Warjiyo memicu capital outflow sementara sebesar Rp4,2 triliun dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dalam dua hari perdagangan.

Dua Sisi Kunjungan ke Istana

Di satu sisi, langkah Destry mendatangi istana memberikan sinyal kuat bahwa koordinasi antara bank sentral dan pemerintah tetap solid. Kepastian ini krusial karena pasar sering kali mengkhawatirkan potensi friksi dalam pengambilan kebijakan ekonomi. Kehadiran Pjs Gubernur BI di lingkaran kekuasaan menunjukkan bahwa tidak ada kekosongan otoritas; sebaliknya, pemerintah dan BI justru mempercepat konsolidasi untuk menjaga stabilitas makro. Presiden Joko Widodo—atau penerusnya—dipastikan akan memberikan dukungan penuh terhadap operasi moneter yang diperlukan, termasuk intervensi di pasar valas bila tekanan terhadap rupiah meningkat.

Di sisi lain, ada konsen bahwa kunjungan tersebut belum tentu mengubah fundamental ekonomi yang dihadapi Indonesia. Tekanan eksternal tetap menjadi tantangan utama, terutama kebijakan suku bunga global yang masih tinggi. Bank sentral Amerika Serikat, The Fed, diproyeksikan baru akan memangkas suku bunga acuan sekali lagi tahun ini setelah penurunan pada kuartal pertama 2026. Dengan suku bunga The Fed di kisaran 4,75–5,00%, selisih imbal hasil (spread) terhadap obligasi Indonesia masih sempit, sehingga daya tarik portofolio asing terbatas. Selain itu, perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali memanas, mempengaruhi kinerja ekspor nasional dan menambah tekanan pada neraca transaksi berjalan.

Transisi Kepemimpinan Tanpa Gejolak

Latar belakang pengunduran diri Perry Warjiyo masih menjadi spekulasi, namun Dewan Gubernur BI bertindak sigap dengan menunjuk Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas. Destry bukan sosok asing di pasar. Sebagai deputi gubernur senior sebelumnya, ia telah terlibat dalam berbagai keputusan strategis termasuk pengetatan moneter agresif sepanjang 2024–2025 untuk menahan inflasi dan pelemahan rupiah. Rekam jejaknya yang prudent membuat banyak analis yakin bahwa BI tidak akan mengubah stance kebijakan secara drastis. Ekonom senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, Teuku Riefky, dalam catatannya menyebut,

"Transisi di tubuh BI kali ini bisa dikatakan minim gejolak karena kebijakan yang diusung tampaknya akan bersifat kontiyu. Pasar memahami bahwa personel sama hanya berganti posisi."

Meski demikian, ada pula pengamat yang mengingatkan risiko moral hazard jika kekosongan kepemimpinan permanen berlangsung terlalu lama. Undang-Undang Bank Indonesia mengamanatkan pengangkatan gubernur tetap melalui mekanisme fit and proper test di DPR. Proses politik ini berpotensi menimbulkan noise bila ada tarik-menarik kepentingan, terutama menjelang pemilihan umum atau perombakan kabinet. Pemerintah perlu segera mengajukan calon definitif agar status Pjs tidak menggerus kredibilitas bank sentral dalam jangka menengah.

Rupiah dan Inflasi: Proyeksi Sisa Tahun

Dari sisi inflasi, kondisi domestik relatif kondusif. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 tercatat 2,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), masih dalam sasaran BI sebesar 2,5% ± 1%. Inflasi inti juga terjaga di level 2,3% yoy, menunjukkan permintaan domestik yang tidak overheat. Ini memberi ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 6,25%, setidaknya hingga akhir kuartal ketiga. Namun, tekanan terhadap rupiah bisa kembali muncul jika data ekonomi AS membaik dan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menunda pemangkasan suku bunga.

Berdasarkan proyeksi Beritadua, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.100–Rp16.500 per dolar AS sepanjang sisa tahun 2026, dengan bias melemah terbatas. Asumsi ini mempertimbangkan intervensi BI yang agresif di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan spot, serta potensi aliran masuk modal dari penerbitan obligasi global pemerintah. Sentimen positif juga bisa datang dari penyelesaian transisi politik yang tertib dan dimulainya proyek-proyek strategis nasional pasca-Idulfitri. Namun, likuiditas global yang ketat dan perlambatan ekonomi Tiongkok—mitra dagang utama Indonesia—adalah faktor risiko yang tak bisa diabaikan.

Secara keseluruhan, kunjungan Destry ke Istana adalah langkah awal yang tepat untuk membangun kepercayaan. Namun, pekerjaan rumah sesungguhnya adalah bagaimana BI dan pemerintah bersama-sama menavigasi lingkungan eksternal yang penuh ketidakpastian. Seperti dikatakan Menteri Keuangan dalam komentarnya beberapa waktu lalu, "Kerja sama erat antara otoritas fiskal dan moneter adalah kunci untuk menghadapi badai global." Kalimat itu kini menemukan relevansinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User