Aug 24, 2026
Bisnis

Destry Damayanti Ambil Alih Sementara BI, Pasar Bereaksi Campur

Pergantian di pucuk pimpinan Bank Indonesia terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, secara resmi mengundurkan diri, membuka jalan bagi mekanisme transisi ya...

Destry Damayanti Ambil Alih Sementara BI, Pasar Bereaksi Campur

Pergantian di pucuk pimpinan Bank Indonesia terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, secara resmi mengundurkan diri, membuka jalan bagi mekanisme transisi yang menempatkan Deputi Gubernur Senior sebagai pemegang kendali sementara. Destry Damayanti, figur yang selama ini mendampingi pengambilan kebijakan moneter, kini memimpin Bank Sentral dalam kapasitas sebagai Penjabat Sementara Gubernur. Langkah ini memunculkan beragam spekulasi mengenai arah kebijakan moneter ke depan, terutama di tengah tekanan global yang masih membayangi.

Profil dan Rekam Jejak

Nama Destry Damayanti bukanlah sosok asing di kalangan pembuat kebijakan ekonomi. Sebelum menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior, ia telah menorehkan karir panjang di Bank Indonesia, termasuk peran strategis di bidang pengelolaan moneter dan pengembangan pasar keuangan. Pendidikan formal di bidang ekonomi yang ia tempuh, ditambah pengalaman sebagai analis senior, membentuk perspektif kebijakan yang cenderung berbasis data dan kehati-hatian.

Di satu sisi, rekam jejak ini memberikan sinyal stabilitas. Pelaku pasar cenderung melihat penunjukan Destry sebagai jaminan keberlanjutan, mengingat ia terlibat langsung dalam perumusan bauran kebijakan era Perry Warjiyo. Namun, di sisi lain, terdapat tanya: apakah ia akan mempertahankan pendekatan lama atau membawa warna tersendiri? Sejarah kariernya yang mencakup interaksi dengan berbagai rezim ekonomi membuka kemungkinan penyesuaian, terutama dalam merespons dinamika inflasi dan nilai tukar.

Ekspektasi Kebijakan Moneter

Berdasarkan data Bank Indonesia per Juni 2024, suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate bertahan di level 6,25%, setelah serangkaian kenaikan sepanjang tahun lalu untuk mengendalikan inflasi inti yang sempat menyentuh 3,1% year-on-year di kuartal pertama. Inflasi umum kini melandai ke kisaran 2,8% year-on-year, masih dalam target resmi BI sebesar 2,5% plus minus 1%. Pasar kini mencermati: apakah di bawah kepemimpinan sementara Destry, BI akan mempertahankan stance ketat ini?

Terdapat dua kubu pandangan. Pro: Sebagai arsitek bauran kebijakan yang kini berlaku, Destry berpeluang besar meneruskan prinsip kehati-hatian, mengingat inflasi pangan bergejolak dan risiko imported inflation akibat gejolak geopolitik belum sirna. Angka pertumbuhan ekonomi kuartal I-2024 yang dirilis BPS sebesar 5,03% juga masih nyaman, sehingga tidak ada urgensi untuk melonggarkan. Kontra: Perlambatan konsumsi rumah tangga yang terlihat dari data penjualan eceran turun 1,2% month-on-month di April 2024 menimbulkan tekanan agar BI lebih akomodatif. Destry, yang dikenal piawai membaca sinyal pasar tenaga kerja dan sektor riil, mungkin akan memasukkan pertimbangan pertumbuhan lebih kuat dalam takaran kebijakannya. Dengan posisi interim, ia diperkirakan tidak akan mengambil langkah drastis hingga Gubernur definitif terpilih, tetapi setiap pernyataan publiknya akan disiksa pasar untuk mencari petunjuk arah.

Pergerakan Pasar dan Modal Asing

Respons awal pasar keuangan mencerminkan kehati-hatian. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pertama pasca pengumuman sempat terkoreksi tipis sebelum kembali menguat terbatas, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun bergerak stabil di kisaran 6,78%. Pergerakan Rupiah menjadi indikator paling sensitif: mata uang Garuda tercatat melemah tipis ke level Rp15.850 per dolar AS, sebelum kembali ke rentang Rp15.780–Rp15.820 seiring intervensi Bank Indonesia.

Sentimen asing berpotensi terbelah. Di satu sisi, penunjukan internal meniadakan risiko transisi yang berantakan. Di sisi lain, ketidakpastian mengenai siapa yang akan menjadi Gubernur definitif dan kapan presiden akan mengajukan calon ke DPR membuka peluang capital outflow jangka pendek jika pasar menilai proses politik berlarut-larut. Data Kementerian Keuangan menunjukkan kepemilikan asing di SBN berada di kisaran 14,8% dari total outstanding, sebuah porsi yang tidak kecil namun masih terkendali. Indikator likuiditas valas perbankan juga cukup tebal untuk menahan tekanan.

Tantangan Besar Menanti

Destry mengambil alih di saat lanskap global tidak ramah. Federal Reserve masih belum memberikan sinyal jelas mengenai pemangkasan suku bunga, dengan inflasi AS bertahan di atas 3,4% dan pasar tenaga kerja tetap ketat. Ini menjaga penguatan dolar dan membatasi ruang bagi banyak bank sentral di emerging market. Di dalam negeri, rasio utang terhadap PDB yang mendekati 38,6% dan kebutuhan pembiayaan APBN yang cukup besar menuntut koordinasi erat antara bank sentral dan pemerintah. Destry sebelumnya memainkan peran kunci dalam skema burden sharing saat pandemi, sehingga koordinasi fiskal-moneter diperkirakan tetap solid.

Proyeksi jangka pendek menunjukkan bahwa kebijakan moneter Indonesia akan berada dalam jalur yang dikenal dengan istilah "wait and see." Ketimbang melakukan manuver agresif, Gubernur sementara kemungkinan besar akan memperkuat bauran kebijakan makroprudensial, mendorong likuiditas ke sektor-sektor produktif, dan menjaga stabilitas nilai tukar. Bagi pelaku pasar, kredibilitas Destry Damayanti akan diuji dari kemampuannya menjaga ekspektasi inflasi dan mencegah gejolak di pasar uang. Dengan pengalaman dan posisinya, ia memiliki perangkat untuk itu, meski risiko politik selalu membayangi setiap transisi di lembaga setinggi Bank Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User