Aug 25, 2026
Bisnis

Dari Dapur ke Mancanegara: Kisah Sukses Sahate Bersama BRI

Transformasi pangan lokal menjadi produk bernilai tambah kian marak di Indonesia, seiring meningkatnya permintaan global terhadap makanan sehat dan bebas gluten. Salah satu kisah yang menonjol adalah ...

Dari Dapur ke Mancanegara: Kisah Sukses Sahate Bersama BRI

Transformasi pangan lokal menjadi produk bernilai tambah kian marak di Indonesia, seiring meningkatnya permintaan global terhadap makanan sehat dan bebas gluten. Salah satu kisah yang menonjol adalah Sahate, camilan inovatif yang menggabungkan tradisi beras Nusantara dengan kebutuhan diet modern.

Di balik Sahate ada Lince Sulastri, seorang ibu rumah tangga yang berawal dari kekhawatiran terhadap kesehatan keluarganya. Anaknya memiliki sensitivitas terhadap gluten, sehingga ia mulai bereksperimen menciptakan camilan aman dari bahan dasar yang melimpah di sekitarnya: beras lokal. “Saya ingin anak saya tetap bisa menikmati camilan tanpa mengorbankan kesehatan,” ujarnya. Dari eksperimen di dapur sederhana itulah lahir serangkaian produk kue kering, stik, dan renyah yang diberi merek Sahate.

Awal Mula dan Keunggulan Produk

Berbeda dengan camilan konvensional yang kerap menggunakan tepung terigu, Sahate mengandalkan beras pilihan yang diolah tanpa gluten. Proses produksinya juga mempertahankan serat alami dan tidak menggunakan pengawet buatan. Hal ini sejalan dengan tren konsumen global yang semakin sadar akan komposisi makanan. Pasar makanan bebas gluten global sendiri diproyeksikan mencapai US$12,5 miliar pada 2027 dengan pertumbuhan rata-rata 8,5% per tahun, menurut data Statista.

Dukungan BRI LinkUMKM: Dari Rumahan Menjadi Profesional

Potensi besar itu tidak serta-merta mudah digapai. Lince menghadapi kendala klasik UMKM: keterbatasan akses pasar, permodalan, dan pengetahuan manajemen usaha. Titik balik terjadi ketika ia bergabung dalam program LinkUMKM yang digagas oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Melalui platform tersebut, ia memperoleh serangkaian pelatihan, mulai dari pengemasan yang menarik, strategi pemasaran digital, hingga manajemen keuangan sederhana. BRI juga memberikan kesempatan pameran di berbagai ajang, termasuk internasional, yang membuka mata Lince pada potensi ekspor.

“Sebelumnya saya hanya berpikir menjual di lingkungan saja. BRI membantu saya melihat bahwa produk saya layak bersaing di luar negeri,” kenangnya. Berkat bimbingan itu, omzet Sahate meningkat secara signifikan, dari ratusan bungkus per bulan menjadi ribuan, bahkan mampu menembus pasar Asia Tenggara dan sebagian Eropa.

Menembus Pasar Global

Ekspansi Sahate tidak lepas dari strategi adaptif. Dengan bantuan konsultan bisnis yang difasilitasi BRI, label kemasan disesuaikan dengan standar internasional, termasuk informasi nutrisi dan sertifikasi bebas gluten. Negara tujuan pertama adalah Malaysia, lalu menyusul Thailand dan Australia. Di Australia, produk ini diterima dengan baik oleh komunitas pencinta gaya hidup sehat dan penderita celiac disease. Keberhasilan ini mendorong Lince untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Dampak Ekonomi dan Pemberdayaan Komunitas

Keberhasilan Sahate bukan hanya milik Lince. Ia kini memberdayakan sekitar 20 ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya untuk membantu proses produksi, serta menjalin kemitraan dengan petani beras lokal yang menerapkan pertanian organik. Rantai pasok ini menciptakan nilai tambah berlipat: petani mendapatkan harga lebih baik, perempuan mendapatkan pendapatan tambahan, dan konsumen global memperoleh produk sehat. Model ini selaras dengan semangat ekonomi kerakyatan yang diusung BRI.

Di sisi lain, tantangan tetap ada. Persaingan dengan merek global yang sudah mapan menjadi ujian berat. Namun, dengan strategi diferensiasi melalui bahan baku unik—beras lokal yang memiliki cita rasa khas—Sahate percaya diri mampu mempertahankan keunikan.

Prospek dan Inovasi Mendatang

Ke depan, Lince berencana merambah varian rasa berbasis rempah-rempah Indonesia, seperti kayu manis dan serai, untuk semakin menonjolkan identitas lokal. Ia juga tengah mengeksplorasi pasar Timur Tengah yang memiliki permintaan tinggi akan produk gluten-free. Dukungan berkelanjutan dari BRI, termasuk akses pembiayaan usaha mikro dengan bunga rendah, menjadi modal penting untuk mewujudkan rencana itu.

Kisah Sahate menjadi bukti bahwa inovasi dari dapur rumahan mampu menembus batas negara, asalkan didukung ekosistem yang tepat. Kolaborasi antara UMKM dan perbankan seperti BRI bukan sekadar penyaluran kredit, melainkan pendampingan holistik yang mendorong daya saing global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User