Defisit Dagang Dua Bulan: Mendag Sebut Bukan karena Ekspor Melemah

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada awal Februari 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan defisit selama dua bulan berturut-turut, yaitu Desember 2025 dan Januari 202...

Aug 07, 2026 - 19:18
0 0
Defisit Dagang Dua Bulan: Mendag Sebut Bukan karena Ekspor Melemah

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada awal Februari 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan defisit selama dua bulan berturut-turut, yaitu Desember 2025 dan Januari 2026. Kondisi ini memicu beragam spekulasi di pasar, mulai dari isu pelemahan daya saing ekspor hingga tekanan global. Namun, Menteri Perdagangan Budi Santoso dengan tegas membantah asumsi tersebut. Ia menyatakan bahwa defisit yang terjadi bukan disebabkan oleh penurunan kinerja ekspor, melainkan lebih kepada faktor musiman dan lonjakan impor bahan baku serta barang modal.

Faktor Musiman dan Impor Bahan Baku Jadi Biang Kerok

Menurut Mendag, jika dilihat secara year-on-year, nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 justru mengalami kenaikan tipis sebesar 2,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan fundamental ekspor masih terjaga di tengah perlambatan ekonomi global. "Defisit ini bukan karena ekspor turun, tapi karena impor naik signifikan, terutama untuk kebutuhan industri dalam negeri," ujar Budi Santoso dalam konferensi pers di kantor Kementerian Perdagangan, Jumat (6/2/2026). Data BPS mencatat, impor bahan baku dan barang modal pada Januari 2026 melonjak hingga 14,7% dibandingkan bulan sebelumnya, didorong oleh kebutuhan industri pengolahan yang tengah berekspansi menjelang Ramadan dan Lebaran.

Di satu sisi, lonjakan impor ini bisa diartikan sebagai sinyal positif bahwa aktivitas manufaktur domestik sedang bergairah. Para pelaku usaha cenderung menambah stok input produksi untuk memenuhi permintaan yang diperkirakan meningkat pada kuartal pertama 2026. Namun, di sisi lain, defisit yang berkepanjangan berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan memicu capital outflow dari pasar obligasi domestik. Analis pasar mencatat, sejak awal tahun, investor asing telah menarik dana sekitar Rp8,2 triliun dari Surat Berharga Negara (SBN), sebagai respons terhadap melebarnya defisit transaksi berjalan.

Pro dan Kontra: Antara Optimisme Industri dan Tekanan Eksternal

Pro: Defisit yang disebabkan oleh kenaikan impor bahan baku dan barang modal dianggap sehat karena bersifat produktif. Hal ini sejalan dengan tren industri 4.0 yang membutuhkan mesin dan teknologi baru. Ekonom dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, dalam analisisnya menyebutkan bahwa rasio impor terhadap PDB yang meningkat hingga 21% menunjukkan adanya pergeseran struktur ekonomi dari konsumtif ke investasi. "Jika impor ini digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi, maka dalam dua hingga tiga kuartal ke depan ekspor kita akan ikut naik," ujarnya. Sentimen pasar pun sempat membaik setelah pernyataan Mendag, terlihat dari indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menguat 0,8% pada penutupan perdagangan Jumat lalu.

Kontra: Sejumlah ekonom lain justru mengingatkan agar pemerintah tidak meremehkan risiko defisit yang berlarut-larut. Mereka menunjuk pada data neraca perdagangan Desember 2025 yang defisitnya mencapai USD1,2 miliar, terbesar dalam lima tahun terakhir. Jika tren ini berlanjut, cadangan devisa yang saat ini berada di level USD145 miliar bisa tergerus. "Jangan hanya melihat faktor musiman. Kita harus waspada terhadap perlambatan ekonomi Tiongkok dan Amerika Serikat yang merupakan mitra dagang utama kita. Permintaan ekspor komoditas seperti batu bara dan CPO bisa turun drastis," kata Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede. Ia menambahkan, likuiditas global yang ketat akibat kebijakan suku bunga tinggi The Fed juga berpotensi memperbesar tekanan pada rupiah.

Proyeksi dan Langkah Antisipasi Pemerintah

Pemerintah sendiri memproyeksikan defisit neraca perdagangan hanya akan terjadi pada Januari dan Februari 2026, seiring dengan normalisasi impor pasca-puncak produksi. Kementerian Perdagangan berencana mempercepat realisasi ekspor nonmigas ke pasar nontradisional seperti Afrika dan Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional. Selain itu, relaksasi bea masuk untuk mesin industri tertentu juga sedang dikaji untuk menjaga momentum investasi.

Meski demikian, para pelaku pasar tetap diminta mencermati perkembangan data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan. Jika inflasi AS masih tinggi, maka dolar akan semakin perkasa dan berpotensi memicu capital outflow yang lebih besar dari pasar keuangan Indonesia. Dalam jangka pendek, volatilitas nilai tukar rupiah di kisaran Rp16.300 hingga Rp16.500 per dolar AS masih akan terjadi, namun fundamental ekonomi domestik yang ditopang konsumsi rumah tangga yang stabil diharapkan mampu menjadi peredam.

Dengan berbagai dinamika tersebut, keputusan pemerintah untuk tidak panik dan tetap fokus pada peningkatan daya saing ekspor jangka panjang patut diapresiasi. Namun, kewaspadaan terhadap risiko eksternal harus tetap dijaga. Jika tidak, defisit dua bulan ini bisa menjadi awal dari tren yang lebih mengkhawatirkan, bukan sekadar fenomena musiman belaka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User