Dari Pekerja Migran ke Pengusaha Kuliner Laut, Kisah Inspiratif Rosyidah

Kepulangan ke tanah air seringkali menjadi momen penuh tanda tanya bagi para pekerja migran yang telah bertahun-tahun mengadu nasib di negeri orang. Begitu pula yang dirasakan Rosyidah, seorang peremp...

Jul 28, 2026 - 00:15
0 0
Dari Pekerja Migran ke Pengusaha Kuliner Laut, Kisah Inspiratif Rosyidah

Kepulangan ke tanah air seringkali menjadi momen penuh tanda tanya bagi para pekerja migran yang telah bertahun-tahun mengadu nasib di negeri orang. Begitu pula yang dirasakan Rosyidah, seorang perempuan asal pesisir utara Jawa, ketika memutuskan mengakhiri masa kerjanya di luar negeri dan kembali ke kampung halaman pada awal tahun 2023. Namun, alih-alih terpuruk dalam kebingungan, ia justru melihat peluang emas dari sumber daya alam yang selama ini melimpah di sekitarnya: hasil laut. Dengan bekal keterampilan mengolah makanan yang ia pelajari secara otodidak serta semangat pantang menyerah, Rosyidah perlahan membangun merek olahan seafood bernama C'milzea, yang kini mulai dikenal di kalangan pencinta kuliner lokal.

Ironi Negeri Bahari dan Potensi Nilai Tambah Produk Laut

Indonesia adalah negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang lebih dari 81.000 kilometer. Ironinya, sebagian besar hasil laut dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang seringkali jatuh saat panen raya. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan, sektor perikanan tangkap dan budidaya menyumbang sekitar 2,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional pada 2024. Namun, porsi produk olahan bernilai tambah masih relatif kecil dibandingkan volume ekspor ikan segar. Di sinilah letak kesempatan yang ditangkap oleh Rosyidah. Ia menyadari bahwa mengubah ikan, cumi, dan udang menjadi camilan kering berkualitas dapat meningkatkan harga jual hingga dua sampai tiga kali lipat. "Orang di sini terbiasa menjual ikan segar ke tengkulak dengan harga murah. Saya berpikir, kenapa tidak dibuat produk tahan lama yang bisa dijual lebih mahal dan menjangkau pasar yang lebih luas?" begitu logika sederhana yang mendorongnya memulai usaha.

Memulai dari Dapur Mungil dengan Modal Terbatas

Perjalanan C'milzea dimulai di dapur rumah seluas tak lebih dari tiga kali empat meter. Rosyidah menggunakan tabungan sisa bekerja di luar negeri—yang jumlahnya tidak besar—untuk membeli peralatan seadanya: oven tangkring, vacuum sealer bekas, dan bahan baku dari nelayan tetangga. Dana awal yang ia gelontorkan berkisar Rp15 juta, mencakup pembelian alat produksi dan kemasan untuk batch pertama sebanyak 200 unit produk. Menu andalannya adalah cumi renyah berbumbu, stik ikan dengan varian pedas manis, serta kerupuk kulit salmon yang renyah. Pada tahap awal, ia hanya mampu memproduksi maksimal 30 unit per minggu karena keterbatasan alat dan tenaga. Strategi pemasarannya pun sangat konvensional: menitipkan produk di warung-warung kecil, menawarkan langsung ke tetangga, dan mengandalkan promosi dari mulut ke mulut melalui grup WhatsApp komunitas ibu-ibu pengajian.

BRI Peduli dan Suntikan Modal Usaha Mikro

Titik balik pertumbuhan usaha ini terjadi ketika Rosyidah terhubung dengan program tanggung jawab sosial PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, BRI Peduli. Program ini memiliki pilar pemberdayaan ekonomi khusus bagi perempuan dan pelaku usaha ultra-mikro. Hingga kuartal pertama 2025, BRI Peduli telah menyalurkan bantuan kepada lebih dari 5.000 pelaku usaha mikro di berbagai sektor, termasuk perikanan dan olahan pangan. Rosyidah mendapatkan akses permodalan lunak tanpa agunan senilai Rp25 juta yang langsung digunakan untuk membeli alat pengering modern berkapasitas 20 kilogram per jam dan mesin sealer otomatis. Dampaknya signifikan: kapasitas produksinya naik dari 30 unit menjadi lebih dari 200 unit per minggu. Selain modal, BRI juga memberikan pendampingan berupa pelatihan pengemasan higienis, strategi branding, dan akses pemasaran digital melalui platform e-commerce binaan. "Bantuan ini membuat saya bisa memproduksi lebih cepat dan lebih rapi. Alhamdulillah, sekarang pesanan dari luar kota sudah mulai masuk," ungkapnya.

Dua Sisi: Antara Harapan dan Realita Bisnis Skala Mikro

Di satu sisi, kisah Rosyidah menunjukkan bahwa intervensi tepat dari lembaga keuangan dapat menjadi katalisator pertumbuhan usaha mikro di daerah pesisir. Data Badan Pusat Statistik mencatat bahwa terdapat sekitar 64 juta pelaku UMKM di Indonesia per 2024, namun hanya sekitar 20 persen yang memiliki akses pembiayaan formal. Program seperti BRI Peduli menjembatani kesenjangan ini dengan pendekatan yang lebih fleksibel dibanding pinjaman komersial konvensional. Di sisi lain, ada sejumlah risiko yang perlu diantisipasi. Pertama, ketergantungan pada satu atau dua saluran distribusi lokal membuat usaha rentan jika daya beli masyarakat setempat menurun. Kedua, mesin-mesin baru memang meningkatkan efisiensi, namun biaya perawatan dan listrik dapat menggerus margin keuntungan jika volume penjualan belum stabil. Pro-kontra ini menjadi pengingat bahwa bantuan modal harus diiringi dengan perencanaan bisnis yang matang dan diversifikasi pasar agar keberlanjutan usaha tetap terjaga dalam jangka panjang.

Mengintip Neraca Sederhana dan Proyeksi ke Depan

Berdasarkan pencatatan keuangan yang mulai dirapikan Rosyidah dengan bimbingan pendamping BRI, omzet bulanan C'milzea saat ini berkisar antara Rp12 juta hingga Rp18 juta. Dengan harga pokok penjualan sekitar 55 persen dari omzet, laba bersih yang ia kantongi per bulan berada di rentang Rp4,5 juta hingga Rp7 juta—sebuah angka yang cukup sehat untuk skala usaha rumahan. Ia kini mempekerjakan dua orang tetangga sebagai asisten produksi, sehingga turut menciptakan lapangan kerja lokal meski dalam jumlah kecil. Ke depan, Rosyidah berencana mengurus izin edar BPOM dan sertifikasi halal resmi agar produknya bisa masuk ke jaringan minimarket dan supermarket. Ia juga tengah menjajaki kerja sama dengan dinas koperasi setempat untuk mengikuti pameran produk UMKM tingkat provinsi. Jika rencana ekspansi ini berjalan lancar, ia optimistis omzet bisa meningkat hingga dua kali lipat dalam kurun satu tahun ke depan.

Inspirasi dari Pesisir: Kewirausahaan sebagai Jalan Pulang yang Bermartabat

Perjalanan Rosyidah mengajarkan bahwa keputusan pulang kampung tidak harus identik dengan kemunduran ekonomi. Dengan adanya dukungan institusional, keterampilan yang diasah secara mandiri, serta keberanian untuk melihat potensi di sekitar, seorang purna pekerja migran mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang sesungguhnya. Ia membuktikan bahwa nilai tambah dari olahan hasil laut bukan hanya meningkatkan pendapatan pribadi, tetapi juga memperpendek rantai distribusi yang tidak adil dan memberi dampak sosial bagi komunitas nelayan kecil di sekitarnya. Cerita dari dapur mungil ini mungkin terlihat sederhana, namun mengandung pesan kuat bahwa kemandirian ekonomi perempuan pesisir bisa dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Dan tentu saja, dari sekantong cumi renyah yang gurih, yang kini tidak hanya mengisi toples di warung kampung, tetapi juga mulai melanglang ke kota-kota besar melalui layar ponsel pintar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User