Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI di Tengah Gejolak Global

Berdasarkan data Bank Indonesia per Februari 2025, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$154,5 miliar, setara pembiayaan 6,5 bulan impor, sementara BI Rate dipertahankan pada level 5,75% di te...

Aug 12, 2026 - 11:19
0 0
Destry Damayanti Calon Tunggal Gubernur BI di Tengah Gejolak Global

Berdasarkan data Bank Indonesia per Februari 2025, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$154,5 miliar, setara pembiayaan 6,5 bulan impor, sementara BI Rate dipertahankan pada level 5,75% di tengah pergerakan rupiah pada kisaran Rp16.400 per dolar AS. Pada situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian inilah, Presiden Prabowo Subianto mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI.

Data Badan Pusat Statistik menambah konteks penting. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,03% sepanjang 2024, sedangkan inflasi tahunan berada di level 1,57% year-on-year, jauh di bawah kisaran target bank sentral. Bahkan, Februari 2025 mencatat deflasi tipis yang sebagian dipicu penyesuaian tarif listrik. Kombinasi pertumbuhan moderat dan tekanan harga rendah menjadi panggung bagi pergantian kepemimpinan di bank sentral.

Rekam Jejak Tiga Dekade di Sektor Keuangan

Destry bukan figur asing di lingkungan kebijakan moneter. Ia menjabat Deputi Gubernur Senior BI sejak Agustus 2019, posisi tertinggi kedua di bank sentral. Sebelumnya, ia membangun karier lebih dari tiga dekade: menjadi ekonom di perbankan swasta nasional, meniti karier di bank asing, hingga duduk sebagai anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan periode 2015 hingga 2019. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini juga mengantongi gelar master dari Cornell University, Amerika Serikat.

Di satu sisi, pengalaman panjang tersebut menjadi modal kredibilitas di mata pelaku pasar. Transisi kepemimpinan dari internal dinilai menjaga kesinambungan kebijakan, terutama kerangka inflation targeting, yakni strategi bank sentral mematok sasaran inflasi di level 2,5% plus minus 1%. Di sisi lain, kalangan pengamat mengingatkan bahwa pengalaman institusional saja tidak cukup; gubernur baru akan diuji kemampuannya membaca dinamika global yang bergerak jauh lebih cepat dibanding satu dekade lalu.

Tantangan Global: Dolar Perkasa dan Risiko Capital Outflow

Tekanan eksternal menjadi tantangan paling nyata. Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 4,25% hingga 4,5%, lebih lama dari perkiraan awal pasar. Akibatnya, dolar AS menguat dan investor global cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang, fenomena yang dikenal sebagai capital outflow atau aliran modal keluar.

Dampaknya terasa di pasar domestik. Rupiah sempat menyentuh level terlemahnya sejak krisis keuangan Asia 1998, sementara kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara berada di bawah 15% dari total outstanding, terendah dalam lebih dari satu dekade. Kondisi ini membuat ruang pelonggaran moneter menjadi sempit: menurunkan suku bunga terlalu agresif berisiko memperdalam depresiasi rupiah, tetapi mempertahankan suku bunga tinggi dapat menahan laju kredit perbankan yang tumbuh sekitar 10% year-on-year pada awal 2025, melambat dibanding tahun sebelumnya.

Di Satu Sisi Optimisme, Di Sisi Lain Ujian Independensi

Pro: kalangan pelaku pasar menilai penunjukan figur internal berpengalaman mengirim sinyal stabilitas. Fundamental kebijakan moneter diperkirakan tidak berubah drastis, sehingga sentimen pasar terhadap aset rupiah relatif terjaga. Valuasi pasar obligasi domestik juga masih menarik dengan imbal hasil SBN bertenor 10 tahun di kisaran 7%, lebih tinggi dibanding sejumlah negara tetangga.

Kontra: sejumlah ekonom menyoroti risiko tergerusnya independensi bank sentral. Ambisi pemerintah mengejar pertumbuhan 8% dan pembiayaan program prioritas bernilai ratusan triliun rupiah dikhawatirkan menekan BI untuk terlalu akomodatif. Jika bank sentral dipandang tunduk pada kepentingan fiskal, kepercayaan investor bisa terkikis dan berujung pada capital outflow yang lebih besar.

Keberhasilan gubernur baru tidak diukur dari seberapa cepat suku bunga diturunkan, melainkan dari seberapa kuat kredibilitas kebijakan dijaga ketika tekanan datang dari berbagai arah, demikian pandangan yang mengemuka di kalangan ekonom dalam berbagai diskusi pasar baru-baru ini.

Agenda Berat di Depan Mata

Ke depan, pemimpin baru BI akan menghadapi setidaknya tiga pekerjaan rumah: menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan likuiditas perbankan, memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial agar kredit ke sektor produktif tetap tumbuh, serta melanjutkan pendalaman pasar keuangan agar portofolio investasi domestik tidak bergantung pada arus modal asing. Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 yang dipatok BI pada kisaran 4,7% hingga 5,5% menunjukkan ruang yang masih tersedia, asalkan ketidakpastian global dapat dikelola dengan baik.

Pada akhirnya, uji kelayakan di parlemen hanyalah langkah awal. Ujian sesungguhnya bagi Destry Damayanti adalah membuktikan bahwa bank sentral mampu tetap menjadi jangkar stabilitas di tengah gejolak global, sekaligus menjawab ekspektasi publik akan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User