Dari Kopi ke Konglomerasi: Jejak Perantau yang Pernah Jadi Orang Terkaya RI

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,03 persen secara year-on-year sepanjang 2024, dengan konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 53 persen terha...

Aug 10, 2026 - 08:30
0 0
Dari Kopi ke Konglomerasi: Jejak Perantau yang Pernah Jadi Orang Terkaya RI

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,03 persen secara year-on-year sepanjang 2024, dengan konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 53 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Di balik angka makro tersebut, tersimpan kisah panjang bagaimana sektor konsumsi—termasuk komoditas sederhana seperti kopi—menjadi pintu masuk lahirnya konglomerasi terbesar di Tanah Air. Salah satu narasi paling ikonik adalah perjalanan Sudono Salim, perantau asal Fujian, China, yang merintis kehidupan di Kudus, Jawa Tengah, dengan berjualan kopi sebelum akhirnya dinobatkan sebagai orang terkaya Indonesia selama lebih dari dua dekade.

Liem Sioe Liong—nama lahir Sudono Salim—tiba di Hindia Belanda pada akhir 1930-an dengan modal nyaris nol. Ia bergabung dengan sang kakak, memperdagangkan kopi, cengkih, dan minyak kacang antarpulau. Titik balik terjadi pada era kemerdekaan, ketika jaringan logistik yang ia bangun mempertemukannya dengan kalangan militer. Dari sana, kerajaan bisnisnya mengalami ekspansi besar: Bank Central Asia (BCA) berdiri pada 1957, pabrik tepung Bogasari pada 1969, disusul Indocement, Indofood, hingga First Pacific yang tercatat di Hong Kong.

Skala Usaha yang Menyentuh Hampir Semua Sektor

Pada puncak kejayaannya di era 1990-an, Grup Salim diperkirakan membawahi sekitar 500 perusahaan dengan kontribusi terhadap PDB nasional yang ditaksir mencapai 4–5 persen. Majalah Forbes menempatkannya sebagai orang terkaya Indonesia dan salah satu taipan terbesar Asia Tenggara dengan kekayaan menembus miliaran dolar AS. Produk turunannya—mulai dari mi instan, semen, hingga layanan perbankan—menyentuh kehidupan hampir seluruh rumah tangga Indonesia. Indomie, misalnya, kini diproduksi miliaran bungkus per tahun dan diekspor ke lebih dari 80 negara.

"Fenomena taipan generasi pertama menunjukkan bahwa akumulasi modal di negara berkembang sangat ditentukan oleh kemampuan membangun jaringan distribusi dan kepercayaan, jauh sebelum modal finansial tersedia," ujar seorang ekonom senior dari lembaga riset di Jakarta.

Di Satu Sisi: Mesin Pertumbuhan dan Pencipta Lapangan Kerja

Di satu sisi, jejak konglomerasi semacam ini memberikan kontribusi fundamental bagi perekonomian. Grup yang bermula dari meja kopi itu menyerap ratusan ribu tenaga kerja, memperdalam sektor keuangan melalui bank swasta terbesar di masanya, serta membangun rantai pasok pangan dari hulu ke hilir. Warisannya masih terasa hingga kini: BCA, yang sempat diambil alih pemerintah pascakrisis, hari ini menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, menembus Rp1.000 triliun. Sementara Indofood dan afiliasinya tetap menjadi tulang punggung sektor consumer staples—kelompok saham barang kebutuhan pokok yang relatif defensif terhadap siklus ekonomi.

Dari perspektif pasar modal, kisah seperti ini menjelaskan mengapa saham berbasis konsumsi domestik kerap menjadi jangkar portofolio institusi. Dengan penduduk sekitar 280 juta jiwa dan PDB per kapita mendekati US$5.000, fundamental permintaan domestik menjadi narasi valuasi yang kuat dan menjaga likuiditas pasar.

Di Sisi Lain: Konsentrasi Kekayaan dan Risiko Sistemik

Di sisi lain, dominasi segelintir kelompok bisnis menyimpan risiko yang tidak bisa diabaikan. Data BPS per Maret 2024 mencatat rasio gini—indikator ketimpangan pendapatan—berada di level 0,379, menandakan kesenjangan yang masih menjadi pekerjaan rumah. Kedekatan konglomerasi era Orde Baru dengan kekuasaan, yang kerap dilabeli sebagai kapitalisme kroni, terbukti menciptakan kerentanan sistemik. Ketika krisis moneter 1997/1998 memicu capital outflow dan rupiah anjlok, BCA mengalami penarikan dana besar-besaran hingga harus diselamatkan melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Aset-aset Grup Salim, dari bank hingga pabrik semen, beralih kepemilikan sebagai bagian dari penyelesaian kewajiban.

Pro: integrasi vertikal dan skala besar menciptakan efisiensi, harga pangan yang terjangkau, serta pendalaman pasar. Kontra: konsentrasi pasar berpotensi menekan ruang tumbuh usaha kecil dan menengah, sementara kegagalan satu grup dapat menjalar ke seluruh sistem keuangan—sebagaimana dibuktikan sejarah 1998.

Proyeksi: Apa Artinya bagi Lanskap Bisnis ke Depan

Kini, tampuk daftar orang terkaya Indonesia telah berganti. Daftar Forbes 2024 menempatkan konglomerat berbasis energi dan komoditas di posisi teratas dengan kekayaan berkisar US$10 miliar hingga lebih dari US$40 miliar, sementara generasi penerus Salim Group tetap bertahan di jajaran elite. Pergeseran ini mencerminkan tren global: valuasi sektor energi dan teknologi mengalami kenaikan, sementara consumer goods bertumbuh lebih moderat.

Dengan BI-Rate per Januari 2025 berada di 5,75 persen dan inflasi 2024 yang terjaga di 1,57 persen year-on-year, ruang ekspansi sektor konsumsi masih terbuka. Namun sentimen pasar tetap akan dipengaruhi arah kebijakan fiskal, pergerakan rupiah di kisaran Rp16.000 per dolar AS, serta dinamika indeks harga saham gabungan yang sempat menembus rekor 7.900 pada September 2024.

Pada akhirnya, kisah perantau yang berangkat dari gudang kopi di Kudus itu adalah cermin dua sisi ekonomi Indonesia: peluang mobilitas sosial yang luar biasa bagi mereka yang mampu membaca tren, sekaligus pengingat bahwa fundamental tata kelola dan distribusi kesejahteraan menentukan keberlanjutan sebuah kerajaan bisnis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User