Dari Penguasa Sawit Dunia, Nigeria Kini Berguru kepada Malaysia

Berdasarkan data United States Department of Agriculture (USDA) per Oktober 2024, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dunia diperkirakan mencapai sekitar 79,4 juta ton, dengan Indon...

Aug 12, 2026 - 03:08
0 0
Dari Penguasa Sawit Dunia, Nigeria Kini Berguru kepada Malaysia

Berdasarkan data United States Department of Agriculture (USDA) per Oktober 2024, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dunia diperkirakan mencapai sekitar 79,4 juta ton, dengan Indonesia menguasai pangsa sekitar 59 persen dan Malaysia sekitar 24 persen. Di tengah dominasi dua negara Asia Tenggara tersebut, Nigeria—yang secara botani merupakan tanah asal kelapa sawit (Elaeis guineensis)—hanya memproduksi sekitar 1,4 juta ton per tahun atau kurang dari 2 persen pasokan global. Padahal, pada awal dekade 1960-an, negara di Afrika Barat itu tercatat sebagai pengekspor sawit terbesar dunia dengan pangsa pasar lebih dari 43 persen.

Jejak Penurunan: Dari Eksportir Menjadi Importir

Data historis Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menunjukkan tren stagnasi produksi Nigeria selama lebih dari lima dekade. Sementara konsumsi domestiknya kini mencapai sekitar 2,5 juta ton per tahun, produksi nasional hanya 1,4 juta ton, sehingga terdapat defisit pasokan sekitar 1,1 juta ton yang harus ditutup melalui impor senilai US$500 juta hingga US$600 juta per tahun. Fundamental sektor ini melemah sejak booming minyak bumi pada 1970-an, ketika pemerintah mengalihkan fokus ekonomi ke sektor migas yang kini menyumbang sekitar 85 hingga 90 persen pendapatan ekspor negara tersebut. Konflik sipil 1967–1970 turut menghancurkan perkebunan di wilayah timur yang menjadi sentra sawit nasional.

Kondisi diperparah oleh struktur kepemilikan: sekitar 80 persen produksi berasal dari petani kecil (smallholder) dengan pohon tua berusia di atas 30 tahun dan produktivitas hanya sekitar 1 hingga 1,5 ton CPO per hektare per tahun. Rasio hasil per lahan yang rendah ini menjelaskan mengapa indeks daya saing sektor agrikultur Nigeria tertinggal jauh dari para pesaingnya di Asia.

Mengapa Malaysia Menjadi Rujukan

Di satu sisi, Malaysia menawarkan model yang terbukti berhasil. Produktivitas kebun Negeri Jiran mencapai rata-rata sekitar 3,5 hingga 4 ton CPO per hektare—hampir tiga kali lipat Nigeria—berkat riset berkelanjutan melalui Malaysian Palm Oil Board (MPOB), penggunaan bibit unggul, serta integrasi hilir yang kuat. Delegasi Nigeria melalui berbagai lembaga telah mempelajari tata kelola tersebut, termasuk skema kemitraan perusahaan-petani dan dukungan pembiayaan bagi pekebun rakyat.

Di sisi lain, model Malaysia tidak bebas masalah. Negara itu menghadapi keterbatasan lahan baru, kekurangan tenaga kerja, serta tekanan regulasi lingkungan seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR). Pertumbuhan luas kebun Malaysia juga stagnan, sehingga adopsi mentah tanpa penyesuaian konteks lokal berisiko gagal diterapkan di Nigeria.

"Transformasi sektor sawit bukan sekadar menanam lebih banyak pohon, melainkan membangun ekosistem riset, pembiayaan, dan kelembagaan yang membutuhkan komitmen kebijakan puluhan tahun," ujar seorang analis komoditas pertanian yang memantau pasar Afrika Barat.

Peluang dan Risiko bagi Perekonomian Nigeria

Pro: Nigeria memiliki cadangan lahan yang luas—diperkirakan lebih dari 3 juta hektare lahan sesuai untuk sawit—serta pasar domestik besar dengan populasi lebih dari 220 juta jiwa. Keberhasilan revitalisasi dapat menghemat devisa impor, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat likuiditas sektor agrikultur yang selama ini tertinggal.

Kontra: tantangannya tidak kecil. Volatilitas nilai tukar naira yang mengalami depresiasi tajam sejak 2023 meningkatkan biaya impor bibit dan mesin. Sentimen pasar terhadap aset berisiko di frontier market memicu kekhawatiran capital outflow, sementara manajer portofolio global cenderung mengurangi eksposur ke negara dengan inflasi tinggi—Nigeria sempat mencatat inflasi di atas 30 persen year-on-year. Isu status kepemilikan lahan (land tenure) dan infrastruktur yang lemah membuat valuasi proyek perkebunan sulit dihitung secara pasti.

Proyeksi ke Depan

Sejumlah proyeksi menyebutkan, dengan investasi konsisten dan peremajaan kebun, Nigeria berpotensi menekan defisit pasokan dalam satu dekade. Namun, analis menilai negara itu tidak akan kembali menjadi eksportir dominan dalam waktu dekat; target realistis adalah swasembada dan pengurangan ketergantungan impor. Bagi pengambil kebijakan, kunci keberhasilan terletak pada konsistensi kebijakan, transfer teknologi, dan penguatan kelembagaan riset—pelajaran terpenting yang melampaui sekadar teknik budidaya dari Malaysia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User