Destry Damayanti Gantikan Perry Warjiyo, Rupiah Tetap Prioritas

Lanskap kebijakan moneter Indonesia memasuki babak baru. Perry Warjiyo resmi melepas jabatan sebagai Gubernur Bank Indonesia, dan untuk sementara, tampuk pimpinan dipegang oleh Destry Damayanti. Trans...

Jul 28, 2026 - 09:52
0 0
Destry Damayanti Gantikan Perry Warjiyo, Rupiah Tetap Prioritas

Lanskap kebijakan moneter Indonesia memasuki babak baru. Perry Warjiyo resmi melepas jabatan sebagai Gubernur Bank Indonesia, dan untuk sementara, tampuk pimpinan dipegang oleh Destry Damayanti. Transisi ini terjadi di tengah tekanan terhadap rupiah yang masih menyita perhatian pelaku pasar. Destry, yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior, kini akan mengawal stabilitas moneter sembari menanti proses penggantian definitif. Jabatan sementara ini bukan sekadar seremonial—ia hadir saat rupiah berada di persimpangan antara pemulihan dan volatilitas global.

Berdasarkan data Bank Indonesia per 20 Mei 2025, nilai tukar rupiah ditransaksikan di level Rp14.980 per dolar AS, melemah tipis 0,3% dibanding penutupan hari sebelumnya. Meski demikian, secara year-on-year rupiah masih terapresiasi 2,1% dari posisi Rp15.300 pada Mei 2024. Cadangan devisa per akhir April 2025 tercatat sebesar USD 141,2 miliar, setara 6,3 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional. Inflasi inti bulan April 2025 berada di 2,8% year-on-year, masih dalam kisaran sasaran BI 2,5±1%. Di pasar saham, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,7% ke level 7.245 seiring aksi ambil untung pasca rilis data transisi kepemimpinan BI. Data-data ini menjadi pijakan awal untuk membaca arah kebijakan di bawah nakhoda sementara Destry Damayanti.

Dua Sisi Transisi: Kontinuitas versus Ketidakpastian

Di satu sisi, Destry Damayanti adalah figur yang sudah sangat mengenal seluk-beluk Bank Indonesia. Sebagai Deputi Gubernur Senior sejak 2018—dan bahkan sempat mengemban tugas pelaksana harian Gubernur BI pada 2023—Destry memiliki rekam jejak konsisten dalam menjaga stabilitas moneter. Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di bank sentral, ia dipandang sebagai penerus garis kebijakan Perry Warjiyo yang prudent. Fokusnya pada nilai tukar bukanlah hal baru; Destry kerap menekankan pentingnya fundamental ekonomi dalam menopang rupiah. Kepemimpinannya diproyeksikan menjaga kontinuitas bauran kebijakan (triple intervention) di pasar spot valas, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar obligasi. Pasar pun relatif tenang karena persepsi bahwa tidak akan ada perubahan drastis dalam sikap moneter BI, setidaknya sampai gubernur definitif terpilih.

Di sisi lain, statusnya sebagai penjabat sementara tetap memunculkan sentimen ketidakpastian, terutama bagi investor institusi global yang menginginkan kepastian jangka panjang. Proses pemilihan gubernur definitif yang melibatkan DPR dan pemerintah bisa memakan waktu beberapa pekan. Selama periode transisi ini, ruang gerak BI dalam mengambil keputusan strategis—seperti penyesuaian suku bunga acuan BI-Rate yang saat ini berada di 5,75%—berpotensi terbatas. Apalagi, tekanan eksternal masih kuat: Federal Reserve diproyeksikan menahan suku bunga tinggi lebih lama (higher-for-longer), eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah, dan pemulihan ekonomi Tiongkok yang tidak merata. Ketiga faktor ini bisa memicu capital outflow dari pasar obligasi dan ekuitas Indonesia, yang pada gilirannya menekan rupiah. Ketidakpastian transisi juga dapat memperlebar premi risiko (credit default swap/CDS) Indonesia, sehingga meningkatkan biaya lindung nilai bagi investor asing.

Respons Pasar dan Proyeksi Nilai Tukar

Pasar keuangan mencerna kabar transisi ini dengan hati-hati. Pada perdagangan sesi pagi setelah pengumuman, rupiah sempat terdepresiasi ke Rp15.050 per dolar AS sebelum kembali menguat terbatas seiring intervensi BI melalui bank-bank BUMN. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ringan 3 basis poin ke level 6,92%, menandakan adanya sedikit pergeseran permintaan. Namun, derasnya arus portofolio domestik dari investor ritel dan dana pensiun membantu meredakan tekanan. Di pasar saham, saham sektor perbankan dan konsumer masih mencatatkan pembelian bersih dari investor lokal senilai Rp1,2 triliun, mengindikasikan kepercayaan bahwa fundamental ekonomi domestik masih solid.

Proyeksi nilai tukar bergerak dalam rentang lebar. Skenario optimis menempatkan rupiah di kisaran Rp14.800–Rp15.200 per dolar AS hingga akhir kuartal II 2025, didukung oleh surplus neraca dagang nonmigas yang pada April lalu mencapai USD 2,7 miliar dan penurunan bertahap defisit transaksi berjalan. Skenario pesimistis, yang dipicu oleh memburuknya selera risiko global, dapat mendorong rupiah menembus level Rp15.500 jika tekanan outflow meningkat signifikan. Dengan bekal cadangan devisa yang tebal dan inflasi yang terjaga, BI memiliki amunisi cukup untuk meredam volatilitas berlebih. Destry, dalam kapasitasnya, diperkirakan akan melanjutkan strategi operasi moneter yang fleksibel: lelang term deposit dan operasi pasar terbuka untuk menyerap likuiditas, serta intervensi ganda yang terukur.

Destry dan Stabilitas di Era Transisi Global

Transisi ini ibarat ujian dadakan bagi Destry Damayanti. Di satu sisi, ia hadir dengan mandat stabilitas yang jelas dan pengakuan pasar terhadap profesionalitasnya. Stabilitas politik dalam negeri pasca pemilu 2024 juga memberi fondasi yang lebih kokoh dibanding periode transisi sebelumnya. Di sisi lain, perang dagang Amerika Serikat–Tiongkok yang kembali memanas serta ancaman resesi di Eropa menjadi awan gelap yang sulit diabaikan. Maka, kebijakan nilai tukar yang “prioritas kita” sebagaimana ditegaskan Destry sebelumnya, akan benar-benar diuji dalam beberapa pekan mendatang. Kemampuannya menjaga komunikasi publik yang transparan, mengelola ekspektasi inflasi, dan merespons dinamika pasar dengan cepat akan menjadi penentu kepercayaan investor.

Dengan segala dinamika itu, posisi Destry Damayanti sebagai pelaksana sementara tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia adalah penjaga gawang di tengah kencangnya angin eksternal. Pasar akan terus memantau setiap sinyal—baik dari pernyataan resmi maupun dari data riil—untuk menilai apakah rupiah mampu bertahan di jalur stabilisasi. Indonesia patut berbesar hati karena transisi ini terjadi saat rasio likuiditas perbankan masih longgar—Loan-to-Deposit Ratio (LDR) di 81,4% dan Non-Performing Loan (NPL) gross di 2,3%—sehingga shock potensial bisa teredam. Toh, sejarah mencatat bahwa fundamental yang kuat adalah penopang terbaik nilai tukar, siapapun yang duduk di kursi Gubernur BI.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User