Fenomena mistis berbentuk pocong kembali melaporkan diri ke berbagai wilayah di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Masyarakat di beberapa daerah melaporkan kehadiran makhluk berbalut kain kafan putih itu, yang seolah berbarengan dengan rilis data ekonomi terbaru yang menunjukkan perlambatan signifikan.
Jejak Sejarah: Pocong dan Krisis
Catatan folklore dan berita di Indonesia mengisyaratkan bahwa kemunculan pocong seringkali meningkat pada saat negara menghadapi tekanan ekonomi. Pada tahun 1998, saat krisis moneter melanda, kisah-kisah pocong merebak di berbagai media lokal. Demikian pula pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020, ketika banyak orang kehilangan pekerjaan, cerita tentang penampakan pocong kembali menghiasi obrolan warung kopi dan media sosial. Antropolog dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Maharani, menilai bahwa fenomena ini bukan sekadar isapan jempol belaka.
"Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi, masyarakat cenderung mencari penjelasan alternatif atas kecemasan mereka. Pocong sebagai simbol kematian dan ketidakberdayaan dapat merepresentasikan perasaan terperangkap dan tak berdaya yang dialami banyak orang," ujarnya.
Kondisi Ekonomi Terkini
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan II-2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 3,8 persen secara year-on-year, turun dari 4,2 persen pada triwulan sebelumnya. Inflasi inti tetap bertahan di angka 5,1 persen, sementara harga pangan bergejolak akibat gangguan cuaca dan rantai pasok. Angka pengangguran terbuka naik menjadi 6,9 persen dari sebelumnya 6,2 persen. Bank Indonesia juga mencatat adanya capital outflow yang signifikan dari pasar obligasi domestik, menekan nilai tukar rupiah hingga melewati Rp16.500 per dolar AS pada awal Juli.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) anjlok ke level 82,3, level terendah dalam empat tahun terakhir, yang mencerminkan pesimisme rumah tangga. Sementara itu, sektor manufaktur menunjukkan kontraksi dengan Purchasing Managers' Index (PMI) di bawah 50 poin selama tiga bulan berturut-turut.
Pocong Sebagai Cermin Keresahan Kolektif
Psikolog sosial, Dr. Andi Nugroho, menjelaskan bahwa fenomena pocong dapat dibaca sebagai proyeksi ketakutan kolektif. "Ketika kondisi ekonomi memburuk, rasa aman hilang. Pikiran bawah sadar memunculkan sosok menakutkan yang mudah dikenali oleh khalayak. Pocong, dengan ikatan kafannya, melambangkan keterikatan pada masalah yang tak mudah lepas," katanya. Di sisi lain, sebagian pengamat melihat bahwa kemunculan kembali isu hantu ini juga dipicu oleh algoritma media sosial yang memperkuat konten viral, sehingga menimbulkan histeria massal tanpa dasar empiris.
Namun, para ulama dan tokoh adat mengingatkan agar masyarakat tidak terlalu hanyut dalam takhayul. "Kita harus memisahkan antara urusan gaib yang memang ada dalam ajaran agama dengan reaksi psikologis akibat tekanan hidup. Kalau ekonominya sulit, ya ikhtiar, bukan malah takut pocong," kata KH. Abdullah Syafi'i, pengasuh pondok pesantren di Cirebon.
Dua Sisi Mata Uang
Di satu sisi, merebaknya cerita pocong bisa menjadi peringatan dini bagi pemerintah bahwa kesejahteraan rakyat sedang terancam. Ketakutan yang termanifestasi dalam wujud hantu bisa menjadi indikator kesehatan mental masyarakat yang perlu ditangani lewat program konseling dan bantuan sosial. Di sisi lain, isu ini dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk mengalihkan perhatian dari akar permasalahan ekonomi struktural. Alih-alih menuntut perbaikan kebijakan, energi masyarakat terbuang untuk diskusi spekulatif tentang penampakan gaib.
Ekonom senior dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Bambang Purnomo, menegaskan bahwa korelasinya tidak langsung namun signifikan.
"Setiap kali data makro memburuk, kita sering melihat lonjakan pemberitaan tentang hal-hal irasional. Ini mencerminkan tingkat stres publik yang tinggi. Pemerintah harus membaca sinyal ini dengan serius," tegasnya.
Laporan-laporan terbaru menyebutkan bahwa di Kabupaten Bogor, warga mengaku melihat pocong di area persawahan yang beberapa bulan terakhir mengalami gagal panen akibat kemarau panjang. Di Surabaya, video amatir tentang pocong di bekas pabrik yang tutup karena efisiensi menjadi viral. Semua ini menambah warna suram di tengah langit ekonomi yang tengah kelabu.
Sementara itu, Satuan Tugas Penanganan Masalah Sosial Budaya dari Kementerian Sosial sedang melakukan pendekatan ke komunitas-komunitas yang resah. "Kami tidak bisa melarang orang bercerita, tapi kami ingin memastikan bahwa mereka juga mendapat akses bantuan ekonomi dan dukungan psikologis," ujar juru bicara kementerian.
Fenomena pocong yang mewabah saat ekonomi sulit sesungguhnya bukanlah kisah baru. Namun, ia selalu datang dengan wajah yang sama: mengingatkan bahwa di balik angka-angka statistik, ada manusia yang ketakutan, putus asa, dan mencari pegangan. Tugas bersama untuk kembali menghidupkan denyut ekonomi dan memberikan kepastian agar malam-malam warga tak lagi dihantui, baik oleh kemiskinan maupun oleh bayangan kain kafan.
Comments (0)