Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI, Pasar Merespons Positif

Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2024, suku bunga acuan BI Rate bertahan di level 6,00% dengan inflasi year-on-year terkendali di kisaran 2,8%, masih berada dalam sasaran 2,5%±1%. Di tenga...

Aug 12, 2026 - 08:04
0 0
Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI, Pasar Merespons Positif

Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2024, suku bunga acuan BI Rate bertahan di level 6,00% dengan inflasi year-on-year terkendali di kisaran 2,8%, masih berada dalam sasaran 2,5%±1%. Di tengah fundamental moneter yang relatif stabil tersebut, muncul perkembangan penting dari sisi kelembagaan: Destry Damayanti resmi menjadi calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Dukungan mengalir dari sejumlah pejabat ekonomi, termasuk Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, yang menilai figur Destry memiliki rekam jejak mumpuni untuk memimpin bank sentral.

Rekam Jejak dan Faktor Dukungan

Destry Damayanti bukan nama baru di koridor kebijakan ekonomi. Ia menjabat Deputi Gubernur Senior BI sejak 2019 dan telah berkarier lebih dari dua dekade di sektor perbankan serta kebijakan publik. Pengalaman panjang tersebut menjadi modal utama yang membuat tiga pejabat ekonomi kompak memberikan dukungan terbuka.

Dari perspektif kelembagaan, status calon tunggal mencerminkan adanya konsensus politik dan teknokratis yang kuat. Konsensus semacam ini umumnya mengurangi ketidakpastian transisi kepemimpinan—faktor yang selalu dicermati investor karena menyangkut kontinuitas kebijakan moneter, yakni kebijakan bank sentral dalam mengatur suku bunga dan jumlah uang beredar demi menjaga stabilitas harga.

"Kontinuitas kepemimpinan di bank sentral adalah variabel penting bagi kredibilitas kebijakan. Pasar cenderung memberikan premi kepercayaan pada figur yang tumbuh dari internal institusi," demikian pandangan yang berkembang di kalangan pelaku pasar.

Dua Sisi: Optimisme Pasar versus Catatan Kritis

Di satu sisi, respons pasar terhadap pencalonan ini tergolong positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau dan rupiah relatif stabil di kisaran Rp15.700 per dolar AS. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun juga terpantau stabil di sekitar 6,6%, mengindikasikan sentimen pasar yang kondusif. Bagi investor portofolio, figur berpengalaman dari internal BI menjanjikan prediktabilitas—kemampuan pasar memperkirakan arah kebijakan—yang menjadi syarat penting agar aliran modal asing tidak berbalik menjadi capital outflow, yakni pelarian dana investor ke luar negeri.

Di sisi lain, sejumlah pengamat memberikan catatan kritis. Status calon tunggal, meskipun efisien secara proses, mengurangi ruang perbandingan gagasan yang biasanya muncul ketika beberapa kandidat bersaing. Ada pula kekhawatiran bahwa dukungan kompak para pejabat ekonomi dapat menimbulkan persepsi mengenai independensi bank sentral. Independensi di sini merujuk pada kebebasan bank sentral menetapkan kebijakan tanpa tekanan politik jangka pendek, prinsip yang dijaga ketat oleh undang-undang dan menjadi jangkar kepercayaan investor global.

Tantangan Kebijakan di Depan Mata

Siapa pun yang memimpin BI akan menghadapi lanskap global yang tidak sederhana. Suku bunga acuan The Fed yang masih tinggi di level 5,25%–5,50% membuat selisih suku bunga (interest rate differential) antara Indonesia dan Amerika Serikat tetap sempit. Kondisi ini berpotensi memicu capital outflow jika BI menurunkan suku bunga terlalu agresif. Namun di sisi lain, suku bunga tinggi berkepanjangan dapat menekan likuiditas perbankan dan laju kredit yang tahun lalu tumbuh sekitar 10% year-on-year.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 berada di kisaran 5,0%–5,2%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata ekonomi global yang diproyeksikan sekitar 3%. Menjaga tren tersebut membutuhkan koordinasi erat antara kebijakan moneter dan fiskal—sesuatu yang akan menjadi ujian nyata bagi kepemimpinan baru bank sentral.

Proyeksi ke Depan

Secara fundamental, pencalonan Destry Damayanti membawa pesan stabilitas. Valuasi aset keuangan domestik, rasio kecukupan modal perbankan yang berada di atas 25%, serta cadangan devisa sekitar US$140 miliar memberikan bantalan yang memadai. Namun, kredibilitas kepemimpinan baru pada akhirnya akan diukur dari kemampuan menjaga inflasi dalam sasaran, meredam volatilitas rupiah, dan mempertahankan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global. Pasar kini menanti proses uji kelayakan di DPR sebagai penentu akhir arah kepemimpinan bank sentral.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User