Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI, Kesinambungan Moneter Jadi Sorotan

Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2025, suku bunga acuan BI Rate berada di level 5,75 persen setelah mengalami penurunan 25 basis poin, sementara tren inflasi year-on-year terkendali di bawa...

Aug 12, 2026 - 03:38
0 0
Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI, Kesinambungan Moneter Jadi Sorotan

Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2025, suku bunga acuan BI Rate berada di level 5,75 persen setelah mengalami penurunan 25 basis poin, sementara tren inflasi year-on-year terkendali di bawah 2 persen dan cadangan devisa tercatat sekitar 155,7 miliar dolar AS. Di tengah fondasi makroekonomi tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia kepada DPR. Langkah ini segera menjadi sorotan pelaku pasar karena menyangkut kesinambungan kebijakan moneter di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.

Usulan nama tunggal tersebut dinilai sejumlah ekonom sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah ingin menjaga konsistensi arah kebijakan bank sentral. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, termasuk yang memandang positif keputusan ini karena dianggap mampu memastikan transisi kepemimpinan di BI berjalan mulus tanpa mengganggu ekspektasi pasar.

Rekam Jejak Panjang di Sektor Keuangan

Destry Damayanti bukan wajah baru di lingkungan bank sentral. Ia menjabat Deputi Gubernur Senior BI sejak Agustus 2019, posisi tertinggi kedua yang membawahi koordinasi kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan pengelolaan moneter. Sebelumnya, ia menjabat anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan periode 2015 hingga 2019.

Karier profesionalnya juga mencakup pengalaman sebagai ekonom di sektor swasta, termasuk di industri perbankan investasi. Kombinasi pengalaman di otoritas penjaminan simpanan, bank sentral, dan sektor swasta dinilai memberinya pemahaman menyeluruh terhadap likuiditas perbankan, manajemen risiko, serta dinamika sentimen pasar yang kerap bergerak cepat merespons isu domestik maupun global.

Di Satu Sisi: Kesinambungan Menjadi Nilai Tambah

Di satu sisi, penunjukan figur internal seperti Destry dipandang menguntungkan karena pasar keuangan umumnya bereaksi negatif terhadap ketidakpastian. Dengan latar belakang sebagai Deputi Gubernur Senior, ia memahami persis bauran kebijakan yang selama ini dijalankan, mulai dari pengendalian suku bunga, stabilisasi nilai tukar rupiah, hingga pelonggaran kebijakan makroprudensial untuk mendorong penyaluran kredit perbankan.

Dalam beberapa tahun terakhir, BI berhasil menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen secara berkesinambungan. Kesinambungan kepemimpinan dipandang penting agar kredibilitas bank sentral di mata investor asing tidak tergerus, terutama ketika arus modal portofolio sangat sensitif terhadap perubahan arah kebijakan moneter.

Kesinambungan kebijakan moneter menjadi faktor krusial bagi pasar. Figur yang berasal dari internal bank sentral meminimalkan risiko kejutan kebijakan dan menjaga ekspektasi investor tetap stabil, demikian penilaian Fakhrul Fulvian.

Di Sisi Lain: Tantangan Independensi dan Terobosan

Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa kesinambungan saja tidak cukup. Gubernur BI baru akan menghadapi tekanan berat, mulai dari pelemahan rupiah yang sempat menembus 16.400 per dolar AS, risiko capital outflow akibat arah suku bunga Amerika Serikat yang belum pasti, hingga ekspektasi pemerintah terhadap dukungan pembiayaan program prioritas.

Isu independensi bank sentral juga kerap mengemuka setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan. Pasar akan mencermati apakah BI di bawah nahkoda baru mampu menjaga jarak yang sehat dengan kepentingan fiskal, mengingat beban anggaran pemerintah yang meningkat untuk berbagai program besar. Fundamental kredibilitas kebijakan moneter sangat bergantung pada persepsi independensi tersebut.

Proyeksi Pasar dan Agenda Uji Kelayakan

Dari sisi pasar, respons awal terhadap pencalonan ini relatif tenang. Indeks Harga Saham Gabungan dan pergerakan rupiah tidak menunjukkan volatilitas berlebihan, menandakan sentimen pasar menilai pilihan ini berada dalam koridor ekspektasi. Valuasi aset keuangan domestik juga masih didukung rasio kecukupan modal perbankan di atas 26 persen serta rasio kredit bermasalah yang terjaga di kisaran 2 persen.

Ke depan, proses uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR akan menjadi panggung penting bagi Destry untuk memaparkan visi kebijakannya. Pasar menanti arah proyeksi suku bunga, strategi stabilisasi rupiah, dan agenda pendalaman pasar keuangan. Apabila mampu menyeimbangkan kesinambungan dengan respons terhadap tantangan baru, kepemimpinan baru BI berpotensi memperkuat fundamental ekonomi menuju target pertumbuhan 5,2 persen pada 2025. Sebaliknya, kegagalan menjaga kredibilitas dapat memicu tekanan pada nilai tukar dan arus modal asing.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User