Debu Setan Terjang Bromo, Wisatawan Justru Jadi Tontonan
Probolinggo — Pemandangan langka kembali menyapa hamparan abu vulkanik Gunung Bromo. Pusaran angin menyerupai tornado kecil—yang oleh masyarakat lokal diju
Matahari pagi baru saja mengintip di balik punggung Gunung Batok ketika kolom udara berputar mulai menari-nari di antara pasir abu. Dua, lalu tiga pusaran kecil terbentuk hampir bersamaan, menjulur ke langit setinggi lima hingga sepuluh meter. Para pengendara jip wisata menghentikan kendaraan, sedangkan pejalan kaki memilih posisi terbaik agar bisa merekam tanpa halangan. "Itu keren banget, kayak di film Amerika," teriak seorang remaja perempuan sambil menyorongkan kamera teleponnya ke arah pusaran yang terus bergerak liar.
Fenomena Sains di Balik Debu Setan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo menegaskan bahwa peristiwa yang terekam adalah dust devil, bukan tornado. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Probolinggo, Samsul Hadi, menjelaskan bahwa pusaran ini terbentuk dari perbedaan suhu permukaan yang ekstrem. Permukaan pasir abu yang gelap menyerap panas matahari secara intensif, menciptakan thermal updraft—udara panas yang naik—dan saat bertemu udara dingin di sekitarnya, muncullah pusaran berisi debu dan pasir halus."Ini fenomena biasa di lautan pasir, terutama saat cuaca cerah dan angin tenang. Kami menyebutnya dust devil, meski warga lokal suka bilang debu setan karena muncul tiba-tiba dan bisa membuat debu beterbangan. Tidak berbahaya seperti tornado yang merusak," ujar Samsul Hadi saat dihubungi, Rabu (12/3).Menurut Samsul, kecepatan angin dalam dust devil di Bromo biasanya hanya sekitar 20–40 kilometer per jam, dengan diameter pusaran antara 1 hingga 3 meter. Bandingkan dengan tornado yang bisa mencapai kecepatan di atas 300 kilometer per jam dan skala kerusakan yang jauh lebih besar. Meski begitu, ia mengingatkan agar wisatawan tidak mendekat terlalu dekat, karena butiran pasir yang beterbangan dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan.
Antara Daya Tarik Wisata dan Keselamatan
Para pengelola wisata lokal melihat fenomena ini sebagai bonus atraksi alam yang meningkatkan kepuasan pengunjung. "Wisatawan suka dengan hal-hal unik yang tidak bisa mereka lihat di tempat lain. Selama mereka tidak masuk ke jalur yang benar-benar berbahaya, kami biarkan saja merekam," kata Sutrisno, salah satu sopir jip wisata yang sudah 12 tahun melayani rute Lautan Pasir. Ia menambahkan bahwa momen seperti ini sering dibagikan ke media sosial dan membuat orang semakin penasaran ingin datang ke Bromo. Namun, para aktivis keselamatan wisata alam mengingatkan bahwa mentalitas "menjadikan bencana kecil sebagai tontonan" bisa menanamkan sikap abai terhadap ancaman alam yang lebih serius. Mereka mencontohkan bagaimana wisatawan seringkali mengabaikan rambu-rambu peringatan di kawasan gunung aktif, hanya karena ingin mendapat konten dramatis. "Orang cenderung melupakan bahwa tempat ini adalah lingkungan vulkanik yang sesungguhnya berbahaya," cetus seorang pegiat Kelompok Peduli Wisata Alam, yang menolak disebutkan namanya.
Comments (0)