Debu Setan Terjang Bromo, Wisatawan Justru Jadi Tontonan

Probolinggo — Pemandangan langka kembali menyapa hamparan abu vulkanik Gunung Bromo. Pusaran angin menyerupai tornado kecil—yang oleh masyarakat lokal diju

Jul 09, 2026 - 23:45
0 0
Debu Setan Terjang Bromo, Wisatawan Justru Jadi Tontonan
Probolinggo — Pemandangan langka kembali menyapa hamparan abu vulkanik Gunung Bromo. Pusaran angin menyerupai tornado kecil—yang oleh masyarakat lokal dijuluki "debu setan"—tiba-tiba terbentuk di tengah Lautan Pasir, menarik perhatian puluhan wisatawan yang tengah menikmati destinasi ikonik tersebut. Alih-alih panik, mereka malah mendekat, mengeluarkan telepon genggam, dan mengubah fenomena alam itu menjadi tontonan visual yang siap dibagikan ke media sosial.

Matahari pagi baru saja mengintip di balik punggung Gunung Batok ketika kolom udara berputar mulai menari-nari di antara pasir abu. Dua, lalu tiga pusaran kecil terbentuk hampir bersamaan, menjulur ke langit setinggi lima hingga sepuluh meter. Para pengendara jip wisata menghentikan kendaraan, sedangkan pejalan kaki memilih posisi terbaik agar bisa merekam tanpa halangan. "Itu keren banget, kayak di film Amerika," teriak seorang remaja perempuan sambil menyorongkan kamera teleponnya ke arah pusaran yang terus bergerak liar.

Fenomena Sains di Balik Debu Setan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo menegaskan bahwa peristiwa yang terekam adalah dust devil, bukan tornado. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Probolinggo, Samsul Hadi, menjelaskan bahwa pusaran ini terbentuk dari perbedaan suhu permukaan yang ekstrem. Permukaan pasir abu yang gelap menyerap panas matahari secara intensif, menciptakan thermal updraft—udara panas yang naik—dan saat bertemu udara dingin di sekitarnya, muncullah pusaran berisi debu dan pasir halus.
"Ini fenomena biasa di lautan pasir, terutama saat cuaca cerah dan angin tenang. Kami menyebutnya dust devil, meski warga lokal suka bilang debu setan karena muncul tiba-tiba dan bisa membuat debu beterbangan. Tidak berbahaya seperti tornado yang merusak," ujar Samsul Hadi saat dihubungi, Rabu (12/3).
Menurut Samsul, kecepatan angin dalam dust devil di Bromo biasanya hanya sekitar 20–40 kilometer per jam, dengan diameter pusaran antara 1 hingga 3 meter. Bandingkan dengan tornado yang bisa mencapai kecepatan di atas 300 kilometer per jam dan skala kerusakan yang jauh lebih besar. Meski begitu, ia mengingatkan agar wisatawan tidak mendekat terlalu dekat, karena butiran pasir yang beterbangan dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan.

Antara Daya Tarik Wisata dan Keselamatan

Para pengelola wisata lokal melihat fenomena ini sebagai bonus atraksi alam yang meningkatkan kepuasan pengunjung. "Wisatawan suka dengan hal-hal unik yang tidak bisa mereka lihat di tempat lain. Selama mereka tidak masuk ke jalur yang benar-benar berbahaya, kami biarkan saja merekam," kata Sutrisno, salah satu sopir jip wisata yang sudah 12 tahun melayani rute Lautan Pasir. Ia menambahkan bahwa momen seperti ini sering dibagikan ke media sosial dan membuat orang semakin penasaran ingin datang ke Bromo. Namun, para aktivis keselamatan wisata alam mengingatkan bahwa mentalitas "menjadikan bencana kecil sebagai tontonan" bisa menanamkan sikap abai terhadap ancaman alam yang lebih serius. Mereka mencontohkan bagaimana wisatawan seringkali mengabaikan rambu-rambu peringatan di kawasan gunung aktif, hanya karena ingin mendapat konten dramatis. "Orang cenderung melupakan bahwa tempat ini adalah lingkungan vulkanik yang sesungguhnya berbahaya," cetus seorang pegiat Kelompok Peduli Wisata Alam, yang menolak disebutkan namanya.

Pro dan Kontra: Wisatawan Menonton Debu Setan

Pro: - Menonton dust devil dari jarak aman merupakan bentuk apresiasi terhadap dinamika alam yang sulit ditemui di perkotaan. - Konten yang dibagikan wisatawan meningkatkan promosi organik bagi pariwisata Bromo tanpa biaya tambahan. - Kejadian ini mengajarkan literasi sains langsung: wisatawan bisa belajar membedakan dust devil dan tornado secara kontekstual. Kontra: - Wisatawan cenderung mengabaikan risiko paparan debu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan dan mata. - Kebiasaan menjadikan fenomena alam sebagai tontonan bisa menormalisasi kecerobohan saat menghadapi bahaya alam yang lebih besar. - Penumpukan kerumunan di titik pengamatan yang tidak resmi berpotensi merusak ekosistem pasir dan mengganggu keseimbangan tapak vulkanik. [TAGS]: Bromo, dust devil, debu setan, wisata alam, BPBD Probolinggo [SOCIAL_TWEET]: Pusaran angin mirip tornado kecil kembali muncul di lautan pasir Bromo, wisatawan malah asyik merekam. BPBD sebut ini dust devil, bukan ancaman berbahaya. Tapi tetap jangan terlalu dekat ya! #DebuSetan #Bromo #FenomenaAlam [SOCIAL_FB]: Fenomena langka 'debu setan' menari di atas lautan pasir Bromo, wisatawan berebut mengabadikan. Apakah ini hanya atraksi alam biasa atau justru indikasi bahaya yang terabaikan? Simak penjelasan lengkap BPBD dalam liputan kami. [SOCIAL_TG]: 🌪️ Debu setan menyapa Bromo! Pusaran angin kecil muncul tiba-tiba, wisatawan langsung ubah jadi lokasi syuting dadakan. BPBD: bukan tornado, tapi tetap hati-hati ya! 📹✨

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User