Demi Anak seperti Warren Buffett, Orang Tua China Bayar Rp34 Juta

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2024, indeks literasi keuangan Indonesia tercatat sebesar 65,43%, sementara indeks inklusi keuangan menembus 75,02%. Kesenjangan keduanya menu...

Aug 10, 2026 - 08:34
0 0
Demi Anak seperti Warren Buffett, Orang Tua China Bayar Rp34 Juta

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2024, indeks literasi keuangan Indonesia tercatat sebesar 65,43%, sementara indeks inklusi keuangan menembus 75,02%. Kesenjangan keduanya menunjukkan banyak masyarakat sudah menggunakan produk keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami cara kerjanya. Di tengah kondisi tersebut, kabar dari China memicu perdebatan baru: sejumlah orang tua rela merogoh kocek hingga Rp34 juta atau setara sekitar 15.000 yuan untuk mengikutsertakan anak mereka dalam kursus investasi yang terinspirasi dari kisah sukses Warren Buffett, investor legendaris Amerika Serikat dengan kekayaan bersih lebih dari US$140 miliar.

Fenomena ini muncul di tengah perlambatan ekonomi China. Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu tumbuh sekitar 5% pada 2024, jauh di bawah rata-rata dua digit pada era 2000-an. Tekanan pasar kerja juga terasa, dengan tingkat pengangguran kaum muda perkotaan yang sempat menembus 21,3% pada pertengahan 2023 sebelum metodologi penghitungan direvisi. Bagi sebagian orang tua, keterampilan mengelola uang dipandang sebagai bekal yang lebih tahan guncangan dibanding sekadar nilai akademis.

Mengapa Warren Buffett Menjadi Panutan

Warren Buffett, melalui perusahaan induknya Berkshire Hathaway, mencatatkan imbal hasil tahunan rata-rata sekitar 20% sejak 1965, hampir dua kali lipat indeks S&P 500 yang berkisar 10% per tahun. Ia membeli saham pertamanya pada usia 11 tahun dan membangun kekayaannya melalui bunga majemuk (compound interest), yakni keuntungan yang terus berlipat karena hasil investasi diinvestasikan kembali. Secara matematis, dana yang tumbuh 20% per tahun akan berlipat hampir tujuh kali dalam satu dekade.

Prinsip utama Buffett sebenarnya sederhana: beli aset berkualitas pada valuasi wajar, lalu tahan dalam jangka panjang. Yang sulit ditiru bukan rumusnya, melainkan kesabarannya, ujar sejumlah pengamat pasar modal menanggapi tren ini.

Di Satu Sisi: Literasi Keuangan Sejak Dini Berdampak Positif

Di satu sisi, pendidikan keuangan sejak usia dini memiliki fundamental yang kuat. Berbagai riset menunjukkan kebiasaan menabung dan memahami risiko yang ditanamkan sebelum usia remaja cenderung bertahan hingga dewasa. Anak yang memahami konsep bunga majemuk sejak dini memiliki keunggulan waktu: modal yang diinvestasikan pada usia 10 tahun berpotensi tumbuh empat kali lebih besar dibanding modal yang sama yang baru diinvestasikan pada usia 30 tahun, dengan asumsi imbal hasil yang identik.

Tren serupa terlihat di Indonesia. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah investor pasar modal menembus 13 juta pada 2024, melonjak dibanding hanya 2,5 juta pada 2019, dengan dominasi usia di bawah 30 tahun. Artinya, minat terhadap portofolio dan investasi memang bergeser ke generasi lebih muda, dan edukasi yang terstruktur dapat mengurangi risiko mereka terjebak pada spekulasi atau penipuan berkedok investasi.

Di Sisi Lain: Biaya Tinggi dan Ekspektasi Berlebihan

Di sisi lain, banderol Rp34 juta menuai kritik. Angka itu setara hampir sepertiga pendapatan tahunan rata-rata penduduk perkotaan China yang berkisar 54.000 yuan (sekitar Rp120 juta). Para kritikus menilai lembaga kursus memanfaatkan kecemasan orang tua, terutama setelah kebijakan pembatasan bimbingan belajar akademis pada 2021 membuat industri pendidikan swasta mencari ceruk pasar baru untuk mempertahankan pendapatan.

Ada pula persoalan kesiapan kognitif. Konsep seperti valuasi, rasio utang, dan likuiditas menuntut kemampuan berpikir abstrak yang umumnya baru matang pada usia remaja akhir. Buffett sendiri berulang kali menegaskan bahwa keberhasilan investasi lebih ditentukan oleh temperamen dan pengendalian emosi menghadapi sentimen pasar, bukan sekadar kecerdasan atau pelatihan singkat. Tanpa pemahaman risiko yang memadai, kursus dini justru berpotensi menumbuhkan mentalitas spekulatif: anak terbiasa mengejar keuntungan cepat, bukan membangun portofolio secara disiplin.

Proyeksi dan Pelajaran bagi Indonesia

Ke depan, tren edukasi keuangan usia dini diproyeksikan mengalami kenaikan seiring digitalisasi layanan keuangan di kawasan Asia. Bagi Indonesia, pelajarannya bukan pada besaran biaya, melainkan pada substansi. Kurikulum literasi keuangan yang terjangkau, misalnya melalui sekolah dan program inklusi OJK, dinilai lebih berdampak dibanding kursus premium yang hanya terjangkau segelintir keluarga. Orang tua juga perlu membedakan antara mengajarkan konsep dasar pengelolaan uang dan menjanjikan anak menjadi miliarder.

Pada akhirnya, fenomena Buffett cilik mencerminkan dua hal sekaligus: kesadaran yang tumbuh akan pentingnya literasi keuangan, dan kerentanan konsumen terhadap janji keberhasilan instan. Keduanya layak dicermati regulator, pelaku industri, dan keluarga, agar antusiasme berinvestasi berdiri di atas fundamental yang sehat, bukan sekadar tren sesaat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User